Kompas.com - 11/01/2021, 13:02 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyerahkan secara simbolis sertifikat hak atas tanah kepada masyarakat melalui program Sertifikat Tanah untuk Rakyat Seindonesia di Istana Negara, Jakarta, Senin (5/1/2021). Hari ini, Presiden menyerahkan 584.407 sertifikat tanah di 26 provinsi dan 273 kabupaten/kota sebagai bentuk komitmen Pemerintah untuk terus mempercepat penyertifikatan tanah di seluruh Indonesia. SETPRES/AGUS SUPARTOPresiden Joko Widodo (Jokowi) menyerahkan secara simbolis sertifikat hak atas tanah kepada masyarakat melalui program Sertifikat Tanah untuk Rakyat Seindonesia di Istana Negara, Jakarta, Senin (5/1/2021). Hari ini, Presiden menyerahkan 584.407 sertifikat tanah di 26 provinsi dan 273 kabupaten/kota sebagai bentuk komitmen Pemerintah untuk terus mempercepat penyertifikatan tanah di seluruh Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti masih banyaknya komoditas pangan yang di pasok dari impor. Mulai dari kedelai, jagung, bawang putih, beras, hingga gula.

Ia bilang, dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270 juta jiwa, maka pengelolaan pangan harus disikapi dengan serius yakni dengan memastikan produktivitas pertanian di dalam negeri.

"Kedelai, jagung, gula, bawang putih, hati-hati, ini yang masih jutaan ton (impornya)," ujar Jokowi dalam Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian Tahun 2021 yang ditayangkan secara virtual, Senin (11/1/2021).

"Barang-barang ini harus diselesaikan, urusan bawang putih, gula, jagung, kedelai, dan komoditas lain yang masih impor, tolong ini jadi catatan dan segera dicarikan desain yang baik agar bisa kita selesaikan," sambung dia.

Baca juga: Di Depan Jokowi, Mentan Beberkan 5 Strategi Mendongkrak Sektor Pangan

Terkait beras, kata dia, memang dalam dua tahun terakhir Indonesia berhasil tidak melakukan impor dan memenuhi kebutuhan dari produksi dalam negeri, namun hal ini perlu dipastikan konsistensinya.

Jokowi mengatakan, ia akan terus meninjau perkembangan di lapangan untuk memastikan keberlangsungan Indonesia bisa swasembada beras, dan tidak bergantung lagi pada impor seperti yang terjadi beberapa tahun lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya mau lihat betul di lapangannya, kondisinya seperti apa. Apakah konsisten bisa kita lakukan untuk tahun-tahun mendatang?," ungkap dia.

Oleh sebab itu, ia menekankan, perlu adanya perubahan pada sistem pertanian Tanah Air untuk bisa menggenjot produktivitas, tak bisa lagi dengan teknik pertanian konvensional.

Salah satunya, dengan membangun kawasan yang economic scale yakni areal tanam yang luas dan bersistem pertanian modern. Hal ini yang akan diwujudkan dalam proyek lumbung pangan atau food estate.

"Tidak bisa lagi kita lakukan hal-hal yang konvensional, rutinitas dan monoton seperti yang dilakukan bertahun-tahun. Kita harus mmbangun kawasan yang economic scale, enggak bisa kecil-kecil lagi," kata Jokowi.

Baca juga: Cegah Terjadinya Korupsi Anggaran Covid-19 Tinggi, Ini Saran BPK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.