Vaksin Corona Bikin Saham EMiten Farmasi Melesat, Bagaimana Investor Mesti Bersikap?

Kompas.com - 07/12/2020, 19:37 WIB
Gedung Kimia Farma di Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat, Senin (24/10/2016). Gedung Kimia Farma dulunya adalah rumah pemujaan yang dipakai Loji La Vertueuse. Gedung seluas 20x27 meter dirancang oleh insinyur belanda J Tromp yang juga Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Gedung-gedung Negeri. KOMPAS/HENDRA A SETYAWANGedung Kimia Farma di Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat, Senin (24/10/2016). Gedung Kimia Farma dulunya adalah rumah pemujaan yang dipakai Loji La Vertueuse. Gedung seluas 20x27 meter dirancang oleh insinyur belanda J Tromp yang juga Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Gedung-gedung Negeri.

JAKARTA, KOMPAS.com - Angin segar datang dari penanganan kasus Covid-19 di tanah air. Kemarin, Minggu (6/12/2020), Indonesia mendatangkan 1,2 juta dosis vaksin produksi Sinovac asal China.

Saat ini, vaksin tersebut disimpan di Kantor Pusat PT Bio Farma (Persero) di Bandung, Jawa Barat. Kedatangan vaksin ini turut mendorong kenaikan harga saham emiten farmasi.

Melansir RTI, hari ini tiga emiten yang berkaitan dengan farmasi menjadi pengisi puncak klasemen saham dengan kenaikan tertinggi. Bahkan, ketiga saham ini kompak terkena auto rejection di akhir perdagangan hari ini.

Baca juga: Jaga Momentum Positif Kedatangan Vaksin, BI Sarankan Hal Ini

Ketiga saham tersebut adalah PT Kimia Farma Tbk (KAEF) melesat 24,79 persen ke level Rp 4.430, saham Indofarma Tbk (INAF) melesat 24,78 persen ke level Rp 4.230, dan saham PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) melesat 24,68 persen ke level Rp 1.440.

Sejak awal tahun, saham-saham ini juga sudah naik gila-gilaan. Saham KAEF misalnya, sudah naik 254,40 persen sejak awal tahun sementara saham IRRA sudah naik 121,54 persen sejak awal tahun.

Saham INAF bahkan lebih fantastis lagi. Sejak awal tahun atau secara year-to-date, saham BUMN ini melesat hingga 386,21 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso menilai, kenaikan yang terjadi pada saham sektor farmasi disebabkan saham sektor ini mendapatkan momentum jangka pendek. Saham emiten farmasi pun bisa dimanfaatkan untuk perdagangan selama masih ada optimisme pasar.

“Sesungguhnya secara harga sekarang sudah tidak murah lagi,” terang Aria kepada Kontan.co.id, Senin (7/12/2020).

Aria menyarankan, bagi investor yang ingin melakukan investasi bisa memperhatikan sektor lainnya yang masih murah.

Baca juga: Pemerintah Gelontorkan Rp 637 Miliar untuk Pengadaan 3,1 Juta Dosis Vaksin Covid-19

 

Menurut Aria, sektor properti masih bisa dijadikan alternatif pilihan investasi dengan kondisi saat ini dimana era suku bunga sudah cukup rendah. Secara sektoral, indeks sektor properti, real estate, dan konstruksi masih memberi return -23,54 persen sejak awal tahun.

Sementara Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, investor bisa menunggu momentum terjadinya koreksi atau langsung melakukan pembelian di current price. Jika terjadi koreksi pun William menilai tidak akan terlalu jauh.

Sementara itu, saham sektor lainnya pun hampir semuanya bisa menjadi perhatian pelaku pasar. “Karena anggapannya semua akan pulih sesudah vaksinasi,” terang William.

 

Berita ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Vaksin corona bikin saham emiten farmasi melejit, bagaimana investor mesti bersikap?



Sumber
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X