Ada Isu Impor Beras di Tengah Panen, Bagaimana Nasib Harga Gabah Petani?

Kompas.com - 17/03/2021, 13:01 WIB
Direktur Utama Bulog, Budi Waseso melakukan kunjungan ke Gudang Bulog di Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (27/2/2020). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIDirektur Utama Bulog, Budi Waseso melakukan kunjungan ke Gudang Bulog di Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (27/2/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan pemerintah untuk membuka keran impor beras sebanyak 1 juta ton di tahun ini menimbulkan polemik.

Salah satunya terkait potensi anjloknya harga gabah petani lokal.

Rencana impor itu diketahui publik saat mulai memasuki masa panen raya pertama tahun ini yang berlangsung sepanjang Maret-April 2021.

Baca juga: Impor Beras Era Megawati hingga Jokowi: Selalu Turun Saat Kampanye

Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah mengatakan, harga gabah di tingkat petani saat ini dalam tren penurunan meski belum memasuki masa puncak panen raya.

Ia mencontohkan, seperti di Kroya, Indramayu, Jawa Barat harga gabah kering panen (GKP) berkisar Rp 3.000-Rp 3.500 per kilogram.

Sementara di Ngawi, Jawa Timur dan Demak, Jawa Tengah harga rata-rata GKP dibawah Rp 4.000 per kilogram.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Adapun harga gabah tersebut berada di bawah acuan harga pembelian pemerintah (HPP) di tingkat petani yang sebesar Rp 4.200 per kilogram.

"Isu impor umumnya telah sampai di tingkat pedagang gabah, dengan kata lain ada indikasi bahwa isu impor turut mempengaruhi harga yg ada," ujar Said kepada Kompas.com, Rabu (17/3/2021).

Baca juga: Ini Alasan Menko Airlangga Cetuskan Ide Impor Beras

Sementara itu, harga beras medium dan premium di tingkat penggilingan pun trennya menurun.

Harga beras medium kini berkisar Rp 8.300-Rp 8.600 per kilogram dari harga nomal di atas Rp 9.000 per kilogram.

Serta harga premium berkisar Rp 8.900-Rp 9.000 per kilogram dari biasanya seharga Rp 9.500 per kilogram.

Said mengatakan, tren penurunan harga saat ini memang turut dipengaruhi masa musim panen.

Terlebih curah hujan yang tinggi membuat kadar air gabah tinggi sehingga kualitasnya menurun dan diikuti penurunan harga.

Baca juga: Balada Impor Beras, Garam, dan Gula, Usai Seruan Jokowi Benci Produk Asing

Namun, isu impor beras dinilai semakin memperburuk keadaan.

Said mengungkapkan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya saat Indonesia masih impor beras, isu tersebut kerap mempengaruhi psikologis pasar.

Termasuk pada para tengkulak dan pengusaha penggilingan yang kemudian membatasi pembelian gabah petani, serta menurunkan harga beli di tingkat petani.

"Dengan harga rendah saat ini saja banyak tengkulak yang tidak mau beli gabah," imbuh dia.

Said mengatakan, penurunan harga gabah petani diperkirakan akan terus berlanjut hingga puncak panen raya. Kondisi ini tentu sangat merugikan bagi petani.

Baca juga: Alasan Petani Tolak Impor Beras: Harga Gabah Murah dan Sulit Laku

"Saat ini belum panen raya, baru sebagian kecil yang panen. Peluang harga terus tertekan dan di bawah HPP akan semakin besar ketika panen raya berlangsung dalam 2-3 minggu ke depan," jelasnya.

Beda Pandangan Bulog dan Kemendag

Pengaruh impor beras terhadap harga gabah petani ditanggapi berbeda antara Perum Bulog dan Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Menurut Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, isu keputusan pemerintah untuk impor beras sebanyak 1 juta ton mulai memberi tekanan terhadap harga gabah petani.

Sebab, rencana ini mencuat di masa-masa panen raya.

"Ini ada panen, berarti ada benturan produksi dalam negeri dengan impor. Ini baru diumumkan saja sekarang dampaknya di lapangan harga di petani sudah drop," ujar Budi dalam rapat dengar pendapat bersama Badan Legislasi DPR, Selasa (16/3/2021).

Baca juga: Buwas Beberkan 2 Menteri Jokowi yang Perintahkan Impor Beras

Di sisi lain, impor beras dinilai akan memberikan beban baru bagi Bulog.

Budi mengatakan, saat ini penyaluran beras dari stok cadangan beras pemerintah (CBP) tidak lancar karena Bulog tak lagi menjadi penyalur beras dalam program bansos rastra.i

Bila dilakukan importasi beras tetapi penyaluran tersendat, artinya ruang penyimpanan Bulog pun semakin terbatas.

Hal ini mempengaruhi beban operasional perusahaan, termasuk ruang untuk Bulog menyerap gabah petani lokal. 

Sementara Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi meyakini, kebijakan impor beras tidak bakal menghancur harga gabah di tingkat petani.

Baca juga: Kementan Bilang Stok Beras Petani Lokal Melimpah Ruah, Kok Impor?

Menurut dia, langkah ini diperuntukan menjaga stok beras nasional dan menstabilkan harga.

Ia menyatakan, pemerintah memerlukan iron stock atau cadangan beras untuk memastikan pasokan terus terjaga.

Stok ini akan dikeluarkan saat ada kebutuhan mendesak seperti bansos ataupun operasi pasar untuk stabilisasi harga.

"(Impor) ini bagian dari strategi memastikan harga stabil. Percayalah tidak ada niat pemerintah untuk hancurkan harga petani terutama saat sedang panen raya," ujar Lutfi dalam konferensi pers virtual, Senin (15/3/2021).

Lutfi mengatakan, meskipun ada kebijakan impor namun harga gabah yang diserap Bulog dari petani nasional tidak akan diturunkan.

Baca juga: Beda Suara Para Bawahan Jokowi Soal Impor Beras

Menurut dia, harga beli di tingkat petani terus dijaga oleh pemerintah dari tahun ke tahun.

"Kalau harga gabah kering giling petani itu diturunkan oleh Bulog, baru itu bagian dari penghancuran harga. Tapi tidak diturunkan dan stabil dari tahun ke tahun," kata dia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.