Wonder Woman, WhatsApp, dan Koperasi

Kompas.com - 13/01/2021, 16:37 WIB
Karakter Maxwell Lord (tengah) yang diperankan aktor Pedro Pascal dalam film Wonder Woman 1984. IMDbKarakter Maxwell Lord (tengah) yang diperankan aktor Pedro Pascal dalam film Wonder Woman 1984.

Bung Besar

Narasi Orwell soal adanya Big Brother yang menyeru, "Bung Besar Mengawasi Saudara" itu relevan sampai sekarang. Dalam novel itu Bung Besar beroperasi lewat partai dan negara totaliter. Bung Besar melakukan pengawasan intensif bagaimana orang harus berperilaku, bahkan berpikir. Orwell mengisahkan adanya "Kementerian Kebenaran" dan "Polisi Pikiran".

Di era spatkapitalismus atawa kapitalisme lanjut, nampaknya Bung Besar telah bangkit lewat platform-platform digital semacam media sosial. Cara kerjanya dengan merekam berbagai aktivitas dan jejak digital pengguna selama online. Shoshana Zuboff (2019) menyebutnya sebagai kapitalisme pengawasan (surveillance capitalism).

Hal itu terkonfirmasi lewat kasus terkini dan masih berlangsung, ramainya netizen migrasi dari Whatsapp ke Telegram dan Signal. Whatsapp akan mengubah kebijakan privacy per 8 Februari, dengan mengirim data pengguna dan aktivitasnya ke Facebook, direspons negatif. Sederhana, pengguna yang jumlahnya ratusan juta itu tak ingin diawasi.

Sebenarnya bukan sekedar diawasi, melainkan diserap seluruh jejak digitalnya menjadi sebuah big data yang lalu diolah menjadi peluang-peluang bisnis. Di sini Facebook nampaknya yang bertindak untuk mengolah big data itu.

Tak hanya netizen, beberapa pemerintah secara resmi juga mengutuk tindakan Whastapp. Otoritas Turki menginstruksikan warganya untuk #deletewhatsapp. Bahkan Presiden Erdogan dikabarkan membuang aplikasi itu dari ponselnya. Yang lain seperti pemerintah Jerman, memberi sinyal sama. Mereka tak ingin diawasi.

Itu semua belum ditambah dengan rekam jejak Facebook yang beberapa kali mengalami kebocoran data. Kasus Cambridge Analytica tahun 2014 serta kasus tahun 2019 membuktikan rentannya data pengguna. Bila sekarang seluruh data pengguna yang jumlahnya dua milyar itu diserahkan ke Facebook, bisa dibayangkan seberapa besar big data yang mereka kuasai.

Bung Besar benar-benar bangkit lewat artificial intelligence dan machine learning dengan aparatus ilmuwan data. Mereka bekerja untuk melipatgandakan hegemoni bisnis korporasi yang dimiliki segelintir orang. Sekarang Bung Besar itu tak lagi alegoris, namun berwujud dalam rupa Bung Zuckerberg.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Nyatanya, Bung Besar itu bukan koperasi. Mereka, korporasi. Jadi meta-narasi Wonder Woman 1984 itu tak sahih. Yang sewenang-wenang, rakus dan tamak, ya korporasi seperti Omni Corp atau Oscorp Industries yang dibabat oleh Spiderman dan Robocop.

Tak sahih betul juga, sebab Black Gold Cooperative itu hanya dimiliki oleh Max Lord. Koperasi itu tak memiliki anggota. Barulah setelah Max Lord membuat harapan di depan Dream Stone, hari itu, berbondong-bondong orang mendatangi kantornya untuk berinvestasi. Jadi itu semacam praktik jahat investasi bodong berkedok koperasi, mirip seperti sebagian kasus di Indonesia.

Baca juga: Kebijakan Baru WhatsApp, Isi Chat dan Telepon di WA Jadi Bisa Diintip?

Data dan koperasi

Black gold era 1984 berupa ladang minyak. Sekarang emas hitam itu berupa data. Data yang sangat besar, big data. Siapa yang menguasai data, menang dalam percaturan. Juga sebaliknya. Hasilnya startup berlomba-lomba membangun model bisnis dengan infrastruktur teknologi yang dapat menyedot, mengumpulkan dan mengolah data.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.