Buwas Sebut Ada Lingkaran Setan yang Bikin Harga Kedelai Mahal

Kompas.com - 04/02/2021, 05:06 WIB
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) tentang Kebijakan Stimulus ke-2 Dampak COVID-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (11/3/2020). Dalam Rakor tersebut dihasilkan beberapa hal salah satunya mencangkup PPH Pasal 21 yang akan ditanggung Pemerintah untuk industri. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJADirektur Utama Perum Bulog Budi Waseso menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) tentang Kebijakan Stimulus ke-2 Dampak COVID-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (11/3/2020). Dalam Rakor tersebut dihasilkan beberapa hal salah satunya mencangkup PPH Pasal 21 yang akan ditanggung Pemerintah untuk industri.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, mahalnya harga kedelai saat ini disebabkan oleh lingkaran setan, yaitu praktik kartel serta birokrasi yang terlalu panjang.

Menurut dia, akar persoalan kenaikan harga kedelai bukanlah masalah kekurangan pasokan atau keterbatasan produksi luar negeri. Tetapi akibat adanya praktik kartel dari importir kedelai.

"Sehingga kalau bicara bagaimana masalah jagung, bagaimana kedelai, ya itu akar masalahnya, makanya ada lingkaran setan, ini yang sulit kita basmi kecuali bersama sama," ungkap pria yang akrab disapa Buwas itu dalam konferensi pers virtual, Rabu (3/2/2020).

Baca juga: Soal Ancaman Krisis Pangan Dunia, Buwas: Jangan Terlalu Khawatir

Dia mengatakan, harga pangan impor sebetulnya murah, seperti kedelai, jagung, bawang putih, hingga daging. Namun menjadi mahal saat sampai di tangan konsumen karena distribusinya yang berlapis-lapis.

Setiap berpindah dari satu pihak ke pihak lainnya maka akan ada pungutan biaya, sehingga ongkos pengirimannya menjadi mahal. Kemudian biaya itu akhirnya dibebankan kepada konsumen.

"Akar masalahnya karena kartel terlalu banyak, birokrasi terlalu panjang. Satu ke satu semua pakai biaya. Nah ini yang kita istilahkan wujud korupsi sebenarnya," katanya.

"Tapi hasil atau beban korupsi itu dibebankan ke masyarakat yaitu konsumen. Dari harga Rp 7.000 dijual Rp 12.000, selisih Rp 5.000, yang Rp 5.000 ini dibebankan ke konsumen, padahal yang menikmati oknum-oknum tertentu," lanjut Buwas.

Menurut dia, Bulog sebenarnya punya tugas untuk menjaga ketersedian dan stabilisasi harga kedelai, selain beras dan jagung. Ini sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan Kepada Perum Bulog Dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional.

Namun demikian, hingga saat ini ia mengaku Bulog tak bisa menjalankan tugas tersebut, khususnya dalam hal impor kedelai. Padahal, seringkali perajin tahu dan tempe menanyakan perihal importasi kedelai kepada Bulog.

Buwas menyebutkan, para perajin menginginkan Bulog yang melakukan importasi kedelai, bukan oleh importir swasta. Sehingga diharapkan Bulog dapat menjamin ketersediaan kedelai dan stabilisasi harganya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tangani Banjir di Bandung, Ini yang Dilakukan Kementerian PUPR

Tangani Banjir di Bandung, Ini yang Dilakukan Kementerian PUPR

Rilis
Erick Thohir Dorong Generasi Muda Indonesia Buat Game Sendiri

Erick Thohir Dorong Generasi Muda Indonesia Buat Game Sendiri

Whats New
Hukum Permintaan: Pengertian, Bunyi, dan Faktor yang Memengaruhinya

Hukum Permintaan: Pengertian, Bunyi, dan Faktor yang Memengaruhinya

Whats New
BPKP Lakukan Audit Terkait Dugaan korupsi Garuda Indonesia

BPKP Lakukan Audit Terkait Dugaan korupsi Garuda Indonesia

Whats New
Trading Forex adalah “Ilmu Pasti” yang Tidak Pasti

Trading Forex adalah “Ilmu Pasti” yang Tidak Pasti

Earn Smart
Kaji Dampak ke PLN, Pemerintah Tahan Penerapan Aturan PLTS Atap

Kaji Dampak ke PLN, Pemerintah Tahan Penerapan Aturan PLTS Atap

Whats New
Masih Khawatir Investasi Emas Digital? Bappebti Pastikan Fisik Emasnya Ada

Masih Khawatir Investasi Emas Digital? Bappebti Pastikan Fisik Emasnya Ada

Whats New
Aplikasi Apotek Online GoApotik Raih Sertifikasi ISO 27001

Aplikasi Apotek Online GoApotik Raih Sertifikasi ISO 27001

Rilis
Kolaborasi dengan Startup, Erick Thohir Mau Hadirkan BUMN Day

Kolaborasi dengan Startup, Erick Thohir Mau Hadirkan BUMN Day

Whats New
Lalu Lintas Tol Padaleunyi Dialihkan Mulai 18-21 Januari, Imbas Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Lalu Lintas Tol Padaleunyi Dialihkan Mulai 18-21 Januari, Imbas Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Whats New
 Pesan Taxi Blue Bird Kini Bisa dari BCA Mobile Banking, Ada Diskon Hingga Rp 20.000

Pesan Taxi Blue Bird Kini Bisa dari BCA Mobile Banking, Ada Diskon Hingga Rp 20.000

Spend Smart
Cara Daftar Vaksin Booster di Aplikasi PeduliLindungi

Cara Daftar Vaksin Booster di Aplikasi PeduliLindungi

Whats New
Pengguna Aplikasi Mapan di Jawa-Bali Sudah 3 Juta Orang, Kini Sasar Sumatera dan Sulawesi

Pengguna Aplikasi Mapan di Jawa-Bali Sudah 3 Juta Orang, Kini Sasar Sumatera dan Sulawesi

Whats New
Rekomendasi Sandiaga Uno: Museum Pasifika Bali Jadi Venue Side Event G20

Rekomendasi Sandiaga Uno: Museum Pasifika Bali Jadi Venue Side Event G20

Whats New
Realisasi Investasi Hulu Migas 2021 Tak Capai Target, tapi Permintaan Minyak Diprediksi Naik

Realisasi Investasi Hulu Migas 2021 Tak Capai Target, tapi Permintaan Minyak Diprediksi Naik

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.