Libur Nataru, AP I Catat Lonjakan Jumlah Penumpang Pesawat

Kompas.com - 30/12/2020, 19:03 WIB
Ilustrasi: Suasana pintu keberangkatan di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Senin (14/5/2018) siang pukul 14.33 WIB. KOMPAS.com/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIAIlustrasi: Suasana pintu keberangkatan di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Senin (14/5/2018) siang pukul 14.33 WIB.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Angkasa Pura I (Persero) mencatat terjadi lonjakan penumpang di 15 bandara saat liburan Natal dan Tahun Baru 2020.

Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi menyebut, ada sekitar 1,23 juta penumpang yang berhasil terangkut dari 15 bandara yang dikelola AP I selama musim libur tersebut.

Jumlah penumpang yang berhasil terangkut sempat melonjak pada tanggal 23-24 Desember 2020 dengan total mencapai 123.000/hari di 15 bandara.

Baca juga: Didorong Nataru, Pengguna Pesawat Sudah 45 Persen dari Kondisi Normal

"Jadi kalau kita melihat dari kondisi sampai dengan tanggal 29 Desember, jumlah penumpang yang berhasil terangkut di 15 Bandara Angkasa Pura I sekitar 1.230.488 orang," kata Faik dalam konferensi video, Rabu (30/12/2020).

Faik menuturkan, ada 3 bandara yang paling banyak mengangkut penumpang pada momen Nataru tanggal 18-29 Desember 2020 kali ini. Namun, Bali bukan lagi menjadi yang pertama.

Saat Nataru di masa pandemi, Bandara Sultan Hasanuddin justru menempati posisi pertama dengan jumlah penumpang yang terangkut sebanyak 259.418 per hari. Kemudian diikuti oleh Bandara Juanda Surabaya sekitar 226.041 penumpang, dan I Gusti Ngurah Rai Denpasar sebesar 150.495 penumpang.

"Biasanya Denpasar melayani traffic tertinggi. Tapi memang karena tidak ada penerbangan internasional, jadi kondisinya tidak lebih baik dari Ujung Pandang dan Surabaya," sebutnya.

Faik bilang, padatnya penumpang sempat membuat antrean rapid test antigen mengular di hari-hari pertama kebijakan tersebut berlaku, sekitar tanggal 17-18 Desember 2020.

Pasalnya, banyak masyarakat yang belum mengetahui ketentuan rapid test antigen tersebut. Pun banyak warga yang datang ke bandara untuk melakukan rapid test, meski tidak menggunakan jasa maskapai manapun.

Alasannya, rapid test di bandara jauh lebih murah, berkisar Rp 170.000. Sedangkan di tempat lain masih dibanderol Rp 400.000 - Rp 500.000.

"Ini yang menimbulkan penumpukan. Agar tidak terjadi penumpukan, saya minta pengaturan ulang, area tunggu disesuaikan dengan penumpang yang datang, dan menambah jumlah titik pemeriksaan," pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X