4 Risiko Ekonomi yang Menghantui Ekonomi Global dan Efeknya ke Indonesia

Kompas.com - 17/03/2021, 16:27 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika melantik pejabat eselon II, III, dan IV Kementerian Keuangan di Jakarta, Jumat (29/11/2019). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika melantik pejabat eselon II, III, dan IV Kementerian Keuangan di Jakarta, Jumat (29/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati membeberkan, tahun ini ada beberapa risiko yang bisa menjadi sentimen negatif atas outlook ekonomi global.

Risiko tersebut antara lain asset bubbles, ketidakstabilan harga termasuk lonjakan harga komoditas, krisis utang, dan risiko geopolitik.

Ekonom Senior Institute Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Eric Sugandi mengatakan, dampak risiko ekonomi global tersebut terhadap ekonomi Indonesia bisa negatif atau positif.

Pertama, melonjaknya harga komoditas energi seperti minyak bisa meningkatkan current account defisit Indonesia dan menurunkan surplus neraca dagang. Sebab, Indonesia adalah net importer energi.

Baca juga: Batas Bawah Dipangkas, Sri Mulyani Optimistis Pertumbuhan Ekonomi

Namun demikian, kenaikan harga komoditas perkebunan seperti minyak sawit atau crude palm oil (CPO) bisa memberikan dampak positif pada Indonesia.

Kedua, asset bubbles yang pecah bisa menyebabkan capital outflows dari emerging markets, termasuk dari Indonesia. Dampaknya ini berisiko menekan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketiga, krisis utang di salah satu emerging market bisa mempunyai efek menular ke negara-negara emerging markets lainnya.

Kata Eric, kreditur dari advanced economies bisa mengurangi komitmen pinjaman mereka ketika negara-negara berkembang membutuhkan dana untuk pemulihan ekonomi.

Keempat, risiko geopolitik yang memang selalu ada, misalnya konflik Laut China Selatan dan Timur Tengah.

Kendati begitu, Eric menilai, ekonomi Indonesia sebetulnya lebih banyak digerakkan oleh faktor domestik daripada oleh faktor eksternal.

Baca juga: BPS: Pertumbuhan Ekonomi RI 2020 Minus 2,07 Persen

 

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga merupakan kontributor produk domestik bruto (PDB) terbesar dan pendorong utama pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

“Jadi di tengah risiko global tersebut, yang mesti dilakukan pemerintah adalah mempercepat momentum pertumbuhan komponen ekonomi domestik terutama konsumsi rumah tangga dan investasi,” kata Eric kepada Kontan.co.id, Rabu (17/3/2021).

Eric memperkirakan, secara umum pertumbuhan ekonomi tahun ini akan lebih baik daripada tahun lalu. Hal ini sejalan dengan tren peningkatan aktivitas ekonomi pasca pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang cenderung lebih ketat di tahun lalu. Proyeksinya ekonomi dalam negeri tumbuh 4,6 persen year on year (yoy).

 

Berita ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: 4 Risiko ekonomi yang menghantui ekonomi global dan efeknya ke Indonesia



Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.