Bidik Pasar Ekspor, Mendag: Negara yang Ekonominya Tumbuh 5 Persen

Kompas.com - 04/03/2021, 17:46 WIB
Ilustrasi impor SHUTTERSTOCKIlustrasi impor

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, pihaknya tengah membidik sejumlah negara non-tradisional untuk menjadi pasar ekspor guna meningkatkan kinerja perdagangan Indonesia.

Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat kerja Kementerian Perdagangan yang meminta untuk memperluas pangsa ekspor.

Namun, bukan sembarangan negara yang diincar Kemendag untuk dijadikan mitra perdagangan baru. Lutfi bilang, negara-negara tersebut umumnya dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.

Baca juga: Jokowi Gaungkan Benci Produk Luar Negeri, Pedagang Pasar: Ini yang Kami Tunggu

"Sebenarnya kami telah siapkan beberapa pasar non tradisional yang kami sudah lihat dan pelajari, biasanya adalah negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen," ungkap Lutfi dalam konferensi pers Rapat Kerja Kemendag, Kamis (4/3/2021).

Lutfi menyebutkan, setidaknya ada 5 organisasi antar negara yang mencakup negara-negara non-tradisional untuk dijadikan pasar ekspor Indonesia.

Pertama, Eurasian Economic Union (EAEU) yang beranggotakan 8 negara, yakni Rusia, Armenia, Belarus, Kazakhtan, Kirgistan, Kuba, Moldova, dan Uzbekistan.

Kedua, East African Community (EAC) yang beranggotakan enam negara yakni Burundi, Kenya, Rwanda, Sudan Selatan, Tanzania, dan Uganda.

Baca juga: Jokowi Gaungkan Benci Produk Luar Negeri, Mendag Siapkan Aturan Khusus

Ketiga, Economic Community of West African States (ECOWAS) yang terdiri 15 negara di wilayah barat benua Afrika, di antaranya Nigeria, Pantai Gading, dan Ghana.

Keempat, Gulf Cooperation Council (GCC) yang beranggotakan 6 negara di Timur Tengah, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman.

Kelima adalah organisasi di kawasan Amerika Selatan atau latin yang tegabung dalam Mercosur, beranggotakan Brasil, Argentina, Paraguay, Uruguay, dan Venezuela.

"Ini adalah pasar-pasar non-tradisional yang akan menjadi target dari perjanjian perdagangan kita di masa yang akan datang," pungkas Lutfi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X