Bos PTBA Senang, Abu Batu Bura Bukan Lagi Limbah Berbahaya

Kompas.com - 12/03/2021, 18:01 WIB
Ilustrasi PLTU PT TLBIlustrasi PLTU

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bukit Asam (Persero) Tbk atau PTBA buka suara terkait keputusan pemerintah untuk mengeluarkan hasil pembakaran batu bara atau fly ash and bottom ash (FABA) dari daftar limbah kategori bahan berbaya dan beracun (B3).

Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin mengaku kesulitan selama ini untuk mengolah FABA, sebab masih dianggap sebagai limbah yang berbahaya.

"Jadi (penghapusan FABA dari B3) ini kabar baik dan gembira, sehingga FABA bisa dimanfaatkan unuk hal yang bermanfaat," katanya dalam konferensi pers virtual, Jumat (12/3/2021).

Lebih lanjut Arviyan menjelaskan, di berbagai negara maju FABA tidak dianggap sebagai limbah berbahaya, sehingga dapat diolah menjadi produk lain.

Baca juga: Ini Alasan Pemerintah Tak Naikkan Tarif Listrik meski Harga Minyak dan Batu Bara Naik

"Sehingga teknologi untuk menyerap FABA ini sudah berkembang jauh," ujar dia.

Menurutnya, berbagai produk dapat dihasilkan dari FABA, seperti halnya untuk pembangunan bangunan, jalan, ataupun cone block.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk memaksimalkan FABA, PTBA sendiri telah menggunakan teknologi penangkap abu di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dikelola.

"Yang saya pastikan nanti dari hasal FABA bisa kita olah," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengeluarkan limbah batu bara dari kategori limbah B3.

Keputusan itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

PP Nomor 22 Tahun 2021 ini merupakan salah satu turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Baca juga: Harga Batu Bara Acuan Turun Setelah 5 Bulan Menguat, ini Alasannya

Berdasarkan lampiran 14 PP Nomor 22 Tahun 2021 disebut bahwa jenis limbah batu bara yang dihapus dari kategori limbah B3 adalah fly ash bottom ash.

Dengan ketentuan dua jenis limbah itu bersumbrr dari proses pembakaran batu bara pada fasilitas pembangkit listrik tenaga uap PLTU atau dari kegiatan lain yang menggunakan teknologi selain stocker bioiler dan/atau tungku industri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.