BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Mola

Hadir di Mola Living Live, Gary Vaynerchuk Beberkan Tantangan Menjadi Entrepreneur di Indonesia

Kompas.com - 16/03/2021, 15:27 WIB
Gary Vaynerchuck di Mola Living Live bersama Dino Patti Djalal dan Pandu Sjahrir Mola TVGary Vaynerchuck di Mola Living Live bersama Dino Patti Djalal dan Pandu Sjahrir

KOMPAS.com – Di era modern, kemajuan teknologi mampu memberikan manfaat yang cukup besar bagi kehidupan manusia. Salah satunya adalah meningkatkan kegiatan ekonomi melalui transaksi jual beli digital.

Teknologi digital juga memudahkan pelaku usaha dalam menyajikan data-data serta analisis yang valid dan kredibel.

Disajikan dalam bentuk grafis dan secara real time, analisis serta data dapat membantu pengusaha dalam mengukur proyeksi penjualan dan efektivitas kinerja perusahaan. Dengan begitu, pelaku usaha terbantu dalam menentukan strategi pengembangan bisnis.

Pemanfaatan teknologi digital dilakukan oleh pengusaha asal Amerika Serikat (AS) sekaligus CEO VaynerMedia Gary Vaynerchuk. Ia bahkan sudah memanfaatkan teknologi digital sedari meneruskan bisnis wine milik ayahnya pada 1998.

Sejak masih duduk di bangku kuliah, Gary sudah menyadari bahwa komputer dan internet punya kekuatan untuk membantu memasarkan produk usaha. Hal ini lantas ia terapkan saat mengambil alih bisnis anggur milik ayahnya.

Gary mengganti nama perusahaan milik ayahnya dengan Wine Library. Ia pun meluncurkan penjualan wine secara online melalui situs web winelibrary.com.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Agar penjualan terkerek, pria kelahiran Babruysk, Belarusia, tersebut mengaku rajin mengirim email berisi informasi diskon spesial mingguan dan berbagi rekomendasi anggur favorit kepada pelanggannya.

Lewat strategi pemasaran dan penjualan online, Gary mampu menumbuhkan pendapatan bisnis anggur, dari 3 juta dollar AS menjadi 60 juta dollar AS pada 2003 atau dalam kurun waktu lima tahun.

Mulai saat itu, Gary semakin menekuni digital marketing untuk mengembangkan bisnis. Ia mendirikan kanal Wine Library TV di Youtube pada 2006 agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Kanal ini membahas cita rasa berbagai wine.

Kesuksesan mengembangkan Wine Library membuat Gary memberanikan diri untuk mendirikan perusahaan agensi periklanan digital, VaynerMedia, pada 2009.

Dalam enam tahun, perusahaan yang berbasis di New York, AS, tersebut tercatat telah membantu lebih dari 1.000 merek ternama dunia dalam memasarkan produk. VaynerMedia pun didapuk sebagai salah satu agensi iklan digital berkelas A oleh Ad Age pada 2015.

Setahun kemudian, perusahaan milik Gary itu sudah mengantongi pendapatan 100 juta dollar AS dan mempekerjakan 600 orang. VaynerMedia juga digandeng Vimeo untuk menghubungkan brand dengan pembuat film untuk menciptakan konten digital.

Seiring kesuksesan VaynerMedia, Gary pun mendirikan perusahaan lain, yakni VaynerProductions , Gallery Media Group , The Sasha Group, Tracer, VaynerSpeakers, VaynerTalent dan VaynerCommerce. Perusahaan-perusahaan tersebut bersama VaynerMedia berada di bawah naungan perusahaan induk VaynerX.

Keberhasilan Gary di bidang digital marketing menempatkan dirinya sebagai salah satu pemikir global terkemuka dalam bidang bisnis dan internet.

Gary pun akhirnya mendapat julukan "GaryVee" karena kemampuannya dalam mengenali tren dan pola yang berdampak bagi pasar dan perilaku konsumen.

Tidak mudah

Meski begitu, ia mengatakan, keberhasilan yang ia raih tidak didapat dengan mudah. Terlebih, saat ia masih sangat kecil, keluarganya harus berimigrasi dari Belarusia ke AS.

Masa-masa awal kepindahannya ke AS, kata Gary, merupakan salah satu hal tersulit baginya. Hal tersebut ia ungkapkan saat menjadi bintang tamu di acara Mola Living Live, Jumat (12/3/2021).

“Kami mengalami culture shock saat pertama kali pindah ke sana (AS). Selain itu, kami juga kesulitan membaur karena saat itu (kami) tidak memahami bahasanya. Untuk saya yang saat itu masih sangat kecil, tentu menjadi sebuah tantangan,” ujar Gary dalam acara yang dipandu oleh Dino Patti Djalal dan Pandu Sjahrir tersebut.

Di sisi lain, Gary memandang momen tersebut sebagai berkah. Berbagai kesulitan yang ia hadapi saat itu justru membuatnya menjadi pribadi yang tangguh seperti sekarang.

Demi bertahan hidup sebagai imigran, Gary kecil mencoba menjual limun di pinggir jalan bersama teman-temannya.

Tak disangka, penjualan limun tersebut ternyata mampu memberikan hasil yang cukup besar baginya kala itu. Dari situ, ia menyadari bakatnya sebagai seorang entrepreneur.

“Saya merasa sangat spesial di bidang ini meski saat itu masih berusia tujuh atau delapan tahun. Saat anak lainnya merasa spesial di bidang bernyanyi, olahraga, atau hiburan lainnya, tapi tidak dengan saya. Saat mereka membicarakan hal tersebut (seni dan olahraga), yang terpikirkan oleh saya adalah hanya tentang bagaimana menghasilkan uang,” jelas Gary.

Tantangan menjadi entrepreneur

Pada acara Mola Living Live, Gary juga menjelaskan tantangan menjadi seorang pengusaha, termasuk di Indonesia. Menurutnya, faktor minimnya dukungan dari orangtua menjadi salah satu tantangan bagi mereka yang ingin belajar menjadi seorang entrepreneur.

Gary Vaynerchuck di Mola Living Live bersama Dino Patti Djalal dan Pandu Sjahrir Mola TV Gary Vaynerchuck di Mola Living Live bersama Dino Patti Djalal dan Pandu Sjahrir

“Di Indonesia, orang tua cenderung memaksakan. Dibanding menjadi wirausaha, mereka lebih menginginkan anaknya menjadi pelajar yang teladan. Jelas tidak ada kesinambungan. Untuk menjadi seorang entrepreneur, Anda harus mampu berpikir di luar sistem yang ada,” jelas Gary.

Hal tersebut juga dirasakan Gary ketika baru lulus dari sekolah. Ia mengakui, sistem yang ada di sekolahnya tak membantunya sama sekali untuk mendalami kegemarannya di bidang bisnis.

“Pelajaran yang saya pelajari di sekolah tak membantu sama sekali untuk masa depan. Karena hal itu, setiap semester saya selalu dihukum oleh orangtua (karena dianggap tidak serius bersekolah). Meski begitu, saya tetap percaya diri walaupun tidak didukung siapa pun,” tuturnya.

Gary pun menyadari, hukuman yang diberikan oleh orangtuanya tak bermaksud untuk menghakiminya. Justru sebaliknya, mereka ingin mengajarkan bahwa segala keputusan yang diambil memiliki konsekuensi.

Gary meyakini bahwa orangtuanya ingin melihat kesiapannya atas pilihan yang ia buat. Terutama terkait masa depannya sendiri.

Inilah yang menurut Gary menjadi masalah utama bagi seorang calon entrepreneur di Indonesia berdasarkan interaksinya di media sosial.

“Mereka sangat aktif (di media sosial). Dari situ saya tahu, banyak dari orangtua (yang) masih memikirkan tanggapan orang lain mengenai anaknya. Dan tak seharusnya mereka mendengarkan itu,” sambungnya.

Gary menyayangkan orangtua yang seperti itu sebab bisa saja menghancurkan rasa percaya diri anaknya.

Sebaliknya, ia berharap orangtua mampu mengajarkan anaknya sekalipun hal tersebut tidak diajarkan di sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, Gary juga memberikan motivasi kepada para pengusaha muda yang tengah berjuang di tengah pandemi Covid-19.

“Tujuan dan semangat Anda adalah suatu hal yang rentan (di masa pandemi ini). Saya tidak bisa bilang banyak hal karena itu kembali kepada diri masing-masing. Namun, akan lebih baik, Anda menggali tujuan dan semangat untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain, orangtua, bahkan teman-temanmu," ujarnya.

Sebagai informasi, Mola Living Live merupakan program bincang-bincang interaktif yang digagas Mola TV dan menghadirkan tokoh kenamaan dunia untuk berbagi pengalaman hidup.

Adapun tokoh dunia inspiratif yang pernah diundang Mola TV, yakni Mike Tyson, Sharon Stone, Luc Besson, Darren Aronofsky, Spike Lee, Robert De Niro, Francis F Coppola, John Travolta, dan Oliver Stone.

Acara tersebut juga memberikan kesempatan kepada penonton untuk berinteraksi secara langsung dengan bintang tamu melalui fitur tanya jawab yang disediakan.

Seluruh tayangan program Mola Living Live bisa disaksikan melalui aplikasi Mola TV yang tersedia di App Store dan Play Store atau melalui situs resmi Mola TV dengan klik di sini.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.