Investor Saham, Perhatikan Hal-hal Ini agar Tak Jadi Korban Penipu

Kompas.com - 11/12/2020, 12:40 WIB
Ilustrasi penipuan online Dok. ShutterstockIlustrasi penipuan online

JAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah investor saham di masa pandemi tumbuh signifikan. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang terbaru memperlihatkan jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 19 November 2020 sudah mencapai 1,5 juta dan khusus pada masa pandemi Covid-19 terjadi penambahan 417.366 Single Investor Identification (SID) atau naik sebesar 28 persen sepanjang 2020.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan, investasi saham menjadi pilihan investasi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia di tengah ancaman pandemi Covid-19.

Minta masyarakat Indonesia untuk berinvestasi saham yang terus meningkat ini ditopang oleh kemudahan dan keterjangkauan modal dalam investasi saham.

Baca juga: Ini Beda Investor China Dibanding Jepang di Mata Kepala BKPM

Namun, di tengah kemudahan investasi saham yang sudah bisa dilakukan secara online berbasis aplikasi dengan smartphone dan keterjangkauan modal investasi, investor saham perlu mewaspadai berbagai modus penipuan yang kini mengintai.

"Modus penipuan yang mengincar investor saham semakin canggih dan beragam dengan sasaran investor-investor baru di daerah. Ada berbagai modus penipuan yang menargetkan para investor saham," kata Head of Marketing PT Indo Premier Sekuritas, Paramita Sari di Jakarta, Jumat (11/12/2020).

Paramita mengatakan, awalnya sasaran utama para penipu adalah membobol akun para investor dan mengincar username, password dan secure PIN yang sifatnya pribadi atau personal.

Para pelaku penipuan kemudian menghubungi korban dengan mengaku sebagai karyawan resmi perusahaan sekuritas yang meminta username, password, secure PIN, dan data pribadi penting lainnya.

Padahal, data-data ini sifatnya pribadi dan tidak boleh diketahui pihak lain dan kebanyakan perusahaan sekuritas yang terpercaya tidak pernah meminta hal-hal itu karena sifatnya pribadi.

Tak hanya berhenti di situ, modus penipuan pun memiliki wajah baru dengan menduplikasi akun-akun resmi Instagram (IG) sekuritas yang sudah centang biru dengan akun-akun palsu yang secara tampilan dan isi sama persis.

"Mereka awalnya mem-follow akun-akun yang baru bergabung. Penipu bertindak seolah-olah ingin memberikan bantuan atau pertolongan dengan meminta data-data pribadi, mulai nomor telepon, hingga meminta foto ATM yang ujung-ujungnya juga melakukan penipuan dengan meminta korban mentransfer sejumlah uang ke rekening,” jelas dia.

Paramita mengimbau para investor dan calon untuk semakin waspada dengan berbagai modus penipu di tengah pandemi Covid-19 yang membuat banyak orang menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan.

"Edukasi terkait ancaman nyata para penipu ini perlu digencarkan untuk diketahui secara luas oleh investor dan calon investor biar tidak ada korban-korban baru," tambah dia.

Ia pun mengingatkan investor dan calon investor IPOT untuk makin waspada dan hati-hati. Ketika menemukan kejanggalan atau mengalami kendala tertentu terkait investasi saham, sebaiknya segera menghubungi call center resmi atau channel layanan lainnya seperti email dan akun resmi medsos bercentang biru serta yang terpenting selalu menjaga kerahasiaan data-data yang sifatnya personal.

Baca juga: BEI Catat Jumlah Investor Pasar Modal Naik 42 Persen pada 2020



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X