KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Kompas.com - 23/01/2021, 10:45 WIB
Ilustrasi menjaga kesehatan mental sembari tetap aktif menjalankan pekerjaan. ShutterstockIlustrasi menjaga kesehatan mental sembari tetap aktif menjalankan pekerjaan.

HAMPIR setahun kita menjalani masa karantina. Meskipun tidak mengalami lock down seperti di Wuhan, China, atau beberapa negara lain, ketegangan akibat Covid-19 juga kita rasakan.

Ketegangan ini tidak selalu kasatmata. Misalnya, kita punya kekhawatiran bila anggota keluarga terpapar penyakit. Namun, kita juga harus menyelesaikan tugas dan tanggung jawab profesional serta tetap produktif di tengah ancaman resesi.

Ketika mengalami hal-hal tersebut, kecemasan yang invisible itu muncul. Kecemasan itu bisa terus meningkat, apalagi bila uncertainty yang ada di dunia bisnis meluas sampai ke lingkungan korporasi.

Oleh sebab itu, bila ingin move forward ke arah strategi organisasi new normal, perusahaan perlu memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan mental dalam konsep pengembangan organisasi.Bila tidak, kita (perusahaan) akan dikejutkan dengan jatuhnya anggota tim yang kelelahan atau sakit.

Baca juga: 6 Langkah Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi Virus Corona

Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan. Pertama, mindfulness.

Kondisi saat ini bisa membuat kita merasa overwhelmed dan reaktif terhadap hal-hal yang terjadi pada kita. Praktik mindfulness dapat membantu kita mengatasi perasaan-perasaan tersebut.

Secara konsep, praktik mindfulness mengajarkan kita untuk memiliki kesadaran tentang di mana kita berada dan apa yang sedang kita lakukan.

Untuk mempraktikkan hal tersebut di lingkungan kerja, kita bisa mengajak anggota tim atau karyawan untuk lebih sadar akan kebutuhan dasarnya dan dengan hati-hati menyusun mekanisme pemenuhan kebutuhannya.

Selain itu, karyawan diajak untuk mencari keseimbangan antara gaya kerja work from home (WFH) dengan konsekuensi-konsekuensi yang timbul sehubungan dengan kondisi baru ini. Misalnya saja efek WFH terkait keluarga, internet, maupun masalah lainnya.

Baca juga: Pandemi Covid-19, Ketidakpastian, dan Kesehatan Mental

Praktik mindfulness bisa pula dilakukan dengan latihan fisik, yoga, dan meditasi. Aktivitas tersebut dapat meningkatkan kesadaran, kesabaran, ketenangan, dan kemampuan menyayangi diri sendiri.

Hasil akhir dari kekuatan mindfulness bukan hanya kemampuan untuk tetap merasa nyaman dalam situasi yang tidak nyaman, melainkan juga kemampuan untuk fokus kepada hal-hal yang bisa kita kontrol daripada yang tidak bisa dikontrol.

Psikolog dari Vrije University Belanda, Michail Kokkoris, membuktikan bahwa orang dengan kontrol diri tinggi lebih mampu mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru dalam menghadapi perubahan dunia yang dramatis.

Kedua, kesabaran. Secara tak kasat mata, supresi terhadap kehidupan sosial ternyata sering membuat tingkat kesabaran semakin rendah.

Keadaan terpisah antarindividu dan tidak dapat menjalankan aktivitas yang biasa dilakukan bisa membuat seseorang merasakan kangen yang sering tidak terkendali.

Baca juga: Semangat Kerja dari Rumah Mulai Kendur? Coba Lakukan 3 Tips Ini

Karenanya, perusahaan perlu memikirkan cara untuk menjaga kesabaran karyawan, misalnya dengan menyediakan pelatihan. Bahkan, bisa juga memasukkan kesabaran sebagai salah satu kompetensi penting yang dipersyaratkan dalam bekerja.

Ketiga, rasa syukur. Oliver Sacks menulis, “I cannot pretend I am without fear. But my predominant feeling is one of gratitude. I have loved and been loved; I have been given much and I have given something in return”.

