Rahasia Moncernya Pertanian Kala PDB RI Terburuk Sejak Krisis 98

Kompas.com - 08/02/2021, 08:39 WIB
Petani merawat tanaman mereka yang berada di lereng-lerang bukit di kawasan dataran tinggi Dieng, Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (15/11/2020). Mata pencaharian masyarakat kawasan Dieng didominasi oleh sektor pertanian, khususnya tanaman semusim pada ketinggian lebih dari 1.900 meter di atas permukaan laut, komoditas tanaman pertanian yang dibudidayakan petani lebih didominasi oleh tanaman kentang. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetani merawat tanaman mereka yang berada di lereng-lerang bukit di kawasan dataran tinggi Dieng, Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (15/11/2020). Mata pencaharian masyarakat kawasan Dieng didominasi oleh sektor pertanian, khususnya tanaman semusim pada ketinggian lebih dari 1.900 meter di atas permukaan laut, komoditas tanaman pertanian yang dibudidayakan petani lebih didominasi oleh tanaman kentang.

“Petani kita sangat hebat dan tangguh. Kami akan terus jaga momentum ini di 2021 agar kontribusi sektor pertanian terjaga, bahkan bisa meningkat. Berbagai masalah 2020 kita selesaikan agar tidak menghambat produksi,” jelasnya.

Pertanian jadi bantalan resesi

Pengamat Ekonomi Pertanian Prof Bustanul Arifin buka suara atas kinerja sektor pertanian khususnya sub sektor tanaman pangan. Ia menilai, kontribusi tanaman pangan semakin menunjukkan bahwa sektor pertanian menjadi bantalan selama resesi ekonomi karena pandemi.

"Maka dari itu, sektor pertanian secara umum perlu meningkatkan aplikasi dan perubahan teknologi. Ini untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi yang lebih baik lagi," imbuh Bustanul, dikutip Senin (8/2/2021).

Terkait kinerja subsektor tanaman pangan dan hortikulturan paling tinggi di antara beberapa subsektor dalam pertanian, Bustanul menilai disebabkan karena angka produksi memang meningkat dan harga cukup bersahabat. Hal ini menyebabkan nilai tambah juga naik signifikan yang menjadi basis perhitungan PDB Pertanian.

"Namun perlu jadi catatan bahwa pada kondisi daya beli masyarakat yang turun karena pandemi, persoalan akses pangan dapat menjadi persoalan serius, jika tidak diantisipasi dan ditanggulangi secara baik," ujarnya.

Sementara itu, peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI), Riyanto mengatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengarahkan kebijakan ekonomi dan politik negara pada sektor pertanian.

Menurut dia, sektor pertanian tidak boleh dipandang sebelah mata mengingat kontribusi terhadap ekonomu nasional sudah terbukti dan teruji.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kepentingan sektor pertanian harus diatas kepentingan yang lain karena ini menyangkut hak hidup orang banyak. Saya kira sektor pertanian tidak boleh dipandang sebelah mata," kata Riyanto.

Baca juga: Kembali Jadi Komisaris Tokopedia, Wishnutama: Im Back

Dia mengatakan, selama ini sektor pertanian cenderung dikesampingkan dan tidak menjadi prioritas pembangunan. Tetapi kata Riyanto, jika melihat fakta-fakta kinerja dan kontribusi sektor pertanian selama pandemi ini, maka ke depan pemerintah harus memberi perhatian khusus untuk jalanya pembangunan nasional.

"Pemerintah harus menjadikan sektor pertanian sebagai proritas pembangunan dengan dukungan anggaran dan kebijakan yang berpihak pada pertanian," tuturnya.

Riyanto berharap, ke depan pemerintah Indonesia bisa lebih memanfaatkan keunggulan komparatif dan kompetitif pada sektor pertanian agar usaha-usaha yang ada di desa juga ikut terangkat dengan memaksimalkan pertanian.

"Sektor ini jika dikembangkan akan banyak menyerap tenaga kerja dan pastinya akan membantu peningkatan perekonomian," urainya.

Adapun berdasarkan lapangan usaha 2020, sektor pertanian juga mengalami pertumbuhan positif, yakni sebesar 1,75 persen. Bahkan hanya lapangan usaha pertanian saja yang tumbuh positif dibandingkan sektor lainnya.

"Lagi-lagi ini memberikan isyarat, sektor pertanian menjadi penolong di tengah resesi karena mampu menyediakan banyak lapangan kerja ditengah situasi ekonomi yang sulit karena banyak PHK," katanya.

Baca juga: Menteri Trenggono Mau Buat Terobosan, Nelayan Harus Dapat Pensiun

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.