Mengapa Indonesia Terlalu Bergantung Impor Sapi dari Australia?

Kompas.com - 25/01/2021, 06:08 WIB
Pedagang daging sapi menunggu pembeli di kios daging Pasar Modern BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (19/1/2021). Pedagang daging sapi di kawasan Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jadetabek) berencana akan melakukan mogok dagang daging sapi mulai Rabu (20/1) selama tiga hari sebagai protes kepada pemerintah karena tingginya harga daging sapi di pasar sejak awal tahun. ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBALPedagang daging sapi menunggu pembeli di kios daging Pasar Modern BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (19/1/2021). Pedagang daging sapi di kawasan Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jadetabek) berencana akan melakukan mogok dagang daging sapi mulai Rabu (20/1) selama tiga hari sebagai protes kepada pemerintah karena tingginya harga daging sapi di pasar sejak awal tahun.

JAKARTA, KOMPAS.com - Tak bisa dipungkiri, selama puluhan tahun, Indonesia sangat bergantung pada pasokan impor sapi dari Australia.

Di pasaran Jabodetabek yang permintaannya paling tinggi, mayoritas daging sapi yang dijual berasal dari pemotongan sapi bakalan asal Australia yang digemukan oleh perusahaan-perusahaan penggemukan sapi atau feedloter swasta. 

Perusahaan feedloter Indonesia umumnya mengimpor sapi bakalan dari Australia dengan berat di kisaran 350 kg. Sapi-sapi bakalan itu kemudian digemukan di Indonesia hingga siap masuk rumah potong saat beratnya mencapai sekitar 450-500 kg.

Dikutip dari Harian Kompas, Senin (24/1/2021), Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Djoni Liano, mengungkapkan Indonesia belum bisa melepaskan ketergantungan terhadap sapi impor yang mayoritas berasal dari Australia.

Baca juga: Impor Jadi Solusi Pemerintah Jokowi Atasi Mahalnya Harga Daging Sapi

Djoni menyebutkan, sebabnya rata-rata pertumbuhan konsumsi daging sapi sekitar 8,1 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan produksi daging sapi lokal berkisar 5 persen per tahun.

Menurut dia, jumlah impor sapi bakalan asal Australia tetap tinggi meskipun ada penurunan di tahun 2020. Sapi-sapi bakalan yang diimpor di tahun lalu itu menjadi stok daging di tahun 2021 setelah melewati masa penggemukan.

Berdasarkan data yang dihimpun Gapuspindo, ekspor sapi bakalan Australia diperkirakan turun dari 1,3 juta ekor tahun 2019 menjadi 900.000 ekor pada 2020. Sebanyak 60 persen di antaranya diserap Indonesia.

”Australia tengah membatasi ekspor karena produsen sapi di sana ingin memulihkan populasi. Padahal, permintaan global meningkat. Dampaknya, harga melonjak. Negara yang sanggup membayar dengan harga yang ada akan mendapatkannya (sapi bakalan),” jelas Djoni.

Baca juga: Jokowi Pernah Janji Setop Impor Daging Sapi, Apa Kabarnya Kini?

Dikutip dari laman Indonesia Australia Red Meat and Cattle Partnership, industri peternakan sapi Australia tengah meningkatkan populasi (restock).

Sehingga harga sapi hidup melonjak ke angka yang disebut sebagai yang tertinggi dalam sejarah. Populasi di sejumlah industri peternakan sekitar 30 persen dari kapasitas.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X