Insentif PPnBM untuk Mobil 2.500 cc, Gaikindo Ingin Syarat TKDN Tidak Sampai 70 Persen

Kompas.com - 18/03/2021, 09:30 WIB
Toyota All New Innova Venturer 2.4 Diesel AT. Kompas.com menguji untuk pemakaian harian. Kompas.com / Setyo AdiToyota All New Innova Venturer 2.4 Diesel AT. Kompas.com menguji untuk pemakaian harian.

JAKARTA, KOMPAS.com - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut baik rencana pemerintah terkait perluasan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada mobil hingga kapasitas mesin 2.500 cc.

Seperti diketahui, saat ini kebijkan diskon PPnBM baru diberikan pada mobil penumpang 4x2, termasuk sedan dengan kapasitas mesin di bawah 1.500 cc.

"Diharapkan lebih banyak jenis kendaraan bermotor yang harganya menjadi terjangkau oleh masyarakat, dengan demikian penjualan dan produksi mobil dapat meningkat," ujar Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto kepada Kompas.com, dikutip Kamis (18/3/2021).

Baca juga: Diskon PPnBM Fortuner-Pajero dkk, Pemerintah Berpihak ke Si Kaya?

Kendati demikian, kata dia, perluasan insentif menghadapi hambatan terkait pemenuhan komponen lokal atau TKDN minimal 70 persen. Sebab, banyak mobil dengan kapasitas 1.500-2.500 cc yang komponen lokalnya masih di bawah 70 persen.

Pemerintah memang menetapkan beberapa syarat untuk jenis mobil yang bisa mendapatkan relaksasi PPnBM. Salah satu pertimbangannya dengan TKDN 70 persen, seperti yang diberlakukan pada mobil berkapasitas di bawah 1.500 cc.

Oleh sebab itu, kata Jongkie, kebijakan insentif PPnBM akan efektif pada mobil 1.500-2.500 cc jika syarat kandungan TKDN-nya di perkecil di bawah 70 persen. Sehingga lebih banyak tipe mobil yang bisa menikmati fasilitas pajak tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kalau kebijakan ini mau efektif sebaiknya diturunkan (TKDN-nya), supaya lebih banyak kendaraan bermotor yang bisa memakai stimulus atau insentif ini, serta penjualan dan produksi bisa lebih cepat meningkatnya," ungkap dia.

Ia mengatakan, insentif PPnBM memang diperlukan untuk mendorong pemulihan industri otomotif setelah tertekan akibat pandemi Covid-19. Lewat insentif ini diharapkan produksi dan penjualan mobil bisa meningkat lagi.

Meskipun pemerintah kehilangan pendapatan dari PPnBM, namun dengan kembali bergeliatnya industri otomotif, menjadi pendorong untuk meningkatkan pemasukan negara dari jenis pajak lainnya di industri ini.

"Maka pendapatan pemerintah dari pajak-pajak lainnya juga akan meningkat, seperti PPN, PPh, BBN-KB, dan PKB," kata Jongkie.

Baca juga: Menperin Kaji Diskon PPnBM Nol Persen untuk Mobil 2.500 cc

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.