Insurtech PasarPolis Dapat Pendanaan dari IFC Sebesar Rp 70 Miliar

Kompas.com - 04/02/2021, 19:45 WIB
Ilustrasi dana bantuan langsung tunai (Dok Shutterstock) Ilustrasi dana bantuan langsung tunai

JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan asuransi berbasis teknologi PT Pasar Polis Indonesia atau PasarPolis mendapatkan pendanaan dari International Finance Corporation (IFC), yang merupakan institusi keuangan di bawah Bank Dunia.

Besaran investasi yang disuntikkan oleh IFC mencapai 5 juta dollar AS atau sekitar Rp 70 miliar (kurs Rp 14.000).

Manager IFC untuk Indonesia, Malaysia, Timor Leste Jack Sidik menjelaskan, investasi tersebut berbentuk ekuitas dan ditujukan untuk mengembangkan infrastruktur yang menghubungkan perusahaan asuransi, platform digital, dan nasabah yang sebelumnya tidak terlayani oleh sektor asuransi tradisional.

Baca juga: Datangkan Buyer Asing untuk Produk UKM Halal, Kemenkop Gandeng IFC

“Investasi IFC kepada PasarPolis adalah ekuitas sebesar 5 juta dollar AS dalam bentuk rupiah,” ujar Jack dalam konferensi pers kerja sama strategis IFC dan PasarPolis, Kamis (4/2/2021).

CEO dan Founder PasarPolis Cleosent Randing menjelaskan, kerja sama tersebut turut membantu PasarPolis memperluas jaringan internasional.

Selain itu juga memperluas rangkaian produk yang dapat disertakan dalam ekonomi digital, menawarkan asuransi mikro berbasis teknologi yang terjangkau serta dalam mengembangkan peluang kemitraan strategis dari yang saat ini sudah terjalin dengan lebih dari 25 platform digital terkemuka di Indonesia, termasuk di dalamnya GoJek, Tokopedia, Kredivo, Pegipegi dan Bukalapak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Selain itu, investasi ini juga meningkatkan daya saing dengan memanfaatkan kemitraan dengan berbagai platform digital dalam menawarkan produk asuransi bite-sized dan on-demand," jelas dia.

Kemitraaan ini diresmikan di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat menjadi 130 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Baca juga: IFC Targetkan Bisa Investasi di Indonesia Rp 50,76 Triliun hingga 2022

Hal itu didorong oleh pertumbuhan pesat industri e-commerce, mulai dari layanan ride-hailing hingga agen perjalanan online.

Kebangkitan ekonomi digital Indonesia dan pola konsumen baru di negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini juga telah menciptakan peluang signifikan bagi inovasi produk asuransi mikro on-demand yang bisa langsung dibeli ketika konsumen melakukan transaksi digital.

“Kesenjangan akses asuransi dan distribusi asuransi yang tidak merata menjadi tantangan besar di Indonesia. Melalui adopsi teknologi di industri ini, kami mampu menjembatani kesenjangan akses bagi masyarakat yang sebelumnya sulit tersentuh layanan asuransi,” ujar Cleosent.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.