Pesan OJK ke Dirut BSI: Semua Produk Keuangan Konvesional Harus Ada dan Lebih Murah

Kompas.com - 10/02/2021, 20:10 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso memberikan keterangan pers di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (22/1/2020). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIKetua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso memberikan keterangan pers di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (22/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mewanti-wanti Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk mengembangkan produk keuangan syariah seiring resminya merger bank syariah terbesar di Indonesia ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso berpesan, semua produk keuangan di bank konvensional harus ada di BSI. Produknya pun harus lebih bagus dan lebih murah dari yang ditawarkan bank umum.

"Ayo jangan sampai masyarakat mengatakan, 'Saya enggak nemu produk ini di syariah'. Yang ada di konvensional, harus ada di syariah, produk apapun itu, mulai dari hedging, kredit, dan sebagainya. Di syariah harus lebih murah, Pak Hery (Dirut BSI)," kata Wimboh dalam Webinar Perbankan Syariah secara virtual, Rabu (10/2/2021).

Baca juga: OJK: Ada 6 Bank Syariah Bermodal Inti di Bawah Rp 2 Triliun

Wimboh menuturkan, kuatnya modal inti BSI yang mencapai Rp 22,6 triliun perlu dimanfaatkan untuk mengembangkan produk-produk tersebut.

Modal inti bisa digunakan untuk merekrut orang-orang yang paham mengenai literasi produk berlandaskan prinsip syariah. Pun untuk melakukan riset dan penelitian terkait produk yang paling dibutuhkan saat ini.

Dengan begitu, bank syariah mampu menutup kebutuhan layanan keuangan yang dibutuhkan masyarakat, baik muslim maupun non muslim.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kita harus bisa menyusun satu produk yang kualitasnya bagus, harganya murah, produknya bervariasi, dan bisa diakses oleh masyarakat secara gampang. Kalau itu bisa dilakukan otomatis market share bank syariah akan mendominasi," ungkap Wimboh.

Adapun saat ini, pangsa pasar perbankan syariah baru sekitar 9,9 persen. Hal ini mempengaruhi tingkat literasi dan inklusi keuangan produk keuangan syariah.

Berdasarkan data OJK, literasi keuangan syariah baru 8,93 persen. Angkanya jauh dibanding literasi keuangan nasional sebesar 38,03 persen.

Begitupun dengan tingkat inklusi keuangan. Inklusi keuangan syariah baru mencapai 9,1 persen, berbanding jauh dengan tingkat inklusi nasional sebesar 76,19 persen.

"Dan ini (inklusi dan literasi keuangan nasional) terus berkembang. Sehingga percepatan perkembangan syariah jauh tertinggal dengan pengembangan yang konvensional," pungkas Wimboh.

Baca juga: Cerita Erick Thohir Dibisiki Jokowi soal Bank Syariah Indonesia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.