IHSG Anjlok 2 Persen, Kini Berada di Level 5.979

Kompas.com - 28/01/2021, 16:41 WIB
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah Covid-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (28/4/2020). ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAKaryawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah Covid-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (28/4/2020).
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Sudah 6 hari berturut-turut, Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) terjebak di zona merah.

Melansir RTI, sore ini IHSG kembali negatif dengan penurunan 2,12 persen di level 5.979,38 atau melemah 129,78 poin, dan dalam sepekan IHSG telah turun 6,7 persen.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan, berdasarkan analisis teknikal IHSG sudah menunjukkan indikasi rebound, namun pelemahan indeks Wall Street pada penutupan dini hari tadi mendorong bursa Asia melemah, dan diikuti oleh IHSG.

“Ada beberapa faktor dari luar, yakni pelemahan indeks Wall Street, yang diikuti oleh Asia, lalu Eropa. Padahal kita sudah terindikasi rebound, dan kita ikut melemah. Selain itu juga kekhawatiran akan laporan keuangan perusahaan besar yang tidak sesuai dengan ekspektasi,” ujar Lanjar kepada Kompas.com.

Baca juga: Menaker: Dengan Banyaknya SDM yang Kompeten, Penyerapan Tenaga Kerja Akan Meningkat

Selain itu, investor masih menunggu laporan keuangan Apple, Microsoft, Tesla dan Facebook yang merupakan emiten terbesar di AS dari sisi kapitalisasi pasar. Ini membuat pergerakan saham akan sangat mempengaruhi kinerja indeks.

Lanjar juga menyebutkan, pelemahan IHSG juga terjadi akibat sentimen internal yakni Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Selain itu, investor juga sedang menunggu beberapa laporan keuangan dari perusahaan domestik.

Masalah kenaikan kasus Covid-19 juga cukup mendasar dan menjadi pertanyaan bagi investor, apakah vaksinasi Covid-19 akan berhasil atau tidak.

Selain itu, penyelidikan Kejaksaan Agung RI terkait dugaan korupsi investasi BP Jamsostek yang terus bergulir juga mengkhawatirkan investor.  Sebab dana kelolaan BP Jamsostek sangat besar sehingga bisa berdampak pada pasar modal jika terjadi forced sell.

Baca juga: Kementan Prediksi Harga Telur Ayam Bakal Turun Hingga Akhir Februari

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X