Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Dradjad H Wibowo
Ekonom

Ekonom, Lektor Kepala Perbanas Institute, Ketua Pembina Sustainable Development Indonesia (SDI), Ketua Pendiri IFCC, dan Ketua Dewan Pakar PAN.

Sebuah Rekam Jejak Vaksinasi Covid-19: Tulisan Kedua dari Seri Pemulihan Ekonomi dan Vaksinasi

Kompas.com - 18/02/2021, 13:28 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Pengaruh belanja pemerintah terhadap investasi juga sama. Investasi tetap terkontraksi lebih dari -6 persen pada Q3-Q4/2020.

Bangunan justru membesar anjloknya, dari -5,26 persen (Q2) menjadi -5,60 persen (Q3) dan -6,63 persen (Q4). Padahal, bangunan adalah pos terbesar dari investasi (76 persen).

Pos kedua terbesar investasi, yaitu mesin dan perlengkapan (9,74 persen), lebih drastis anjloknya, dari -12,86 persen (Q2) menjadi -21,01 persen (Q3), meski lalu membaik ke -7,57 persen (Q4).

Saya juga tidak habis pikir melihat sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) 2020 sampai Rp 234,7 triliun, sementara utang pemerintah bertambah Rp 1.257 triliun pada 2020.

Baca juga: Makin Menumpuk, Utang Luar Negeri Indonesia Capai Rp 5.803 Triliun

Penghentian Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik juga aneh, mengingat pada awal tahun konstruksi sudah terlihat melemah. Sinyal ini terkonfirmasi oleh data pertumbuhan 2,90 persen (Q1), atau setengah dari tahun 2019.

Selama Q2-Q4/2020 sektor konstruksi anjlok -4,5 persen sampai -5,7 persen. Saya tidak tahu berapa kontribusi dari penghentian DAK Fisik. Yang jelas, DAK Fisik sangat membantu konstruksi di daerah. Banyak rakyat yang bisa makan darinya.

Wacana pengendalian BI dan OJK oleh Kementerian Keuangan lebih aneh lagi. Memangnya wacana ini bisa mengatasi pandemi dan mencegah resesi?

Saran

Ada beberapa hal lain lagi sebenarnya. Namun, mari bicara perbaikan ke depan. Saran saya, pertama, jadikan vaksinasi dan pengendalian pandemi sebagai motor pemulihan ekonomi.

Untuk itu kita perlu riset dan edukasi publik besar-besaran. Riset tentang imunitas kawanan hasil vaksinasi, efektifitas vaksin terhadap berbagai varian, serta pengembangan vaksin dan obat, mutlak kita butuhkan.

Rakyat juga perlu dididik bahwa setelah divaksin, mereka masih mungkin sakit selama antibodi belum muncul dan atau ada varian yang baru. Selain itu, perlu edukasi melawan bualan anti-vaksinasi.

Baca juga: Apa yang Terjadi Jika Beberapa Orang Menolak Vaksin?

Rakyat perlu diberi tahu, sekitar 136 tahun yang lalu di tengah epidemi cacar, dokter Alexander M Ross dari Montreal menyebar pamflet anti-vaksinasi.

Argumennya mirip dengan sekarang. Itu mulai dari konspirasi Rusia hingga menganggap remeh cacar meski mortalitasnya 30-40 persen, jauh di atas Covid-19.

Faktanya, dengan vaksinasi umat manusia akhirnya berhasil membasmi epidemi cacar. Satu lagi, Ross ternyata ikut divaksin.

Kedua, pulihkan kepercayaan konsumen, bisnis, dan investasi. Salah satunya adalah melalui program vaksinasi bisnis berbayar mahal. Targetnya kelas menengah atas, karena mereka menyumbang 82 persen lebih dari konsumsi.

Sepintas ini seperti tidak adil. Tapi jika mereka sudah imun dan pede, konsumsi dan investasi bisa lebih cepat pulih. Bio Farma juga untung karena ada pemasukan triliunan rupiah.

Ketiga, ubah bauran anggaran dalam APBN 2021 dengan mengutamakan program dan proyek yang memicu konsumsi dan investasi. Banyak rinciannya, yang tidak mungkin ditulis di sini.

Sebagai penutup, ada catatan kecil. Meski saya unsur pimpinan parpol, sejak muda saya adalah peneliti. Karena itu, sains, riset, data dan dokumen—bukan politik—yang menjadi basis saya dalam mengritik atau mendukung sebuah kebijakan.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com