KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

Menjadi “Gamemakers” pada 2021

Kompas.com - 09/01/2021, 08:04 WIB
Ilustrasi menjadi gamemakers pada 2021 Dok. ShutterstockIlustrasi menjadi gamemakers pada 2021

DENGAN mengalami beragam kejadian pada 2020, kita menemukan banyak wisdom lama yang ternyata masih relevan. Pada tahun itu, muncul inisiatif-inisiatif baru yang tidak disangka-sangka dalam kehidupan kita.

Misalnya saja seperti yang dialami EXPERD. Menanggapi kebutuhan pasar karena pertemuan tatap muka dibatasi, EXPERD langsung meluncurkan produk-produk baru dengan metode daring (online), seperti psikotes, assessment, pelatihan, maupun webinar. Ternyata, itulah yang dinamakan resilience.

Tahun 2020 juga memberikan kita banyak kesempatan untuk berdialog dengan diri sendiri. Kita mulai memiliki energi baru untuk menghargai apa yang bisa dan tidak bisa kita kontrol.

Pada 2021, marilah kita benar-benar menjadi game player, berselancar dengan segala rintangan, membuat vision board ala sutradara film, dan memilih satu judul sebagai tema pergulatan kita di tahun ini.

Banyak orang berpikir, memasuki tahun baru bagaikan membuka lembaran baru dengan kertas putih kosong. Namun tunggu dulu, antusiasme seperti ini bisa-bisa menghambat kita membuat sasaran yang realistis dan membumi sesuai dengan kebutuhan dasar karena 2021 termasuk tahun yang luar biasa.

Memasuki tahun ini, kita bagaikan berjalan di kawat trapeze karena senantiasa harus menyeimbangkan banyak hal secara profesional dan personal. Mereka yang bisa bertahan, bahkan bergerak maju pada 2021 tidak hanya kuat, tetapi juga bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan lainnya.

Kita memang perlu membuka pikiran akan kemungkinan cara kerja lain yang sebelum ini tidak terpikirkan. Bisa saja perusahaan yang sama-sama terpuruk pada masa pandemi Covid-19 berkolaborasi untuk menyusun kekuatan berdasarkan keunikan mereka masing-masing.

Baca juga: 2021, Saatnya Berkreativitas…

Bagaimana mempertajam rasa terhadap apa yang bisa kita lakukan pada 2021?

Kita bisa memulai dengan menanyakan pada diri sendiri. Misalnya, apa saja yang bisa kita syukuri selama 2020 kemarin? Hal baru apa yang kita pelajari mengenai tim kita? Hal berbeda seperti apa yang bisa kita lakukan pada 2021? Bila berhasil bertahan dan menang pada 2021, artinya kita memiliki resilience.

Lalu, apakah resilience itu? Sebagian besar orang menyamakan istilah resilience dengan grit, yakni semangat yang tidak ada matinya. Namun, resilience bukan sekadar semangat untuk terus maju.

Istilah tersebut juga berkaitan dengan memiliki kapasitas untuk recover lebih cepat serta kemampuan merespons stres dengan cara yang sehat.

Sikap tersebut dapat menstimulasi kemampuan untuk mengarahkan volatility, merespons dengan tenang terhadap ketidakjelasan, dan mampu mengimajinasikan hal-hal yang belum terjadi untuk merancang langkah antisipasinya.

Langkah awal tahun

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Kemunduran bisnis wajar terjadi di tengah kondisi yang tidak menentu. Namun, daripada fokus pada kemunduran, sebaiknya kita siaga melihat tumbuhnya usaha-usaha baru dan siap menerima kemungkinan transformasi usaha lama. Kita dapat mencontoh para pembuat seragam yang sudah beralih menjadi pembuat alat perlindungan diri (APD) profesional semenjak pandemi merebak.

Mau tidak mau, kita memang harus membuat rencana kerja. Hal ini dilakukan agar kita dapat melihat dengan jelas tantangan yang akan dihadapi.

Sebagai langkah awal tahun, kita bisa mempersiapkan hal-hal berikut untuk bisa maju dan menang pada 2021.

1. Dana darurat

Kalau pada 2020 semua serba-mendadak dan tidak ada kesempatan untuk mengambil ancang-ancang, sekarang saatnya kita membuat perencanaan finansial.

Ada baiknya kita mempersiapkan dana untuk operasional setahun penuh, sekalipun tanpa penjualan. Hal ini bisa membuat kita merasa aman dan fokus pada kemajuan.

Satu hal yang tidak pernah boleh lepas dari pengawasan adalah alur kas. Dalam kondisi normal, kita bisa mengandalkan pengawasan seminggu sekali, bahkan sebulan sekali karena pemasukan stabil. Namun, sekarang kita perlu memperketatnya dengan lebih intensif.

2. Supply chain

Banyak orang bisa bertahan dalam krisis ini, tetapi banyak pula yang tidak. Oleh karena itu, kita tidak bisa bergantung pada satu pemasok saja.

Dari hasil survei terlihat, 73 persen perusahaan besar mengalami kesulitan karena pemasok mereka bermasalah pada saat pandemi. Karenanya, kita perlu terus mengembangkan jejaring dengan pemasok atau mitra-mitra lainnya. Dengan demikian, kita tidak mengalami bottle neck dalam menyediakan layanan.

Jangan ragu juga untuk memperluas pasar secara regional dan tentunya memiliki jaringan pemasok regional juga.

3. Eksistensi digital

Saat ini, semua bisnis, sekecil apa pun skalanya, sudah hadir dalam dunia digital, baik melalui situs web maupun marketplace. Namun, pada krisis 2020, banyak perusahaan lebih mengutamakan kelangsungan proses bisnis daripada eksistensinya di dunia digital. Kita sering lupa bahwa garis antara dunia maya dan fisik dalam bisnis sudah semakin tipis.

Kita perlu mengukur sudah berapa persenkah bisnis kita go digital. Juga, memperhatikan apakah keberadaan teknologi digital sudah berarti banyak bagi bisnis kita. Meskipun demikian, kita tidak perlu panik dan memaksakan semua upaya dalam rangka go digital.

Lewat digital audit tadi, kita bisa mengetahui perilaku pelanggan saat berinteraksi secara tatap muka dan online.

Tantangan muncul bila terjadi perbedaan tingkah laku pelanggan. Agar bisa bertahan dan maju, kita pun harus mampu mencari jalan lain agar pertemuan online bisa mendatangkan hasil.

Selain itu, dengan melakukan digital audit, kita biasanya bisa menemukan beberapa kompetitor baru yang selama ini tidak disadari tetapi tahu-tahu sudah mengancam di depan mata.

4. Kultur perusahaan

Krisis terbesar yang dialami perusahaan muncul bila karyawan tidak lagi bersemangat. Hal ini bisa terjadi saat kita memberikan banyak tuntutan pada karyawan, sedangkan situasi hidup mereka pun tidak mudah.

Oleh karena itu, komunikasi dengan tim tak boleh putus untuk menjaga semangat mereka tetap kuat. Kita benar-benar perlu merabarasakan mood apa yang sedang beredar dan berusaha mengoreksinya bila perlu.

Hal lain yang harus kita perhatikan adalah mengenai penyimpanan data. Bila masih menjalankan kebijakan bekerja dari rumah, siapkan proses penyimpanan dan pengaksesan data yang memudahkan untuk mendukung proses bekerja yang lebih baik.

(SHIFT) happens. The trick is to put yourself in a position to survive and even thrive when it does,” kata Nassim Nicholas Taleb.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya