Tren Harga Emas yang Menguat Diproyeksi Belum Surut

Kompas.com - 06/01/2021, 13:07 WIB
Ilustrasi emas batangan SHUTTERSTOCKIlustrasi emas batangan

JAKARTA, KOMPAS.com - Emas yang menjadi incaran investor saat pandemi Covid-19 nampaknya belum akan surut di tahun 2021, meski vaksin Covid-19 sudah mulai didistribusikan termasuk di Indonesia.

Analis Central Capital Futures Wahyu Laksono memproyeksi, tren harga emas masih akan sama seperti tahun 2020. Selain karena faktor reflationary trade, emas merupakan aset safe haven yang saat krisis dicari investor.

Investor masih akan memarkirkan dananya di logam mulia ini karena masih muncul kecemasan akibat Covid-19 di samping terus melemahnya indeks dollar AS.

Baca juga: Harga Emas Kembali Naik, Ini Pendorongnya

"Jelas untuk 2021, isunya masih masih hampir sama. Semua tentu didasarkan oleh kenaikan harga emas, yang dipicu oleh reflationary trade, aset safe haven karena kecemasan global, dan ke depan masih akan kuat ekspektasi harganya," kata Wahyu kepada Kompas.com, Rabu (6/1/2021).

Faktanya, pelemahan indeks dollar AS memicu kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Februari di Divisi COMEX New York Exchange, ditutup naik 7,8 dollar AS atau 0,4 persen pada 1.954,40 dollar AS per ounce.

Di dalam negeri, harga emas Antam hari ini kembali menguat ke Rp 981.000 per gram setelah naik Rp 6.000.

Memang, kata Wahyu, isu penemuan vaksin bisa jadi menahan laju emas secara jangka pendek. Namun, vaksin bukan alasan fundamental yang mampu mengubah arah laju emas dunia.

Baca juga: Naik Rp 6.000, Ini Daftar Harga Emas Antam 0,5 Gram hingga 1 Kg

Lokomotif utamanya tetap berada pada arah kebijakan bank sentral AS dan stimulus fiskal yang utamanya digulirkan oleh pemerintah AS, Eropa, dan China.

"Dalam medium dan long term (jangka menengah dan panjang), emas akan selalu kembali kepada isu Fed policy (kebijakan The Fed) yang sangat akomodatif dan pro pelemahan dollar AS," ungkap Wahyu.

Selain stimulus yang dikucurkan negara tersebut, Presiden Joe Biden sudah punya segudang agenda yang memicu defisit anggaran lebih dalam.

Tindakan ini membuka jalan bagi The Fed untuk maju mengambil kebijakan yang akomodatif. Kebijakan The Fed lebih lanjut akan menekan dollar AS yang mendukung pergerakan positif emas dunia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Zoom Kucurkan 100 Juta Dollar ke Aplikasi yang yang Gunakan Teknologinya

Zoom Kucurkan 100 Juta Dollar ke Aplikasi yang yang Gunakan Teknologinya

Whats New
PTPN III Rampungkan Proses Restrukturisasi Senilai Rp 41 Triliun

PTPN III Rampungkan Proses Restrukturisasi Senilai Rp 41 Triliun

Rilis
Bank Hana Fasilitasi Green Loan Chandra Asri Sebesar Rp 188,5 Miliar

Bank Hana Fasilitasi Green Loan Chandra Asri Sebesar Rp 188,5 Miliar

Whats New
AP I Catat Jumlah Penumpang Pesawat Capai 6,12 Juta di Kuartal I-2021

AP I Catat Jumlah Penumpang Pesawat Capai 6,12 Juta di Kuartal I-2021

Whats New
Adaro Energy Jajaki Lini Bisnis ke Sektor Energi Hijau

Adaro Energy Jajaki Lini Bisnis ke Sektor Energi Hijau

Whats New
Ingin Jadi Agen Frozen Food Fiesta? Simak Cara Daftar dan Persyaratannya

Ingin Jadi Agen Frozen Food Fiesta? Simak Cara Daftar dan Persyaratannya

Smartpreneur
Siap-siap, Transaksi Mata Uang Kripto Bakal Kena Pajak

Siap-siap, Transaksi Mata Uang Kripto Bakal Kena Pajak

Whats New
Cerita Boy Thohir, Bos Adaro yang Pernah Masuk ICU 11 Hari karena Covid-19

Cerita Boy Thohir, Bos Adaro yang Pernah Masuk ICU 11 Hari karena Covid-19

Whats New
Mengenal Zakat Mal: Pengertian, Hukum, dan Cara Menghitungnya

Mengenal Zakat Mal: Pengertian, Hukum, dan Cara Menghitungnya

Whats New
Neraca Perdagangan Surplus Karena UMKM Ekspor Terus Tumbuh

Neraca Perdagangan Surplus Karena UMKM Ekspor Terus Tumbuh

Whats New
OJK Minta Perusahaan Asuransi Selesaikan Aduan Nasabah terkait Unitlink

OJK Minta Perusahaan Asuransi Selesaikan Aduan Nasabah terkait Unitlink

Whats New
Dari 64,2 Juta UMKM di Indonesia, Baru 13 Persen yang Telah Lakukan Digitalisasi

Dari 64,2 Juta UMKM di Indonesia, Baru 13 Persen yang Telah Lakukan Digitalisasi

Whats New
Menaker: Belum Ada Perusahaan yang Menyatakan Tidak Mampu Bayar THR

Menaker: Belum Ada Perusahaan yang Menyatakan Tidak Mampu Bayar THR

Whats New
Gojek-Tokopedia Merger, Bos Gojek Andre Soelistyo Disebut Jadi Pemimpinnya

Gojek-Tokopedia Merger, Bos Gojek Andre Soelistyo Disebut Jadi Pemimpinnya

Whats New
[TREN EDUKASI KOMPASIANA] 'Reading Habit' pada Siswa | Pendidikan Perempuan dan Kesuksesannya | Mengatasi Ujian Bahasa Indonesia yang Sulit

[TREN EDUKASI KOMPASIANA] "Reading Habit" pada Siswa | Pendidikan Perempuan dan Kesuksesannya | Mengatasi Ujian Bahasa Indonesia yang Sulit

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X