KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

Komunikasi Tatap Muka

Kompas.com - 16/01/2021, 08:03 WIB
Ilustrasi berkomunikasi tatap muka dengan masker. Dok. ShutterstockIlustrasi berkomunikasi tatap muka dengan masker.

MENGAPA selama pandemi Covid-19, kita ingin sekali berkumpul dengan teman-teman, meski sebenarnya bisa bertemu secara virtual? Mengapa tatap muka virtual tidak menghilangkan rindu? Mengapa interaksi tatap muka langsung terasa magic sekali?

Pada hari-hari ini, kita jadi sangat menyadari bahwa kontak antarmanusia sangat dibutuhkan. Kita seolah lapar akan hubungan interpersonal yang lebih mendalam daripada sekadar saling sapa di layar komputer.

Kita butuh merasakan antusiasme, energi, dan excitement yang muncul ketika sedang bertemu muka. Kehadiran orang lain secara fisik serasa bisa memberikan energi baru kepada kita.

Dunia bisnis pun sekarang menyadari hal tersebut. Koneksi secara tatap muka bisa menguatkan interaksi dan membangun hubungan bisnis yang lebih baik.

Seorang teman yang bekerja di bidang market research mengeluh mengenai kesulitan membaca respons peserta focused group discussion dalam sesi daring (online).

Melalui metode virtual, ia mengaku kesulitan membaca like-dislike peserta secara jelas dan meraba ketulusan respons.

Selain itu, ia juga kesulitan menjaga fokus atensi peserta agar terus berada dalam sesi FGD online dan tidak sibuk membalas chatting di ruang yang lain. Hal tersebut bisa terjadi lantaran kebanyakan dari kita memang terbiasa melakukan multitasking.

Dengan tatap muka, kita bisa mendapatkan beragam pesan nonverbal, selain isi pembicaraan semata. Ada body language (bahasa tubuh), nada, dan bahkan reaksi spontan akan perasaan yang muncul.

Seperti kita tahu, dalam setiap momen komunikasi, pesan bisa diperoleh melalui 55 persen bahasa tubuh, 38 persen nada suara, dan 5 persen kata-kata. Bisa dibayangkan, betapa banyak saluran pesan tersirat hilang dalam setiap pertemuan nontatap muka.

Baca juga: 2021, Saatnya Berkreativitas…

Para neuroscientist juga mengingatkan, pertemuan tatap muka memberikan pengaruh positif pada diri kita. Menurut psikolog Susan Pinker, kontak person to person merangsang sistem saraf untuk melepas sejumlah neurotransmiter yang mampu meregulasi stres dan kekhawatiran. Dengan demikian, kapasitas kita untuk merespons positif perubahan lebih kuat.

Tatap muka juga bisa memperkuat cara kita mengingat dengan mengimajinasikan konteks atau situasinya. Hal ini tentunya dapat melindungi otak kita dari kemungkinan mengalami degenerasi.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Dengan bertatap muka, kemungkinan kita untuk kebetulan bertemu dengan orang yang memiliki energi positif juga lebih luas. Semakin positif kita memandang dunia, semakin besar pula harapan untuk menempuh jalan menuju kesuksesan.

Interaksi antarmanusia membantu badan dan otak untuk mengerti secara lebih mendalam apa yang sedang kita alami dan solusi apa yang bisa kita pilih untuk memecahkan masalah.

Hal ini karena hubungan dan kontak sosial memang selalu menimbulkan tantangan baru bagi kita. Kita tidak dibiarkan berhenti pada status quo. Keadaan tidak stabil inilah yang justru membuat kita beradaptasi dengan kesempatan-kesempatan baru dan transformasi yang mengangkat energi kita.

Dalam teori hierarki Maslow, kebutuhan sosial adalah kebutuhan tier 3, sesudah kebutuhan dasar dan rasa aman. Ini lebih penting daripada prestasi.

Sementara, isolasi sosial sudah terbukti meningkatkan kebiasaan merokok, tekanan darah, tingkat kecemasan, depresi, sampai obesitas karena kurangnya berolahraga.

Neocortex manusia jauh lebih besar daripada binatang. Sebagian besar area yang membedakan manusia dengan binatang adalah pada kognisi sosialnya, seperti conscious thoughts, bahasa, empati, mindset, pengaturan tata krama, dan emosi. Itulah mengapa pembatasan aktivitas sosial akan membuat kita sebagai makhluk sosial menderita.

Baca juga: Menjadi “Gamemakers” pada 2021

Sekarang kita mengerti, mengapa berdiam di rumah serta bekerja dengan dikelilingi keluarga tersayang lama-lama juga bisa membuat kita jengah. Namun, dalam situasi ini, kita tidak punya pilihan. Dalam pekerjaan, ada kegiatan-kegiatan yang tetap memerlukan kontak tatap muka.

Berdasarkan penelitian, ada empat dimensi dampak interaksi sosial dalam pengembangan manajemen yang perlu kita perhatikan.

Pertama, kolaborasi yang membutuhkan kepercayaan dan konstruksi pemahaman yang sama. Kedua, inovasi. Kita perlu brainstorming bersama menggenjot otak untuk mengeluarkan ide-ide dan secara kolektif berkolaborasi, belajar bersama, serta menciptakan sesuatu yang baru. Kegiatan ini membutuhkan rasa percaya dan kebersamaan yang cukup panjang dalam keadaan tanpa tekanan.

Ketiga, akulturasi. Kita bisa membuat kultur perusahaan yang solid, yakni dengan memperkuat pemahaman bersama dan sense of shared identity. Keempat, dedikasi, sense of purpose yang kuat, dan perasaan berada dalam komunitas yang sama.

Peranan ekspresi dalam komunikasi

Dalam berkomunikasi, ekspresi wajah memegang peranan sangat penting untuk memberi konteks terhadap isi pembicaraan. Wajah kita terdiri dari bagian atas, tengah, dan bawah.

Di bagian tengah, ada hidung yang bisa mengernyit. Di bagian bawah, ada dagu, bibir, dan rahang. Bibir bisa tersenyum, bisa mencibir, atau terkatup rapat bila menahan amarah. Kita lihat bahwa bagian tengah dan bawah wajah memegang peranan sangat penting.

Bisa kita bayangkan betapa komunikasi terganggu dengan dua pertiga wajah yang ditutupi masker? Lalu, apa yang bisa kita lakukan dalam berkomunikasi dengan penutup masker?

Pertama, kita perlu meningkatkan kesadaran bahwa kita sedang menggunakan masker yang membuat senyum maupun gerak bibir tidak kelihatan. Kesadaran ini perlu dimiliki oleh kedua belah pihak. Kemudian, keduanya perlu menguatkan bagian-bagian lain yang kelihatan, seperti mata, kening, dan otot-otot lainnya di bagian atas wajah.

Kita bisa mendukung pesan kita dengan mata dan wajah, misalnya dengan sedikit mengangguk ataupun memperkuat ekspresi mata kita. Ingat, mata adalah jendela jiwa. Senyum yang dilakukan hanya dengan otot bibir tanpa dibarengi ekspresi mata bisa terasa seperti senyum palsu.

Kedua, memperkuat ekspresi bahasa tubuh. Kita bisa mengintensifkan gerakan tangan untuk mendukung maksud yang ingin disampaikan.

Ketiga, memperjelas artikulasi kata-kata, berbicara lebih keras, perlahan, dan memastikan bahwa lawan bicara menangkap pesan dari kata-kata kita dengan tepat. Sadari kemungkinan adanya gangguan suara dari lingkungan sekitar.

So, we really have no choice but to be social creatures. We can’t help it - it's the way we’re made.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya