Kompas.com - 15/03/2021, 10:40 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani diperiksa suhu tubuhnya saat akan mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) tentang Kebijakan Stimulus ke-2 Dampak COVID-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (11/3/2020). Dalam Rakor tersebut dihasilkan beberapa hal salah satunya mencangkup PPH Pasal 21 yang akan ditanggung Pemerintah untuk industri. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAMenteri Keuangan Sri Mulyani diperiksa suhu tubuhnya saat akan mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) tentang Kebijakan Stimulus ke-2 Dampak COVID-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (11/3/2020). Dalam Rakor tersebut dihasilkan beberapa hal salah satunya mencangkup PPH Pasal 21 yang akan ditanggung Pemerintah untuk industri.


JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut kalangan perempuan atau emak-emak jadi golongan yang paling parah terdampak krisis.

Hal ini diungkapkan Sri Mulyani ketika mengulas salah satu tulisannya dalam buku berjudul “Kita Bukan Sekadar Angka” melalui akun instagram pribadinya.

Sri Mulyani mengawali penjelasannya dengan mengungkap kegemarannya membaca dan menulis. Ia mengaku, sejak dulu suka sekali membaca dan menulis.

“Dari catatan keseharian sederhana sampai data, semua dapat memberi referensi bagi kita,” tulis Sri Mulyani dalam caption unggahannya, dikutip pada Senin (15/3/2021).

Baca juga: Sri Mulyani Berbagi Tips Seimbangkan Peran Wanita Karier, Istri, dan Ibu

Menurutnya, tulisan bisa menjadi tempat menyimpan kenangan, baik yang menyenangkan atau yang tidak. Ia mengaku bisa banyak belajar dari tulisan.

Buku “Kita Bukan Sekadar Angka” sendiri merupakan kumpulan tulisan perempuan di masa pandemi. Sri Mulyani turut menyumbangkan karyanya dalam buku tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Sebagai perempuan, kita memiliki kelebihan dalam hal perencanaan detail dan rasa empati. Modal tersebut membuat para pembuat kebijakan perempuan dapat melihat permasalahan dan solusi secara lebih holistik,” tandas Sri Mulyani, menyampaikan ulasan tulisannya.

Ia menilai, perempuan jadi salah satu pertimbangannya dalam mengambil kebijakan.

Baca juga: Sri Mulyani Rombak Jajaran Pejabat Eselon I Kemenkeu, Ini Daftarnya

Menurutnya, jika meletakkan lensa kebijakan pada perempuan maka efektivitas dan manfaat akan menjadi lebih baik.

“Di masa krisis, perempuan mengalami dampak paling parah pada masa krisis, seperti menanggung banyak biaya merawat keluarga, anak, suami, serta keluarga besar. Itu sebabnya pemberian bantuan kepada perempuan harus menjadi prioritas,” urainya.

Ia melanjutkan, kebijakan berbasis gender dapat dilihat pada Program Keluarga Harapan, bantuan langsung tunai, serta kredit Ultra Mikro yang penerimanya didominasi perempuan.

Baca juga: Menkeu AS Janet Yellen Telepon Sri Mulyani, Bahas Kerja Sama Penyelesaian Isu Global

“Hal ini karena perempuan membelanjakan uang bantuan untuk kepentingan keluarga, anak-anak, dan keluarga besar,” bebernya.

Lebih jauh, ia menilai bahwa upaya untuk mewujudkan kesetaraan yang ideal masih panjang. Karena itu, ia mengajak untuk terus memperjuangkan perspektif gender dalam semua bidang.

“Harapan saya semakin banyak perempuan yang duduk di posisi strategis maka mereka akan membuat kebijakan yang saling mendukung dan menguatkan sesama perempuan. Maukah Anda berjuang bersama?” serunya.

Baca juga: Sri Mulyani Sebut Tingkat Konsumsi 30 Persen Penduduk Termiskin RI Sudah Berangsur Pulih

 



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.