Megaproyek Pembangkit 35.000 MW Dinilai Berpotensi Menghambat Pertumbuhan EBT

Kompas.com - 08/03/2021, 12:19 WIB
Menteri ESDM Arifin Tasrif, dalam Rapat Kerja Lanjutan dengan Komisi VII DPR, Selasa (23/6/2020). DOK. Humas Kementerian ESDMMenteri ESDM Arifin Tasrif, dalam Rapat Kerja Lanjutan dengan Komisi VII DPR, Selasa (23/6/2020).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaksanaan megaproyek pembangkit listrik 35.000 mega watt (MW) dinilai berpotensi menghambat pertumbuhan bauran energi baru terbarukan (EBT) terhadap energi primer nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menjelaskan, saat ini permintaan listrik tengah mengalami penurunan akibat terdampak oleh pandemi Covid-19. Dengan tetap dijalankannya proyek 35.000 MW, maka akan terjadi kelebihan pasokan listrik, yang nantinya berdampak kepada pertumbuhan bauran EBT.

"Kalau (proyek pembangkit 35.000 MW) ini diselesaikan, ditambah dengan adanya faktor keterlambatan penyerapan energi, perlambatan ekonomi disebabkan pandemi, maka kelebihan ini juga menjadi tantangan kita (meningkatkan bauran EBT)," ujarnya dalam sebuah diskusi virtual, Senin (8/3/2021).

Baca juga: Hari Perempuan Sedunia, Erick Thohir Targetkan Tiap BUMN Punya Direktur Perempuan

Lebih lanjut Arifin mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan perhitungan kembali terkait kebutuhan listrik di masa mendatang. Kehadiran pandemi Covid-19 sejak tahun lalu telah mendisrupsi perhitungan awal Kementerian ESDM terkait kebutuhan listrik ke depan.

"Waktu kita menetapkan 35 gigawatt itu memang target pertumbuhan ekonomi tinggi. Dalam situasi sekarang ini harus me-review kembali, merekalkulasi kembali pertumbuhannya," kata dia.

Kendati demikian, Arifin berkomitmen, pemerintah akan terus menggenjot bauran EBT. Ia bersama jajarannya tengah menyusun strategi untuk meningkatkan porsi energi bersih itu.

Bahkan pada 2050, Kementerian ESDM menargetkan porsi bauran EBT terhadap energi primer nasional dapat mencapai 31 persen, di mana pada tahun tersebut, pasokan listrik nasional diproyeksi mencapai 200 GW, dengan asumsi rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen setiap tahunnya.

"Kalau 31 persen dari 200 GW, kontribusi energi terbarukan adalah 60 gw. Tapi saya yakin kita bisa lebih besar daripada ini," tuturnya.

Sebagai informasi, realisasi proyek pembangkit 35.000 MW baru mencapai 8.400 MW atau setara 24 persen hingga Agustus 2020 lalu. Masih ada proyek yang sedang dalam tahap konstruksi sebanyak 19.000 MW, sementara proyek yang telah dilaksanakan kontrak power purchase agreement (PPA) sebesar 6.500 MW.

Baca juga: Smelter Nikel di Kolaka Ditargetkan Beroperasi pada 2024



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X