Sepanjang 2020, Sektor Properti Menyumbang Pelemahan Terbesar ke IHSG

Kompas.com - 30/12/2020, 20:45 WIB
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah Covid-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (28/4/2020). ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAKaryawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah Covid-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (28/4/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com – Dalam setahun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak cukup volatile didorong oleh kondisi pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal tahun. Pada penghujung tahun ini, IHSG ditutup negatif dengan penurunan 0,95 persen pada level 5.979,07.

Secara Year to Date IHSG mengalami pelemahan 5,09 persen, di mana sektor properti merupakan penyumbang pelemahan IHSG paling besar sepanjang tahun 2020.

“Sektor properti (harga saham) minus 21,23 persen,” kata Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji melalui pesan singkat, Rabu (30/12/2020).

Baca juga: Perdagangan Resmi Tutup Tahun, IHSG Melemah ke Level 5.979,07

Beberapa emiten properti yang secara tahunan harga sahamnya mengalami penurunan antara lain, Summarecon Agung (SMRA) yang turun 19,9 persen dengan harga penutupan hari ini Rp 188 per saham. Pakuwon Jati (PWON) juga terkoreksi 10,53 persen di level Rp 510, dan Lippo Karawaci (LPKR) juga merosot 11,5 persen, yakni Rp 214.

Sementara itu, sektor properti yang harga sahamnya cukup baik antara lain Alam Sutra Reality (ASRI) secara tahunan naik 1,6 persen dengan harga per saham Rp 242. Demikian juga Agung Podomoro (APLN) yang naik 6,21 persen atau Rp 118 per saham.

Adapun sektor lain yang menyumbang pelemahan IHSG di akhir tahun, adalah sektor infrastruktur yang turun 12,3 persen, disusul oleh consumer goods dengan penurunan 11,4 persen dan manufaktur 10,1 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Perdagangan Resmi Tutup Tahun, IHSG Melemah ke Level 5.979,07

Sementara itu, sektor yang menguat sepanjang tahun 2020 adalah sektor mining, menyumbang 22,9 persen. Ada juga sektor agri yang tumbuh positif, namun cukup tipis 0,2 persen.

Nafan mengatakan, pelemahan IHSG di penutup tahun 2020 ini juga terdorong oleh sentimen negatif dari munculnya varian baru Covid-19 dan juga data-data makro ekonomi yang masih belum mampu memberikan dampak positif ke pasar.

“Pelemahan IHSG dibayangi oleh sentimen negatif daria danya mutasi ataupun varian baru Covid-19. Di sisi lain, kasus Covid-19 terus bertambah. Sementara itu, data-data makro ekonomi domestik maupun global masih belum memberikan high impact yang positif,” jelas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.