Diminta Cegah Perokok Anak, Aprindo Klaim Sudah Batasi Pembelian Rokok

Kompas.com - 16/12/2020, 13:55 WIB
Ilustrasi rokok tembakau, konsumsi tembakau. SHUTTERSTOCK/Maren WinterIlustrasi rokok tembakau, konsumsi tembakau.

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengklaim sudah membatasi pembelian rokok untuk anak di bawah usia 18 tahun di ritel anggota Aprindo.

Klaim tersebut menyusul kampanye Cegah Perokok Anak yang diinisiasi oleh Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) dan pemerintah.

Pemerintah sudah memasukkan agenda penurunan prevalensi merokok anak di bawah umur dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024.

Baca juga: Pemerintah Tekan Konsumsi Rokok bagi Remaja, Pengusaha: Itu Konsekuensi Bisnis

"Kami sambut baik (inisiatif ini). Peritel moderen telah menerapkan pembatasan pembeli rokok di gerai," kata Ketua Umum DPP Aprindo, Roy N. Mandey dalam konferensi virtual, Rabu (16/12/2020).

Roy menuturkan, peritel yang tergabung dalam Aprindo sudah membatasi pembeli. Caranya dengan meletakkan rokok di rak-rak tertentu, umumnya di rak dekat kasir minimarket.

Di supermarket, peletakan produk-produk rokok satu klaster dengan minuman beralkohol (minol). Pembayarannya pun menggunakan kasir terpisah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ini bagian dari penerapan semangat kita. Kami tempatkan di rak tertentu dengan tujuan untuk mengetahui siapa pembelinya, siapa yang mengonsumsi rokok. Kasir tidak mengizinkan yang berseragam sekolah membeli rokok," ujar Roy.

Namun Roy menegaskan, pelaku usaha yang tergabung dalam Aprindo adalah peritel moderen. Artinya perlu imbauan khusus bagi pedagang kecil di sekitar rumah agar penurunan konsumsi rokok untuk anak usia di bawah umur bisa lebih masif.

Baca juga: Pada 2021, Tarif Baru Meterai Berlaku dan Cukai Rokok Naik 12,5 Persen

Kontribusi penjualan rokok di minimarket masih lebih kecil dibanding pedagang eceran. Sebelum pandemi, rata-rata kontribusi rokok di gerai-gerai moderen terhadap retail sales sebesar 0,41-0,5 persen. Namun saat pandemi, jumlahnya kian menurun menjadi 0,24-0,3 persen.

"Ini pentingnya sosialisasi. Bagaimana keterkaitannya dengan peraturan yang berlaku. Tapi kami (Aprindo) siap komunikasi, siap kampanye bersama. Apakah akan dibuatkan stiker, banner, atau apapun untuk mendukung gerakan, kami siap saja," tuturnya.

Lebih lanjut dia menuturkan, beragam kampanye harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi digital di masa new normal.

"Upgrade cara-cara kampanye yang dulu sebelum pandemi sebagai bagian dari adaptasi kebiasaan baru. Bagaimana kita sosialisasikan ini? Kita bicara dengan Pemerintah Daerah dan K/L yang ada dalam lingkaran. Sosialisasi dibuat dalam bentuk komunikatif," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.