Rahasia Moncernya Pertanian Kala PDB RI Terburuk Sejak Krisis 98

Kompas.com - 08/02/2021, 08:39 WIB
Petani merawat tanaman mereka yang berada di lereng-lerang bukit di kawasan dataran tinggi Dieng, Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (15/11/2020). Mata pencaharian masyarakat kawasan Dieng didominasi oleh sektor pertanian, khususnya tanaman semusim pada ketinggian lebih dari 1.900 meter di atas permukaan laut, komoditas tanaman pertanian yang dibudidayakan petani lebih didominasi oleh tanaman kentang. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetani merawat tanaman mereka yang berada di lereng-lerang bukit di kawasan dataran tinggi Dieng, Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (15/11/2020). Mata pencaharian masyarakat kawasan Dieng didominasi oleh sektor pertanian, khususnya tanaman semusim pada ketinggian lebih dari 1.900 meter di atas permukaan laut, komoditas tanaman pertanian yang dibudidayakan petani lebih didominasi oleh tanaman kentang.


KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal IV-2020 minus 2,19 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara secara year to date ekonomi Indonesia tahun 2020 minus 2,07 persen. Ini merupakan angka terburuk sejak krisis tahun 1998.

Meski begitu, PDB sektor pertanian masih tetap moncer. Betapa tidak, sektor ini jadi salah satu penopang pertumbuhan nasional pada kuartal IV-2020, dengan angka tumbuh sebesar 2,59 persen (yoy).

Sektor pertanian merupakan yang tumbuh positif selama triwulan IV-2020,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, Jumat (5/2/2021) lalu.

Suhariyanto menilai, peningkatan sektor pertanian dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah komoditas tanaman pangan yang mengalami pertumbuhan sebesar 10,47 persen.

Hal ini terjadi lantaran adanya peningkatan luas panen dan produksi padi, jagung, ubi kayu serta cuaca yang mendukung. Komoditas perkebunan juga tumbuh 1,13 persen dengan komoditasnya berupa kelapa sawit.

“Kemudian komoditas hortikultura juga tumbuh 7,85 persen karena permintaan buah-buahan dan sayuran selama pandemi Covid-19,” katanya.

Baca juga: Sandiaga Uno Bentuk Satgas Toilet Indonesia, Apa Itu?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski begitu, peningkatan tidak diikuti oleh komoditas peternakan karena menurunnya permintaan industri pemotongan hewan akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

Jasa petani yang hebat dan tangguh

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik kementan Kuntoro Boga Andri mengaku bersyukur sektor pertanian terus mampu menjaga tren positif kontribusinya pada ekonomi nasional.

“Ini adalah karena petani kita tak henti berkontribusi buat ekonomi nasional. Kami di Kementan membantu mereka menjaga tetap bekerja dengan segala kemampuan yang ada,” kata Kuntoro dalam keterangannya, dikutip Senin (8/2/2021).

Karena itu, ia mengucap terima kasih tak terhingga kepada para petani, karena tetap berjuang di tengah lesunya ekonomi dan ancaman pandemi. Menurutnya, tahun 2020 dilalui dengan tidak mudah, mulai dengan munculnya beberapa permasalahan dalam produksi hingga pemasaran yang terhambat pembatasan jalur distribusi.

Baca juga: Daftar Lengkap Insentif Usaha yang Diperpanjang Sri Mulyani hingga 30 Juni 2021

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X