Kuartal III Kinerja BTN Tetap Tumbuh, Ini Pendongkraknya

Kompas.com - 07/12/2020, 09:13 WIB
Direktur Utama BTN Pahala Nugraha Mansury KOMPAS.com/RINA AYU LARASATIDirektur Utama BTN Pahala Nugraha Mansury

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk masih memperoleh laba bersih senilai Rp 1,12 triliun di kuartal III 2020. Laba ini melesat 39,72 persen secara tahunan dari Rp 801 miliar.

Laba tumbuh di tengah fenomena susutnya perolehan pendapatan bank nasional karena harus memupuk pencadangan di tengah pandemi Covid-19.

Direktur Utama BTN Pahala Nugraha Mansury mengatakan, kinerja BTN tak dipungkiri juga terdampak pandemi Covid-19. Para bankir perlu memutar otak dan mengatur strategi untuk melaju di tengah krisis.

Baca juga: BRI Raup Laba Rp 14,12 Triliun di Kuartal III 2020

Untuk tetap bertahan, Pahala mengungkap sejumlah faktor yang membuat kinerja bank yang dipimpinnya masih dapat tumbuh pada kuartal III 2020. Salah satunya adalah karena sektor perumahan yang menjadi core business BTN, merupakan sektor yang bangkitnya cukup baik.

"Terutama perumahan merupakan kebutuhan dasar karena di Indonesia, rasio sektor perumahan dari PDB nasional hanya sebesar 3 persen sehingga masih menjadi kebutuhan dasar masyarakat,” kata Pahala dalam siaran pers, Senin (7/12/2020).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor real estate masih dapat tumbuh 2,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2020. Artinya kata Pahala, sektor perumahan masih mampu menjadi penggerak perekonomian nasional di tengah efek pandemi Covid-19.

Di samping itu, Bank BTN sebagai penyedia jasa keuangan merupakan sektor yang tergolong moderat kemungkinan pemulihannya sehingga memerlukan waktu antara 1-2 tahun.

“Bank BTN cukup beruntung, karena kita fokus pada perumahan. Memang ada fase di mana terjadi penurunan penyaluran kredit pada bulan April namun sudah mengalami recovery signifikan pada beberapa bulan terakhir,” sebutnya.

Pahala tidak menampik pada masa pandemi Covid-19, perbankan dihadapkan oleh sejumlah risiko yang disebabkan penurunan pendapatan masyarakat (debitur) di antaranya risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas.

Risiko kredit menjadi yang pertama karena sektor riil dan sektor UMKM mengalami penurunan sehingga berdampak pada kemampuan bayar debitur terhadap perbankan.

Bank bersandi saham BBTN ini menjadikan momentum untuk melakukan perbaikan mulai dari kebijakan, business process, dan layanan kepada nasabah.

“Bank BTN beruntung karena 75 persen bisnisnya di segmen KPR, sekarang tinggal bagaimana kita memperbaiki business process, krisis ini menjadi momentum yang tepat untuk kita memperbaiki policy, termasuk policy risk, dan kepuasan nasabah kita tingkatkan sambil upgrading infrastruktur digital," pungkasnya.

Baca juga: Di Tengah Pandemi, Laba BTN Tembus 39 Persen Capai Rp 1,12 Triliun

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.