BI Proyeksi DPK Tumbuh 7-9 Persen, Lebih Rendah dari Tahun 2020

Kompas.com - 22/01/2021, 12:03 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi video di Jakarta, Jumat (17/4/2020) Dok. Bank IndonesiaGubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi video di Jakarta, Jumat (17/4/2020)

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) bank bakal lebih rendah dibanding tahun 2020.

Pada 2020 lalu, DPK mampu tumbuh dobel digit di angka 12-14 persen. Sedangkan untuk tahun ini, bank sentral memproyeksi DPK tumbuh 7-9 persen.

"Likuiditas ample, DPK tumbuh tahun lalu 12-14 persen, tahun ini mungkin sekitar 7-9 persen," kata Perry dalam diskusi Infobank Membangun Optimisme Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual, Jumat (22/1/2021).

Perry menyebut, pertumbuhan DPK itu bakal membuat likuiditas bank tetap longgar, di samping injeksi likuiditas (quantitative easing) yang digelontorkan bank sentral.

Baca juga: Sepanjang 2020, BI Suntik Likuiditas Rp 726,57 Triliun ke Perbankan

Sepanjang 2020, bank sentral telah menggelontorkan likuiditas kepada perbankan sebesar Rp 726,57 triliun, yang terdiri dari penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) dan ekspansi moneter bank sentral.

Injeksi dari penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sekitar Rp 155 triliun, sementara injeksi dari ekspansi moneter sekitar Rp 555,77 triliun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Hingga 19 Januari 2021, Bank Indonesia telah menginjeksi dengan melakukan ekspansi moneter sekitar Rp 7,44 triliun," ungkap Perry.

Lebih lanjut Perry menuturkan, kecukupan likuiditas juga bersumber dari perbaikan ekonomi di pasar global maupun domestik. Dari sisi global, The Fed selaku bank sentral AS menyatakan untuk tetap mengadopsi suku bunga rendah dan likuiditas longgar sepanjang tahun ini.

Kebijakan likuiditas longgar pun diterapkan di berbagai negara. Ambil contoh Jepang, yang sudah berkomitmen melonggarkan likuiditasnya hingga tahun 2023.

"Dampaknya aliran modal asing akan berlanjut masuk ke Indonesia. Kurs akan berpotensi stabil dan menguat karena dollarnya tidak akan menguat. Kami perkirakan portofolio inflow mencapai 19,1 miliar dollar AS," pungkas Perry.

Baca juga: Efek Joe Biden, BI Proyeksi Modal Asing ke RI Bakal Tembus 19 Miliar Dollar AS



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X