Kompas.com - 27/02/2021, 08:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperpanjang relaksasi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat syariah (BPRS) sebagai dampak pandemi Covid-19.

Kebijakan teranyar OJK ini tertuang dalam POJK Nomor 2/POJK.03/2021 yang mulai berlaku tanggal 18 Februari 2021 sebagai perubahan dari kebijakan sebelumnya, POJK Nomor 34/POJK.03/2020 yang semula berakhir pada Maret 2021.

"Penerapan kebijakan bagi BPR dan BPRS dalam Peraturan OJK ini berlaku sampai dengan tanggal 31 Maret 2022," tulis beleid yang ditandatangan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, dikutip Sabtu (27/2/2021).

Baca juga: Bos OJK Sebut Suku Bunga Kredit Bank Besar Sudah Mulai Turun

Adapun pokok-pokok kebijakan yang diatur terdiri dari beberapa poin. Poin pertama, penyisihan penghapusan aset produktif (PPAP) umum untuk aset produktif dengan kualitas lancar dapat dibentuk sebesar 0 persen atau kurang dari 0,5 persen dari aset produktif.

Persentase nilai Agunan yang Diambil Alih (AYDA) sebagai faktor pengurang modal inti dalam perhitungan KPMM BPR/BPRS menggunakan perhitungan persentase dari nilai AYDA pada posisi Maret 2020.

Penyediaan dana pendidikan dan pelatihan SDM tahun 2021 dapat disediakan sebesar kurang dari 5 persen dari realisasi biaya SDM tahun sebelumnya.

Penyediaan dana dalam bentuk penempatan dana antar bank pada BPR/BPRS lain untuk penanggulangan permasalahan likuiditas dikecualikan dari ketentuan BMPK atau BMPD.

"Penempatan dana antar bank tersebut dapat dilakukan kepada seluruh BPR pihak terkait dan tidak terkait paling banyak 30 persen dari modal BPR/BPRS," tulis beleid.

Kemudian jika menerapkan kebijakan yang terdiri dari 4 poin di atas, BPRS harus melakukan penyesuaian pedoman atas seluruh kebijakan dan mendokumentasi maupun mengadministrasi memadai atas seluruh kebijakan.

Baca juga: OJK Tak Masalah Ada Bank Digital, asalkan...

BPR/BPRS pun harus melakukan simulasi perhitungan dampak penerapan kebijakan dari sisi kecukupan modal perseroan maupun likuiditas secara periodik.

Sementara itu, OJK dapat menentukan periode simulasi perhitungan dampak yang lebih cepat untuk BPR/BPRS. OJK nantinya bakal meminta hasil simulasi perhitungan.

Adapun jika BPR/BPRS mau membagikan dividen atau tantiem, perseroan harus memastikan pembagiannya tidak berdampak pada kecukupan modal sesuai POJK KPMM.

"OJK dapat memberikan sanksi kepada BPR/BPRS yang tidak memenuhi ketentuan terkait pembagian dividen dan tantiem," sebut beleid.

Baca juga: OJK Ungkap Alasan Perpanjangan Stimulus Restrukturisasi Kredit

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.