Menilik Peluang Cuan Jelang Window Dressing

Kompas.com - 07/12/2020, 16:00 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018).
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Window dressing merupakan sebuah fenomena di pasar modal dengan kecenderungan harga saham yang meningkat dan terjadi pada akhir tahun. Ini artinya, ada peluang tersembunyi bagi Anda untuk memperoleh cuan dari investasi reksa dana atau saham.

Window dressing nyatanya tidak hanya terjadi di pasar saham untuk menarik investor. Misalkan saja di dunia usaha sering dijumpai diskon akhir tahun untuk meningkatkan pembelian sebuah produk, guna menggenjot pendapatan di akhir tahun.

Adapun tujuan dari bentuk window dressing tersebut adalah memperoleh kinerja gemilang di penutupan tahun. Apalagi, seperti diketahui dari awal kuartal pertama, pandemi Covid-19 mengguncang beragam sektor usaha.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Mino mengatakan, tujuan utama dari window dressing adalah untuk mempercantik kinerja portofolio dan dilakukan oleh para fund manager.

Baca juga: Berawal dari Tugas Kampus, Brand Tas Asal Bandung Ini Sudah Sampai Las Vegas

Mino menyarankan untuk menangkap peluang cuan dari masa window dressing, investor harus memilih saham dengan fundamental yang baik.

“Oleh karena itu untuk menangkap peluang cuan dari momen ini belilah saham-saham big cap yang mempunyai propek fundamental yang baik dan tingkat pengembalian di pasar saham masih ketinggalan (lagging),” kata Mino kepada Kompas.com, Senin (7/12/2020).

Lagging merupakan, indikator yang menunjukkan keterlambatan dalam proses pemberian sinyal beli dan sinyal jual.

Mino mengatakan, ada beberapa sektor yang masih cemerlang hingga akhir tahun untuk dikoleksi. Misalkan saja sektor infrstruktur, aneka industri, perkebunan dan properti.

Sektor tersebut merupakan sektor yang mulai bangkit setelah mengalami keterpurukan saat awal pandemi Covid-19.

“Saat ini ada beberapa sektor yang masih lagging atau ketinggalan seperti sektor infrastruktur (TLKM, EXCL), aneka industri (ASII) , perkebunan (AALI, SIMP) dan properti (PWON, WIKA, BSDE),” kata dia.

Baca juga: Daftar 5 Perusahaan Asing Pemasok Vaksin Corona di RI



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X