KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

Menciptakan Employee Well-being

Kompas.com - 13/03/2021, 08:00 WIB
Dalam krisis pandemi ini, kita memang merasakan semua aspek well-being bisa terpengaruh. ShutterstockDalam krisis pandemi ini, kita memang merasakan semua aspek well-being bisa terpengaruh.

MENS sana in corpore sano adalah ungkapan klasik yang sudah lama kita kenal. Arti ungkapan itu adalah dalam raga yang sehat, terdapat jiwa yang sehat.

Namun, dalam dunia pekerjaan, seringkali fisik dan jiwa yang sehat diletakkan sebagai prioritas yang lebih rendah ketimbang pekerjaan itu sendiri.

Tidak heran bila saat ini, usia kematian semakin lama semakin muda dan banyak orang yang mengalami serangan jantung pada usia muda. Dipacu oleh kesadaran untuk menjaga kesehatan selama masa pandemi, ditambah dengan ketegangan karena keharusan beraktivitas di rumah saja, semakin banyak orang menyadari bahwa kesehatan mental juga perlu dijaga.

Isu well-being tiba-tiba menjadi pembahasan penting, baik di perusahaan-perusahaan raksasa maupun startup yang karyawannya terdiri atas anak-anak muda berusia di bawah 30 tahun.

Well-being adalah perasaan lega dan bahagia mengenai situasi diri sendiri. Sebenarnya, hal ini menyangkut banyak aspek dalam kehidupan individu, antara lain kondisi rumah tangga, hubungan dengan orang lain, pekerjaan, dan aktivitas lainnya.

Baca juga: Waktu Habis Cuma untuk Kerja? Ini 7 Tips Ciptakan Work-Life Balance

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam pekerjaan, well-being sering dikaitkan dengan kesehatan dan keamanan. Saat ini, terminologi well-being sudah digunakan secara meluas dan mencakup bagaimana setiap karyawan bisa mencapai tingkat kesehatan mental maupun fisik yang optimal. Tak hanya itu, kebahagiaan pribadi dan kepuasan kerja juga harus diperoleh.

Perusahaan-perusahaan besar yang modern melakukan pendekatan well-being secara holistik dengan memasukkan aspek gaya hidup ke dalamnya, seperti bersepeda ke kantor atau membuat gerakan tidak merokok. Strategi ini pun sebenarnya tidak cukup.

Hasil penelitian Gallup menyatakan, 76 persen karyawan yang mengalami burn out dilatarbelakangi oleh salah manajemen, beban kerja yang berlebihan atau perlakuan tidak adil dalam pekerjaan.

Konsep well-being yang holistik

Setelah menyadari pentingnya well-being karyawan dan mengupayakannya dalam organisasi, kita perlu bertanya: apakah karyawan merasa bahagia, engaged, lega, dan puas? Semua keadaan ini berhubungan satu sama lain sehingga perlu ditinjau satu per satu.

Ada karyawan yang bahagia, tetapi tidak engaged. Ada karyawan yang kelelahan karena beban kerja yang terlalu berat sehingga tidak bisa menikmati program well-being yang disediakan perusahaannya.

Baca juga: Peran Perusahaan Jaga Kesehatan Mental Karyawan

Sebuah perusahaan marketplace yang terkenal dan hampir menjangkau posisi decacorn memiliki program-program well-being yang canggih dan mewah. Namun, ternyata turnover tetap tinggi karena para karyawan merasa kelelahan dengan jam kerja yang sangat panjang, bahkan hampir tidak mengenal istirahat.

Hal ini berarti program well-being yang dibuat perusahaan tidak bisa mengompensasi beban kerja. Akibatnya, kelegaan dan happiness di tempat kerja pun tidak tercapai.

Program well-being memang harus menciptakan keseimbangan mental sehingga individu dapat mengembangkan potensinya untuk menjadi lebih kreatif, dapat membina hubungan lebih baik dengan orang lain, lebih terampil menanggulangi stres, dan pada akhirnya lebih produktif menciptakan kontribusi yang berarti.

