OJK Akui Jumlah Restrukturisasi Kredit Tak Sebesar Ekspektasi

Kompas.com - 02/03/2021, 18:23 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan sambutan di Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 ( Instagram OJK @ojkindonesia) Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan sambutan di Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 ( Instagram OJK @ojkindonesia)

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut restrukturisasi kredit yang diberikan perbankan rupanya tak sebesar ekspektasi otoritas.

Awalnya OJK memprediksi jumlah kredit yang direstrukturisasi akan mencapai 25 persen.

Namun, kenyataannya, jumlah restrukturisasi hanya 17,73 persen dari total kredit keseluruhan.

Baca juga: Ada DP 0 Persen, BTN Yakin Kredit Tumbuh di Atas Target

"Tidak sebesar yang kita bayangkan. Kita memproyeksi di sekitar 25 persen dari total kredit. Tapi angka terakhir hanya sekitar 18 persen, bahkan di bawah 18 persen," kata Wimboh dalam MNC Group Investor Forum 2021 secara virtual, Selasa (2/3/2021).

Wimboh menyebut, beberapa debitur bahkan sudah mampu melakukan pembayaran kredit kembali.

Hal ini menunjukkan situasi ekonomi kembali normal sedikit demi sedikit, setelah dihantam pandemi Covid-19.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tapi kita harus tetap memperhatikan dan meyakinkan agar masyarakat confident. Saya percaya tidak akan lama lagi hanya masalah waktu," ucap Wimboh.

Berdasarkan catatan OJK, jumlah kredit yang mendapat restrukturisasi di perbankan sebesar Rp 987,5 triliun.

Baca juga: Suku Bunga Kredit Tak Kunjung Turun, Ini yang Akan Dilakukan Sri Mulyani Bersama KSSK

Restrukturisasi diberikan kepada 7,9 juta debitur.

Restrukturisasi didominasi oleh sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebesar 6,2 juta debitur dengan baki debet sebanyak Rp388,3 triliun.

Adapun sektor non-UMKM sebesar 1,8 juta debitur dengan jumlah baki debet sebanyak Rp 599,15 triliun.

Wimboh mengungkap, penciptaan permintaan akan membuat permintaan kredit kembali pulih di tahun 2021.

Permintaan tersebut bisa didorong oleh kelancaran vaksinasi Covid-19 yang mulai didistribusikan sejak Januari 2021.

Baca juga: Lebih Baik Mana, Utang Pakai KTA atau Kartu Kredit?

"Vaksin sebagai game changer sangat penting untuk membawa kembali kepercayaan konsumen. Sektor-sektor usaha (yang terdampak Covid-19), tidak akan bisa mengabsorsi kredit di bank jika permintaan di bawah kondisi normal," pungkas Wimboh.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.