Investor Receh, Bandar Besar, dan "Connected Society"

Kompas.com - 04/02/2021, 07:07 WIB
Ilustrasi bursa ThinkstockIlustrasi bursa

Investor ritel akan sangat mungkin melakukan aksi-aksi “penyelamatan” saham atau perusahaan, sepanjang ada isu yang bisa menggerakkan mereka. Dan itu seperti yang terlihat di Wall Street pekan lalu.

Investor ritel di antara influencer dan bandar besar

Menarik sebenarnya mencermati perkembangan di Indonesia. Mengutip laporan BEI dan OJK, belakangan ini pertumbuhan investor ritel di bursa naik signifikan. Mereka adalah kelas menengah yang sangat akrab dengan medsos.

Saat pandemi ini, uang mereka idle karena tak bisa travelling. Sehingga, tidak sedikit dari mereka yang memilih menginvestasikan dananya ke saham.

Pada saat yang sama, muncul pula influencer dan public figure yang belakangan ini ikut nimbrung soal saham. Apa yang diomongkan, sedikit banyak berpengaruh ke pergerakan saham tertentu dan tak sedikit investor ritel yang ikut-ikutan melakukan aksi beli.

Para trader senior yang sudah lama berkecimpung di bursa, kerap dibuat pusing oleh para influencer dan public figure tersebut. Ini karena rekomendasi dari influencer itu dianggap sering mengacaukan perhitungan pergerakan saham, baik secara fundamental maupun teknikal.

Baca juga: Deretan Influencer yang Main Saham, dari Anak Presiden hingga Ustaz

Selain itu, apa yang dilakukan para influencer itu dikhawatirkan bisa menjerumuskan investor-investor pemula yang tak paham cara bermain saham.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hingga akhirnya, influencer dan public figure tersebut mendapat julukan baru: juru pom pom saham. Bahkan ada pula yang berinisiatif membuat petisi agar aksi-aksi public figure itu distop oleh otoritas terkait.

Ya, apapun julukan dan upaya yang dilakukan untuk menghentikan mereka, tren seperti itu menjadi sesuatu yang tak terelakkan ketika media sosial hadir begitu masifnya dan influencer menjadi panutannya.

Sekaligus, banyaknya kelas menengah yang menjadi investor saham bisa saja mengubah lanskap permainan di pasar modal dengan melakukan “aksi-aksi heroik” saat ada isu bersama yang menggerakkan.

Ini sekaligus bisa menjadi warning bagi para bandar besar, bahwa sewaktu-waktu permainan mereka bisa saja dibalikkan sebagaimana yang terjadi di bursa AS.

Namun demikian, investor ritel tetaplah mereka yang mencoba mengais-ngais peruntungan dengan modal terbatas. Tak sedikit pula dari mereka yang kurang memiliki pemahaman mengenai portofolio investasi yang dibelinya.

Terlepas dari motif yang melatari investor ritel melakukan trading saham, edukasi tentang risiko investasi oleh pihak terkait sangat diperlukan. Ini agar investor kelas menengah tersebut tetap paham dengan keputusan yang diambil, di tengah semakin kuatnya influencer berebut pengaruh dengan bandar-bandar besar di lantai bursa.

Baca juga: Mau Investasi Saham? Ini Saran BEI

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X