Mengadopsi Kendaraan Listrik, Belajarlah dari India

Kompas.com - 09/02/2021, 20:00 WIB
Ilustrasi mobil listrik. The GuardianIlustrasi mobil listrik.

Terdapat enam faktor yang mempengaruhi preferensi konsumen India untuk mengadopsi kendaraan listrik.

Pertama, waktu pengisian baterai (charge time). Ini terkait dengan waktu yang dihabiskan konsumen untuk menunggu baterai kendaraannya selesai terisi penuh. Semakin cepat waktu tunggu tentu akan menciptakan kenyamanan.

Baca juga: Ini Peran Pertamina Bangun Pabrik Baterai Listrik Berkapasitas 140 GW

Kedua, ketersediaan stasiun pengisian baterai (charging station availability). Jarak yang harus ditempuh konsumen untuk mencapai stasiun pengisian terdekat memberikan dampak bagi kenyamanan konsumen kendaraan listrik.

Ketiga, jarak tempuh pengendaraan (driving range). Kemampuan kendaraan listrik untuk mencapai jarak tertentu setelah satu kali pengisian baterai hingga penuh, menjadi pertimbangan berikutnya. Tentu hal ini berhubungan erat dengan teknologi baterai yang digunakan.

Keempat, biaya energi. Biaya mengoperasikan kendaraan listrik semestinya lebih murah daripada kendaraan konvensional.

Sebagai ilustrasi, di Indonesia tarif listrik per kwh secara rata-rata adalah sekitar Rp 1.500. Jika satu kendaraan listrik mampu menempuh 9 km per kwh maka biaya operasional hanya Rp 13.500 (Rp 1.500 x 9).

Dibandingkan kendaraan konvensional dengan jarak tempuh sama menggunakan bbm beroktan 92 seharga Rp 9.000 per liter maka diperoleh biaya sebesar Rp 81.000 (Rp 9.000 x 9). Jauh lebih murah kendaraan listrik. Belum lagi biaya pemeliharaan yang tidak memerlukan penggantian oli, busi dan sebagainya.

Kelima, harga jual. Harga kendaraan listrik relatif lebih tinggi daripada kendaraan konvensional. Hyundai Kona EV yang juga dijual di Indonesia seharga hampir Rp 700 juta. Konsumen memerlukan insentif khusus dari pemerintah untuk mendorong pembelian kendaraan listrik agar makin terjangkau.

Keenam, intensi penggunaan. Semakin tinggi intensi penggunaan maka makin cepat konsumen mengadopsi kendaraan listrik.

Intensi ini mesti dibangun dengan berbagai promosi yang bersifat edukatif mengenai nilai lebih kendaraan listrik seperti ramah lingkungan, biaya operasional lebih rendah, kenyamanan berkendara lebih baik dan sebagainya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X