Sri Mulyani: Defisit APBN Indonesia Lebih Baik Dibandingkan India hingga Malaysia

Kompas.com - 03/03/2021, 17:11 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengikuti rapat kerja tentang Protokol Ketujuh Jasa Keuangan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2020). Dilaksanakannya ratifikasi protokol ketujuh jasa keuangan AFAS maka pertumbuhan industri asuransi syariah Indonesia berpeluang untuk berkembang melalui peningkatan investasi dan persaingan serta memperluas akses pasar yang dikomitmenkan negara mitra ASEAN. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/wsj. ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARIMenteri Keuangan Sri Mulyani mengikuti rapat kerja tentang Protokol Ketujuh Jasa Keuangan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2020). Dilaksanakannya ratifikasi protokol ketujuh jasa keuangan AFAS maka pertumbuhan industri asuransi syariah Indonesia berpeluang untuk berkembang melalui peningkatan investasi dan persaingan serta memperluas akses pasar yang dikomitmenkan negara mitra ASEAN. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/wsj.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, realisasi defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2020, lebih baik dibanding berbagai negara lain. Ini terefleksikan dengan hasil dari peningkatan pengeluaran negara terhadap realisasi pertumbuhan ekonomi.

Pada tahun lalu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat defisit APBN sebesar Rp 956,3 triliun. Angka itu setara dengan 6,09 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Defisit anggaran itu disebut Sri Mulyani lebih rendah dibanding India, Filipina, hingga Malaysia.

"Kita bandingkan dengan India yang defisitnya 13 persen, Filipina di 8,1 persen, dan Malaysia di 6,5 persen," katanya dalam diskusi virtual, Rabu (3/3/2021).

Baca juga: Soal Dugaan Kasus Suap di Ditjen Pajak, Sri Mulyani: Tindak Lanjut Pengaduan Masyarakat di Awal 2020

Selain realisasi defisit anggaran yang lebih rendah, hasil dari peningkatan anggaran belanja negara juga dinilai lebih baik dibandingkan ketiga negara tersebut. Ini terefleksikan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menilai, meskipun perekonomian Indonesia terkontraksi sebesar 2,07 persen pada tahun lalu, namun realisasi itu masih lebih baik dibanding India hingga Malaysia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Mereka dihadapkan kepada kontraksi ekonomi yang jauh lebih dalam. Artinya mereka mengeluarkan anggaran yang lebih besar, namun ekonominya kontraksinya tetap sangat parah," tuturnya.

Meskipun demikian, bendahara negara itu menekankan, pihaknya tidak boleh terlena dengan capaian tersebut. Dengan ancaman virus corona yang masih nyata, Kemenkeu masih perlu menjaga stabilitas APBN Indonesia.

"Indonesia masih perlu menjaga kewasapadaan karena Covid masih menjangkit," ucap dia.

Sebagai informasi, pada tahun ini defisit APBN ditetapkan mencapai 5,7 persen dari Produk Domestik Bruto atau sebesar Rp 1.006,4 triliun.

Baca juga: Pegawai Ditjen Pajak Terlibat Kasus Suap, Sri Mulyani: Ini Jelas Pengkhianatan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.