Asosiasi Sebut Pandemi Covid-19 Justru Bikin Petani Sawit Makin Sejahtera, Apa Alasannya?

Kompas.com - 10/02/2021, 18:34 WIB
Ilustrasi perkebunan kelapa sawit RODERICK ADRIAN MOZESIlustrasi perkebunan kelapa sawit

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri kelapa sawit dalam negeri tetap mampu berkinerja positif di tengah tekanan pandemi Covid-19, baik dari sisi perkebunan, petani, maupun pabrik.

Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Medali Emas Manurung mengatakan, petani kelapa sawit dalam kondisi yang baik, tak terimbas pandemi. Bahkan, terjadi tren kenaikan harga pada tandan buah segar (TBS).

Hal itu berdasarkan survei yang dilakukan pada 11 provinsi dari 22 provinsi penghasil kelapa sawit yang dibawahi Apkasindo. Indikator survei itu mencakup dampak pandemi terhadap kegiatan panen, jumlah panen, hingga harga TBS.

"Jadi sebenarnya, justru pada saat pandemi Covid-19, petani itu semakin sejahtera karena faktanya harga sawit semakin naik," ungkap Gulat dalam webinar tentang Strategi Penguatan Kebijakan Pengelolaan Sawit, Rabu (10/2/2021).

Baca juga: Berkat Biodiesel, Pertamina Sudah Tak Lagi Impor Solar

Menurutnya, capaian positif industri sawit sepanjang tahun lalu utamanya didorong mandatori B30 atau campuran biodiesel 30 persen dalam BBM jenis solar. Program tersebut meningkatkan penyerapan sawit di dalam negeri.

Gulat bilang, tingginya penggunaan produk sawit turut membuat harga TBS menunjukkan tren peningkatan menjadi berkisar Rp 1.800 per kilogram. Sebelumnya, harga TBS hanya berkisar Rp 900-Rp 1.100 per kilogram.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Jadi faktanya B30 memang membuat industri sawit semakin baik," kata dia.

Hal senada juga sempat diungkapkan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono, yang menyebut indusri kelapa sawit tetap berjalan baik di tengah pandemi.

"Walaupun situasi pandemi, tapi industri sawit Indo tetap berjalan dengan normal. Perkebunan, petaninya, dan pabrik-pabriknya berjalan normal," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (4/2/2021).

Joko bahkan mengklaim tak ada kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada industri ini selama pandemi. Padahal banyak sektor ekonomi lainnya yang melakukan pengurangan pekerja imbas dari tekanan Covid-19.

"Saya monitor di industri sawit tidak terjadi pengurangan atau merumahkan karyawan, dan tidak terjadi penghentian operasi karena kaitan Covid-19. Kami bisa lewati 2020 dengan baik," ungkap dia.

Berdasarkan data Gapki, konsumsi minyak kelapa sawit (CPO) dalam negeri mencapai 17,35 juta ton di 2020, atau naik 3,6 persen dari 2019 yang sebesar 16,75 juta ton.

Baca juga: Meski Volume Turun, Nilai Ekspor Kelapa Sawit Sepanjang 2020 Naik Menjadi Rp 321,5 Triliun

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.