Di Depan Ratu Belanda, Sri Mulyani Paparkan Masalah Kesenjangan Akses Keuangan Perempuan RI

Kompas.com - 09/03/2021, 05:05 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada Sabtu (21/11/2020). BPMI SetpresMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada Sabtu (21/11/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan beberapa permasalahan akses keuangan perempuan di Indonesia.

Hal itu ia ungkapkan dalam acara Women's World Banking virtual Conference. Di dalam acara tersebut, Ratu Belanda Maxima Zorregieta Cerruti turut hadir sebagai pembicara.

Sri Mulyani mengungkapkan, pandemi menyebabkan dampak yang lebih berat bagi perempuan bila dibandingkan dengan laki-laki. Ia mengatakan, sebelum pandemi, perempuan sudah lebih sulit untuk bisa mendapatkan akses terhadap layanan keuangan.

"Mulai dari untuk mendapatkan akses keuangan serta layanan institusi keuangan lain perempuan cenderung kesulitan, di sisi lain merek juga cendedrung memiliki literasi keuangan yang lebih rendah, apalagi bila ditambahkan dengan teknologi digital, mereka jauh lebih tertinggal," ujar Sri Mulyani dalam webinar yang diadakan secara virtual tersebut, Senin (8/3/2021).

Baca juga: Sri Mulyani Ingatkan Wajib Pajak Tak Tunggu Akhir Bulan untuk Lapor SPT Pajak

Ia pun mengatakan, hal itu menjadi tantangan bagi pemerintah yang di masa pandemi Covid-19 menyalurkan bantuan secara tunai melalui transfer perbankan.

Namun demikian ia mengatakan, beragam program pemerintah baik dalam bentuk bansos tunai maupun bantuan berupa Banpres Produktif Ultra Mikro (BPUM) yang ditujukan kepada pelaku UMKM sekaligus menjadi sarana pemerintah membuka akses terhadap layanan keuangan sekaligus edukasi terhadap teknologi digital kepada perempuan.

"Ini tantangan yang kita hadapi. Dan kita mendukung perempuan dengan beragam program yang sudah ada dan tersambung ke bank," ujar Sri Mulyani.

Selain itu, pemerintah saat ini juga tengah berupaya mendirikan sebuah holding BUMN untuk keuangan mikro yang bisa memberikan akses modal kepada 15 juta hingga 28 juta klien.

"Memahami keuangan digital ini yang kita coba lakukan dalam rangka membantu perempuan dari yang awalnya memiliki keterbelakangan akses dibandingkan laki-laki, di sisi lain memanfaatkan situasi Covid-19 agar mereka bisa mengejar ketertinggalan tersebut, dan ini termasuk hal yang paling penting," ujar Sri Mulyani.

Baca juga: Babak Baru Kasus Tunggakan Utang Bambang Trihatmodjo Lawan Sri Mulyani



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X