[POPULER DI KOMPASIANA] Parasut pada Pesawat | Kebijakan Baru WhatsApp | Setop Stigmatisasi Janda

Kompas.com - 16/01/2021, 16:16 WIB
Pesawat Boeing 737-500 milik Sriwijaya Air di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Juni 2019. SHUTTERSTOCK/LEONY EKA PRAKASAPesawat Boeing 737-500 milik Sriwijaya Air di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Juni 2019.

KOMPASIANA--Sudah sepekan sejak jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 banyak sekali masukan maupun pendapat dari masyarakat agar kejadian itu tidak terulang lagi.

Pencarian masih terus dilakukan, dari penumpang hingga ditemukannya black box yang diharapkan bisa membantu penyebab jatuhnya pesawat. Dan ini akan diperpanjang selama hingga Senin (18/1/2021).

Atas kejadian ini, industri maupun bisnis penerbangan di Indonesia harapannya makin berbenah.

Jika musibah tidak bisa diprediksi, paling tidak sebesar mungkin untuk mengantisipasi.

Selain kabar terkait jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, masih ada konten terpopuler dan menarik lainnya di Kompasiana dalam sepekan.

1. Menanti Hadirnya Parasut Pesawat untuk Mencegah Jatuhnya Korban Jiwa dalam Kecelakaan Penerbangan

Kompasianer Tuhombowo Wau ingin industri pesawat makin berinovasi membuat semacam alat untuk menihilkan atau mengurangi jumlah korban jiwa ketika terjadi kecelakaan penerbangan.

"Maksudnya, mengapa industri tidak menginisiasi terciptanya sebuah alat, agar ketika terjadi musibah dan pesawat jatuh, para penumpang tidak ikut remuk di dalamnya?" tanya Kompasianer Tuhombowo Wau dalam tulisannya.

Pertanyaan itu muncul berdasarkan adanya ide rancangan "parasut pesawat" dari seorang insinyur penerbangan asal Ukraina bernama Vladimir Tatarenko.

Dalam desain yang sudah lama dibuatnya, lanjut Kompasianer Tuhombowo, Tatarenko merancang pesawat berkapsul dan berparasut. (Baca selengkapnya)

2. Duh, Terlanjur Pencet Setuju Berbagi Data WhatsApp ke Facebook, What Should I Do?

Kompasianer Efrem Siregar ketika itu masih setengah sadar karena baru bangun dari tidurnya dan memilih "setuju" saat pemberitahuan WhatsApp masuk.

Pikirnya saat itu sekadar pemberitahuan belaka. Makanya, tanpa membaca secara rinci, langsung dipilih "setuju".

Barulah saat membuka Twitter, warganet banyak yang membahas kebijakan WhatsApp yang baru, yang baru saja ia setujui itu.

"Pada akhirnya, masalah keamanan, kenyamanan pengguna dan payung hukum adalah beberapa isu penting untuk dipikirkan," tulis Kompasianer Efrem Siregar. (Baca selengkapnya)

3. Blusukan Risma Dipersoalkan, Ini Pentingnya Dilakukan di Lingkungan Perusahaan

Perbincangan mengenai blusukan yang dilakukan oleh Menteri Sosial yang baru dilantik, Tri Rismaharini belum juga usai.

Akan tetapi bagi Kompasianer Meirri Alfianto ada hal lain yang menarik dari blusukan itu: bagaimana kalau yang dilakukan Menteri Sosial dilakukan juga oleh para atasan di perusahaan yang dipimpinnya?

Maksudnya adalah melihat kondisi aktual yang terjadi, tidak hanya menerima laporan dari anak buah.

"Dengan seringnya pimpinan turun mengecek kondisi lapangan, suasana kerja pun berubah dan adda beberapa hal penting mengapa blusukan dalam lingkungan perusahaan," tulis Kompasianer Meirri Alfianto. (Baca selengkapnya)

4. Sudahi Stigmatisasi "Janda Lebih Menggoda" Itu dari Sekarang!

Candaan tentang "status janda" seperti apa yang familiar didengar? Apakah candaan itu lucu atau justru sekadar menghina dan menyinggung saja?

Karena masih banyaknya yang membuat candaan seperti itu, bagi Kompasianer Ardalena Romantika kini malah makin menjurus bahwa janda diasosiasikan pada hal-hal yang bersifat tidak senonoh.

"Sadar atau tidak, candaan dan stigma negatif yang dilontarkan terhadap janda merupakan suatu pelecehan verbal dan berpotensi besar menyebabkan kekerasan seksual," tulis Kompasianer Ardalena Romantika.

Selain itu, stigma ini akan sangat merugikan perempuan karena banyak perempuan yang merasa takut dan malu apabila menyandang status janda sehingga lebih memilih bertahan dalam perkawinan. (Baca selengkapnya)

5. WFD, WFE, WFH, dan WFO di Mata CEO

Jika boleh memilih, mana yang disuka untuk bekerja: WFD, WFE, WFH, atau WFO?

Tentu dari keempat pilihan itu ada lebih dan kurangnya. Semisal, WFO diperlukan supaya tetap ada interaksi dengan tatap muka.

Bagaimana pun, tulis Kompasianer Siska Dewi mengutip dari Mardi Wu, bertemu secara fisik lebih memungkinkan untuk terciptanya bounding dengan tim.

Nah, jadi tempat asyik buat kerja menurutmu di mana? (Baca selengkapnya)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X