Organisasi yang ingin maju perlu memasukkan nilai syukur ini dalam agenda pengembangan karyawannya.

Diskusi dan workshop yang mengupas rasa syukur perlu rutin diselenggarakan agar kesehatan mental karyawan tetap terjaga. Dengan memiliki rasa syukur, karyawan juga dapat menjaga kesadaran.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Keempat, koneksi. Selama pandemi Covid-19, kita banyak melakukan kompromi terkait cara kita berkoneksi. Satu hal yang perlu disyukuri kita saat ini adalah berada pada era digital. Dengan demikian, kita dapat dengan mudah menjangkau siapa saja dalam jarak ribuan kilometer sekalipun.

Baca juga: Mengenal Mindfulness dan Manfaatnya untuk Kehidupan

Namun, para pemimpin perlu menyadari bahwa kita adalah makhluk sosial. Kontak dan koneksi dengan orang lain tidak hanya diperlukan untuk kepentingan organisasi, tetapi juga mengisi nilai hidup pada karyawan.

Beberapa psikolog melakukan riset tentang apa yang harus kita lakukan menghadapi masa pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini. Ada beberapa hal yang cukup bermanfaat untuk menjaga ekuilibrium mental bila dilakukan dengan baik.

Jaga jarak yang sehat dari berita-berita

Manusia memang makhluk Tuhan yang paling canggih. Namun, itu bukan berarti manusia selalu rasional. Kita sangat terpengaruh oleh emosi.

Kita sering mengikuti pendapat orang secara intuitif saja. Terkadang, kita juga sulit membedakan antara fakta dan asumsi.

Penelitian di Polandia membuktikan, tingkat kecemasan individu berkorelasi langsung dengan seberapa banyak ia mengonsumsi berita tentang bahaya.

Baca juga: Tanggung Jawab pada 600 Karyawan, Anne Avantie Akui Stres hingga Cara Bangkit

Meski demikian, bukan berarti kita harus menutup mata dan telinga mengenai fakta yang ada. Kita perlu mengaktifkan saringan rasional sehingga sinyal-sinyal yang menumbuhkan kewaspadaan bisa ditakar dengan benar.

Challenge mindset

Beberapa psikolog menyebutnya sebagai mindset yang relevan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Kita perlu selalu menantang diri untuk mampu menghadapi kesulitan, keterkungkungan, dan keterbatasan kita. Bila perlu, kita membuat tantangan baru yang bisa dilakukan dalam keadaan pandemi ini.

Tentukan strategi coping yang cocok

Setiap individu memiliki cara coping yang berbeda-beda terhadap stres. Ada yang menenangkan diri, bermeditasi, dan berefleksi. Sebaliknya, ada yang lebih suka aktif berolahraga.

Beberapa ide coping yang didaftarkan oleh American Psychologist, antara lain active coping, positive reframing, agama, dan sikap berserah.

Baca juga: Stres Pandemi Covid-19 Sebabkan Family Burnout, Begini Baiknya...

Active coping dapat dilakukan dengan mencari mentor atau bahkan psikolog untuk mendengarkan keluh kesah dan mencari jalan keluar.

Positive reframing adalah mencari sisi positif dari suatu kondisi yang terlihat negatif. Kita bisa melakukannya dengan mengganti penamaan dari situasi yang dihadapi atau menggunakan magic words sebagai ganti dari kata-kata yang mematikan mental.

Cara coping melalui agama dilakukan dengan mempelajari kajian agama dengan lebih mendalam dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan Sang Pencipta. Perasaan tenang akan timbul karena bersandar pada Yang Ilahi.

Sikap berserah atau legawa dapat dilakukan dengan mengizinkan diri sendiri untuk mengalah pada keadaan, apalagi terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kontrol atau ubah.

Sampai vaksin tersebar merata, cara menghadapi disrupsi mental yang paling benar adalah bertahan. Kita perlu terus berdisiplin dan memelihara mental agar tidak dirongrong oleh rasa cemas yang tidak produktif.

The pandemic may not be going anywhere, but neither are you.

 


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya