Kinerja Ekspor Impor Cemerlang, Roda Ekonomi Mulai Pulih?

Kompas.com - 16/12/2020, 07:33 WIB
Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (5/2/2020). KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYAKepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik ( BPS) melaporkan, neraca perdagangan Indonesia pada November 2020 mengalami surplus sebesar 2,6 miliar dollar AS.

Ini menunjukkan Indonesia untuk ketujuh kalinya mencatatkan kinerja neraca perdagangan surplus.

Berbeda dari surplus yang terjadi pada bulan-bulan lalu, kali ini surplus terjadi karena kinerja ekspor mengalami kenaikan, baik secara bulanan (month to month/mtm) maupun bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year).

Baca juga: China Masih Dominasi Impor RI, Salah Satunya Komoditas Bawang Putih

Laju impor pun secara bulanan mengalami pertumbuhan, meski secara tahunan masih menurun.

"Harus disampaikan surplus ini menggembirakan karena ini terjadi karena ada kenaikan ekspor yang meningkat baik month to month maupun year on year, sementara impor juga meningkat secara month to month meski secara year on year masih menurun," jelas Suhariyanto ketika memberikan paparan secara virtual, Selasa (15/12/2020).

Data BPS menunjukkan, ekspor mencapai 15,28 miliar dollar AS atau naik 6,36 persen secara bulanan (mtm) dan impor sebesar 12,66 miliar dollar AS atau naik 17,4 persen (mtm).

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, impor masih mengalami kontraksi atau penurunan 17,46 persen (yoy). Sementara ekspor mulai meningkat 9,54 persen (yoy).

Pertumbuhan ekspor, menurut Suhariyanto, terjadi karena ada peningkatan permintaan global, terutama di negara-negara tujuan ekspor Indonesia.

Baca juga: Nilai Ekspor November Capai 15,28 Miliar Dollar AS, Tertinggi sejak 2018

Kenaikan permintaan pun didukung dengan harga komoditas ekspor utama yang juga naik pada November ini.

"Misal lemak dan minyak hewan nabati meningkat 15,4 persen, harga sawit juga naik tinggi sehingga nilai juga meningkat," ujar Suhariyanto.

"Untuk bahan bakar mineral ekspor ke China juga tinggi, 14,9 persen, harga batu bara juga naik 27,1 persen," jelas dia.

Kenaikan permintaan tersebut terjadi lantaran roda industri di beberapa negara mulai berputar usai terpukul oleh pandemi Covid-19.

Misalnya saja China, yang indeks manufaktur atau PMI-nya sudah di atas 50 atau mengalami ekspansi pada periode November 2020.

"Jadi ini bukan seasonal, tapi memang negara tujuan utama kita, PMI manufakturnya sudah di atas 50 dan membutuhkan banyak barang dari Indonesia," ujar Suhariyanto.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Apa Itu APBD, Fungsi, dan Tujuan Pembuatannya

Mengenal Apa Itu APBD, Fungsi, dan Tujuan Pembuatannya

Whats New
Apa Itu APBN: Definisi, Fungsi, dan Tujuan Penyusunannya

Apa Itu APBN: Definisi, Fungsi, dan Tujuan Penyusunannya

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Sulitnya Adopsi Kucing | Ketika Kucing Susah Makan | Memberi Kenyamanan untuk Kucing di Rumah

[KURASI KOMPASIANA] Sulitnya Adopsi Kucing | Ketika Kucing Susah Makan | Memberi Kenyamanan untuk Kucing di Rumah

Rilis
Peserta Pelatihan Kemenaker Dijanjikan Dapat Modal Usaha dari PNM

Peserta Pelatihan Kemenaker Dijanjikan Dapat Modal Usaha dari PNM

Work Smart
Kemendag Sebut Harga Tahu dan Tempe Masih Stabil di Maret 2021

Kemendag Sebut Harga Tahu dan Tempe Masih Stabil di Maret 2021

Rilis
Dongkrak Bisnis Kargo, AP I Gandeng Asosiasi Logistik

Dongkrak Bisnis Kargo, AP I Gandeng Asosiasi Logistik

Rilis
Mulai Berlaku Hari ini, Simak Ketentuan Diskon PPN Rumah

Mulai Berlaku Hari ini, Simak Ketentuan Diskon PPN Rumah

Whats New
Curah Hujan Tinggi dan Banjir Jadi Ancaman Produksi Padi di 2021

Curah Hujan Tinggi dan Banjir Jadi Ancaman Produksi Padi di 2021

Whats New
Sanksi Pidana Penggunaan Lahan di Kawasan Hutan Diganti Denda Administratif, Ini Respons Asosiasi Sawit

Sanksi Pidana Penggunaan Lahan di Kawasan Hutan Diganti Denda Administratif, Ini Respons Asosiasi Sawit

Whats New
Sri Mulyani Gelontorkan Rp 7,99 Triliun Untuk Diskon PPnBM Mobil dan PPN Properti

Sri Mulyani Gelontorkan Rp 7,99 Triliun Untuk Diskon PPnBM Mobil dan PPN Properti

Whats New
Petani Sawit: PP Kehutanan Terbaru Bakal Ganggu Produksi Biodiesel

Petani Sawit: PP Kehutanan Terbaru Bakal Ganggu Produksi Biodiesel

Whats New
Rumah Seharga Rp 2 Miliar Hingga Rp 5 Miliar Dapat Diskon PPN 50 Persen

Rumah Seharga Rp 2 Miliar Hingga Rp 5 Miliar Dapat Diskon PPN 50 Persen

Whats New
OJK Temukan 51 Pinjol Ilegal, Ini Daftarnya

OJK Temukan 51 Pinjol Ilegal, Ini Daftarnya

Whats New
Pemerintah Lelang SUN Besok, Ini Imbal Hasil yang Ditawarkan

Pemerintah Lelang SUN Besok, Ini Imbal Hasil yang Ditawarkan

Earn Smart
Menkop UKM Dorong Pemberdayaan Tambak Udang Melalui Koperasi dan Kemitraan

Menkop UKM Dorong Pemberdayaan Tambak Udang Melalui Koperasi dan Kemitraan

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X