Kompas.com - 01/02/2021, 16:04 WIB
Ilustrasi branding atau merek THINKSTOCKS/TUMSASEDGARSIlustrasi branding atau merek

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan bisnis.

Salah satunya dengan melisensikan atau memberi izin kepada pihak lain untuk menggunakan konsep atau ide yang sudah dipatenkan.

Ketua Asosiasi Lisensi Indonesia (Asensi) sekaligus Ketua Pengembangan Resto Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Susanty Widjaya mengatakan, ada manfaat yang dirasakan bagi penerima dan pemilik lisensi ketika melisensikan suatu merek dagang mereka.

Baca juga: Lisensi dan Franchise, Apa Bedanya?

"Bagi penerima lisensi atau yang disebut dengan Licensee, mereka tentunya dapat menggunakan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) baik itu merek pemberi lisensi secara aman dan tentunya legal, sehingga penerima lisensi dapat menjalankan usahanya secara aman dan lancar apalagi jika merek yang digunakan sudah sangat terkenal," ujar Susanty saat dihubungi Kompas.com, Senin (1/2/2021).

Dengan begitu, penerima lisensi akan memiliki reputasi yang baik di mata konsumen, sehingga akan mendapatkan banyak keuntungan dalam menjalankan usahanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sedangkan keuntungan yang didapatkan bagi pemilik lisensi atau licensor, biasanya akan mendapatkan royalti yang besarnya telah disepakati oleh kedua pihak yaitu pemilik lisensi dan penerima lisensi.

Tak hanya itu, Susanty juga menyebutkan ada bermacam-macam jenis lisensi yang ada dan sering diupayakan oleh para pebisnis ketika ingin membuka usaha yaitu lisensi hak dari kekayaan intelektual (HKI), lisensi massal, lisensi merek barang ataupun jasa, lisensi hasil karya seni dan karakter, lisensi bidang pendidikan, dan lisensi bidang teknologi.

Baca juga: Bisnis Lisensi Masih Terus Bergeliat di Tahun 2021

Susanty mengatakan, konsep lisensi berbeda dengan konsep franchise atau waralaba.

Menurut dia, bisnis lisensi memiliki keterlibatan yang lebih minim yang hanya sebatas mengajarkan bagaimana memproduksi lalu dipungut royalty-nya.

Sementara kalau franchise, pemilik bisnis harus mengemas menjadi suatu format bisnis yang biasanya dinamakan business format franchise.

"Lalu kemudian bisnis itu harus survive dengan melalui masa minimal 5 tahun dan terbukti menguntungkan atau profitable. Setelah itu masih ada kerjaan franchisor, yaitu memonitor, memandu, memberi pelatihan, menyelenggarakan marketing program-nya dan bantuan-bantuan lain yang berupa dukungan yang berkesinambungan," jelas Susanty.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.