Chappy Hakim
KSAU 2002-2005

Penulis buku "Tanah Air Udaraku Indonesia"

Mencermati Puing Roket China yang Jatuh di Kalimantan

Kompas.com - 07/01/2021, 16:07 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana kalau nanti kita kejatuhan benda langit buatan manusia yang datang dari angkasa luar itu?

Sebenarnya kita tidak usah terlalu khawatir, karena kemungkinan tersebut sangat kecil. Benda langit buatan manusia yang bergentayangan belakangan ini antara lain adalah roket dan satelit.

Produk benda langit buatan manusia adalah produk teknologi tinggi yang sudah memperhitungkan juga tentang keselamatan manusia di permukaan bumi. Bukan tidak mungkin untuk terjadinya kesalahan dan atau kecelakaan, akan tetapi jumlahnya akan relatif kecil.

Tidak usah khawatir. Apabila toh terjadi, maka sebenarnya aturan tentang hal itu sudah ada semuanya, termasuk peraturan yang berkait dengan tanggung jawab negara pembuat roket dan satelit.

Sudah ada Aerospace Treaty tahun 1967 yang membuat aturan hukum menyangkut penggunaan ruang angkasa untuk maksud maksud damai serta tanggung jawab yang harus dipikul secara internasional .

Khusus mengenai tanggung jawab negara dalam hal kemungkinan jatuhnya space object dan sampah roket atau satelit ke bumi yang merugikan negara lain, sudah ada The Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects, dikenal sebagai Space Liability Convention 1972 yang merupakan turunan dari aerospace treaty 1967.

Baca juga: Benda yang Diduga Serpihan Pesawat Ternyata Bagian dari Roket China

Contoh kasus yang pernah ada dari persoalan tanggung jawab ini adalah apa yang terjadi pada tahun 1978. Ketika itu nuclear-powered Soviet satellite Kosmos 954 yang serpihannya jatuh di Kanada.

Amerika Serikat membantu Kanada dalam Search and Rescue serta Clean up check list Operation karena mengkhawatirkan dampak radiasi dari tenaga nuklir yang digunakan pada satelit Soviet yang jatuh tersebut berpotensi meluas ke wilayah Amerika Serikat.

Walau berlangsung alot, negosiasi klaim ganti rugi persoalan ini dimenangkan oleh pemerintah Kanada. Uni Soviet ketika itu harus membayar claim ganti rugi dengan pembayaran sekian juta dollar AS.

Kasus ini tercatat sebagai satu satunya dispute antara dua negara yang berhasil diselesaikan dengan mengacu kepada Liability Convention 1972 tentang damage caused by space objects.

Konvensi Liability 1972 tentang kerusakan yang terjadi sebagai akibat dari jatuhnya benda langit buatan manusia.

Demikianlah sekedar uraian dari mencermati Puing Roket China yang jatuh di Kalimantan.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

IHSG Parkir di Zona Merah, 3 Emiten Ini Catatkan Koreksi Paling Dalam

IHSG Parkir di Zona Merah, 3 Emiten Ini Catatkan Koreksi Paling Dalam

Whats New
Bappenas Luncurkan INFF Atasi Kesenjangan Pembiayaan Sebelum 2030

Bappenas Luncurkan INFF Atasi Kesenjangan Pembiayaan Sebelum 2030

Whats New
Bangun Kantor Baru di Semarang, CBN Perluas Pasar Jaringan Fiber Optik di Jateng-DIY

Bangun Kantor Baru di Semarang, CBN Perluas Pasar Jaringan Fiber Optik di Jateng-DIY

Whats New
Harga Mi Instan Diprediksi Naik 3 Kali Lipat, Ini Tanggapan Pekerja dan Mahasiswa

Harga Mi Instan Diprediksi Naik 3 Kali Lipat, Ini Tanggapan Pekerja dan Mahasiswa

Whats New
Ini Alasan Kemenhub Naikkan Tarif Ojol

Ini Alasan Kemenhub Naikkan Tarif Ojol

Whats New
BEI Jadi Bursa dengan IPO Terbanyak di ASEAN 4 Tahun Berturut-turut

BEI Jadi Bursa dengan IPO Terbanyak di ASEAN 4 Tahun Berturut-turut

Whats New
Genjot Kinerja, Mitratel Tawarkan Skema Bisnis Atraktif untuk Semua Operator Telekomunikasi

Genjot Kinerja, Mitratel Tawarkan Skema Bisnis Atraktif untuk Semua Operator Telekomunikasi

Rilis
Irjen Ferdy Sambo Terima Gaji Besar, Berapa Total Per Bulan?

Irjen Ferdy Sambo Terima Gaji Besar, Berapa Total Per Bulan?

Whats New
Apa yang Harus Dilakukan Saat Mendapat Surat Tilang ETLE?

Apa yang Harus Dilakukan Saat Mendapat Surat Tilang ETLE?

Whats New
Satgas BLBI Sita Aset Tanah dan Bangunan Milik Sjamsul Nursalim

Satgas BLBI Sita Aset Tanah dan Bangunan Milik Sjamsul Nursalim

Whats New
Lebih Tinggi dari RI, Ekonomi Filipina Tumbuh 7,4 Persen di Kuartal II-2022

Lebih Tinggi dari RI, Ekonomi Filipina Tumbuh 7,4 Persen di Kuartal II-2022

Whats New
Mentan Peringatkan Harga Mi Instan Melejit, Sarankan Makan Singkong

Mentan Peringatkan Harga Mi Instan Melejit, Sarankan Makan Singkong

Whats New
Menteri PUPR: Lelang Proyek Kawasan Inti IKN Rampung Agustus Tahun Ini

Menteri PUPR: Lelang Proyek Kawasan Inti IKN Rampung Agustus Tahun Ini

Whats New
Sempat Ada Antrean Panjang di SPBU Bogor, Pertamina: 'Weekend' Ada Peningkatan Konsumsi BBM

Sempat Ada Antrean Panjang di SPBU Bogor, Pertamina: "Weekend" Ada Peningkatan Konsumsi BBM

Whats New
Ini Daftar 13 Proyek Strategis Nasional Baru

Ini Daftar 13 Proyek Strategis Nasional Baru

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.