Dorong Pemulihan Ekonomi, Mendag Optimalkan Perjanjian Dagang Internasional

Kompas.com - 09/02/2021, 15:11 WIB
Dokumentasi - Menteri Perdagangan Muhamad Luthfi, menyampaikan sambutan perpisahan di depan sejumlah pegawai Kementerian Perdagangan di Jakarta, Senin (13/10/2014). ANTARA FOTO/Ismar Patrizki/mes/am. ANTARA FOTO/Ismar Patrizki/mes/am.Dokumentasi - Menteri Perdagangan Muhamad Luthfi, menyampaikan sambutan perpisahan di depan sejumlah pegawai Kementerian Perdagangan di Jakarta, Senin (13/10/2014). ANTARA FOTO/Ismar Patrizki/mes/am.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, kementeriannya berupaya meningkatkan ekspor nonmigas untuk mendorong pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Salah satunya dengan mengoptimalkan perjanjian perdagangan internasional.

“Untuk mencapai target pertumbuhan ekspor nonmigas, kita harus membuka pasar Indonesia dan berkolaborasi dengan berbagai negara melalui perjanjian dagang yang sudah ada. Hal itu sekaligus sebagai upaya meningkatkan nilai tambah masing-masing produk yang diekspor,” ujar Mendag lewat keterangan resmi diterima di Jakarta, Selasa (9/2/2021), sebagaimana dikutip Antara.

Baca juga: Wamendag Sebut Game Online Potensial Ekspor

Sejumlah perjanjian perdagangan yaitu Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IKCEPA), Indonesia-Pakistan (IP-PTA), dan Indonesia-Australia.

Neraca perdagangan Indonesia pada 2020 mencatatkan surplus sebesar 21,7 miliar dollar AS dan menjadi yang tertinggi sejak 2012.

Namun, hal ini perlu diwaspadai karena surplus disebabkan penurunan impor yang lebih tajam. Ekspor selama 2020 hanya turun 2,6 persen (YoY), sementara impor turun hingga 17,3 persen (YoY).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lutfi mengungkapkan, ada tiga negara yang menjadi sumber surplus neraca perdagangan terbesar Indonesia, yaitu Amerika Serikat (surplus 11,13 miliar dollar AS), India (6,47 miliar dollar AS), dan Filipina (5,26 miliar dollar AS).

Adapun lima produk ekspor dengan pertumbuhan positif tertinggi pada 2020/2019 (YoY) adalah besi baja sebesar 46,84 persen, perhiasan 24,21 persen, minyak sawit mentah (crude palm oil per CPO) 17,5 persen, furnitur 11,64 persen, dan alas kaki 8,97 persen.

Baca juga: Wamendag Ungkap Tantangan RI Genjot Ekspor Produk Bernilai Tambah

Menurut Lutfi, pada 2020, komoditas besi baja menempati urutan ke-3 pada ekspor nonmigas Indonesia dengan kontribusi sebesar 7 persen atau senilai 10,85 miliar dollar AS.

Indonesia merupakan negara penghasil komoditas besi dan baja terbesar kedua di dunia setelah China. Bahkan, lebih dari 70 persen besi baja Indonesia diekspor ke China.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.