Tiga komponen employee well-being

Di samping pengaturan beban kerja dan penugasan karyawan, ada hal lain yang perlu diperhatikan. Prowell, pencipta metodologi pengukuran well-being mengatakan bahwa employee well-being mencakup tiga kategori besar, yaitu mental, fisik, dan sosial.

Mental terdiri atas kognitif dan emosional. Sementara itu, fisik mempertimbangkan kebugaran, kenyamanan, gizi, dan lingkungan. Pada aspek sosial, belongingness, dan kasih sayanglah yang perlu diperhatikan.

Baca juga: Jaga Kesehatan Karyawan di Tengah Pandemi Covid-19, Perusahaan Ini Siapkan Makanan

Dalam krisis pandemi ini, kita memang merasakan semua aspek well-being bisa terpengaruh, terutama aspek ancaman kesehatan fisik. Untuk itu, program komunikasi mengenai kesehatan sangat penting.

Bekerja jarak jauh juga memengaruhi produktivitas. Ketegangan yang disebabkan perasaan berkontribusi atau tidaknya karyawan dapat memengaruhi suasana kerja serta berdampak pada kesehatan mental dan sosial.

Meluncurkan program well-being

Dalam organisasi, program well-being biasanya dijalankan oleh divisi sumber daya manusia. Pertanyaannya, apakah gerakan ini mendapatkan dukungan penuh dari manajemen puncak? Apakah manajemen puncak bertindak sebagai role model dalam menghadapi krisis ini?

Eileen Rachman.Dok. EXPERD Eileen Rachman.

Para pemimpin tentunya perlu memiliki gambaran yang jelas mengenai keadaan di seluruh organisasi. Kita pun harus rajin melakukan evaluasi, baik berbentuk kualitatif maupun kuantitatif. Kondisi mental dan emosional karyawan bisa berubah sewaktu-waktu dan hal ini perlu cepat dideteksi oleh pengelola program.

Kita bisa membuat survei sederhana yang mempertanyakan, apakah para karyawan melihat perusahaan serius dalam mengelola program well-being ini? Apakah karyawan sendiri juga merasa program ini penting? Selain itu, apakah mereka merasa didukung oleh program ini?

Baca juga: Hanya di Rumah Memengaruhi Kesehatan Mental, Benarkah?

Umpan balik karyawan tidak boleh disepelekan. Manajemen bahkan perlu menciptakan program berdasarkan masukan karyawan.

Sasaran program juga perlu digariskan dengan jelas, realistis, dan jujur. Bila pada kemudian hari ternyata sasaran tersebut tidak terpenuhi, kita pun harus sigap mengubahnya.

Sasaran seperti meningkatkan moral karyawan, retensi, produktivitas, mengurangi absen, serta menciptakan hubungan antar-karyawan yang lebih baik harus digambarkan secara gamblang.

Setiap perusahaan dapat secara spesifik menentukan bagaimana mereka akan membuat program well-being sesuai kebutuhan perusahaan.

Asana, sebuah perusahaan software yang bekerja tidak mengenal waktu, menyediakan nap rooms, tempat karyawannya bisa mendapatkan power naps bila rasa kantuk menyerang.

Nike, perusahaan alat dan pakaian olahraga, melengkapi kantornya dengan kolam renang berukuran olympic lengkap dengan berbagai alat kebugaran. Banyak juga perusahaan yang mewajibkan medical check up rutin bagi karyawannya.

Baca juga: Desain Ruangan Kantor Pengaruhi Kesehatan Karyawan

Microsoft mendorong dan memberikan modal bagi karyawannya untuk peduli pada lingkungan sekitar dalam program Doing Amazing Things.

Hal-hal seperti inilah yang dapat membuat karyawan merasa bahagia, engaged, dan tentunya produktif.

 


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya