Kompas.com - 19/03/2021, 20:31 WIB
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi saat memberikan pengarahan pada Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2021, Kamis (4/3/2021). Dok. KemendagMenteri Perdagangan Muhammad Lutfi saat memberikan pengarahan pada Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2021, Kamis (4/3/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi buka suara terkait rencana pemerintah Indonesia dan pemerintah Thailand meneken perjanjian nota kesepahaman (MoU) impor beras 1 juta ton pada akhir Maret 2021.

Ia menjelaskan, perjanjian tersebut merupakan dasar untuk kedua negara saling pengertian terkait pemenuhan stok beras, khususnya bagi Indonesia.

Bila sewaktu-waktu produksi beras dalam negeri tak mampu memenuhi kebutuhan cadangan beras pemerintah di Bulog, maka akan dilakukan impor beras dari Thailand sesuai kesepakatan.

"Kalau sampai ada apa-apa, kita bisa beli stok dari sana (Thailand). Pengertiannya begitu," ujar Lutfi dalam konferensi pers virtual, Jumat (19/3/2021).

Baca juga: Mendag Lutfi: Saya Jamin Tak Ada Impor Beras Saat Panen Raya

Dengan adanya perjanjian tersebut, Indonesia sudah memiliki kepastian untuk mendapatkan pasokan beras dari Thailand, termasuk dengan kesepakatan harga.

Menurut Lutfi, sekalipun produksi beras lokal diperkirakan cukup tinggi di tahun ini, namun pemerintah melihat ada beberapa hal yang perlu diantisipasi. Terutama terkait rendahnya stok beras cadangan Bulog.

Lutfi menjelaskan, stok beras cadangan Bulog saat ini hanya sekitar 800.000 ton. Sebanyak 275.000 ton dari stok tersebut merupakan beras hasil impor 2018 yang seluruhnya berpotensi mengalami penurunan mutu.

Bila dikurangi dengan jumlah beras sisa impor, maka stok akhir Bulog hanya berkisar 500.000 ton. Ia bilang, ini adalah salah satu kondisi stok beras terendah dalam sejarah Bulog.

Di sisi lain, penyerapan beras oleh Bulog dinilai belum optimal saat panen raya. Hingga Maret 2021 penyerapan baru mencapai 85.000 ton. Padahal Bulog dinilai seharusnya sudah menyerap 400.000-500.000 ton beras.

Lutfi bilang, ada aturan teknis yang memang perlu dipatuhi Bulog dalam membeli beras petani yaitu kadar air maksimal 25 persen. Sementara tingginya curah hujan membuat kualitas beras petani rata-rata memiliki kadar air yang berlebih.

"Nah yang kejadian sekarang adalah hujan, jadi gabah basah, gabah petani itu tak bisa dibeli Bulog," imbuhnya.

Baca juga: MoU Impor Beras Thailand Mau Diteken, Bulog Pilih Fokus Serap Hasil Petani RI

Sementara, Bulog sendiri memiliki penugasan untuk menjaga stok cadangan beras sebesar 1 juta-1,5 juta ton setiap tahunnya. Sebab, setidaknya 1 juta ton beras itu akan dikeluarkan untuk operasi pasar guna stabilisasi harga.

Oleh sebab itu, Lutfi menekankan, pemerintah perlu mengantisipasi untuk kepastian pemenuhan stok beras cadangan. Hal itu dilakukan melalui kebijakan impor dengan menyepakati perjanjian bersama pemerintah Thailand.

"Jadi MoU ini hanya memberikan kesepakatan 'if something happen, i'll call you' (jika terjadi sesuatu dengan stok beras Indonesia, saya akan menghubungi kamu)," kata Lutfi.

Menurutnya, perjanjian ini menguntungkan bagi Indonesia. Pemerintah jadi memiliki kepastian terhadap pasar dalam negeri jika terjadi gejolak harga, sebab ada stok beras yang bisa didapatkan untuk digunakan sebagai intervensi pasar.

Baca juga: Tak Bisa Tolak Impor Beras, Mentan SYL Minta Maaf ke DPR

"Ini untuk memastikan kepada pasar bahwa kita punya cadangan stok yang bisa dibeli. Jadi ini cuma strategi untuk bagaimana kita enggak dipojokan pedagang atau spekulan," kata Lutfi.

Sebelumnya, mengutip pemberitaan Bangkok Post pada Kamis (18/3/2021), Menteri Perdagangan Thailand Jurin Laksanawisit mengungkapkan, perjanjian yang akan diteken kedua negara merupakan kesepakatan antar-pemerintah (G2G).

Isi perjanjiannya adalah terkait pasokan beras asal Thailand ke Indonesia, mencakup tidak lebih dari 1 juta ton beras putih dengan kadar retak 15-25 persen (beras medium).

Perjanjian ini berlaku untuk pasokan impor 1 juta ton beras dalam setahun dengan durasi empat tahun.

Namun demikian, impor beras dari Thailand yang dilakukan Indonesia juga dilakukan dengan syarat tertentu, yakni tergantung produksi beras kedua negara tersebut dan harga beras dunia.

Baca juga: Mengingat Lagi Janji Jokowi Tolak Impor Beras Saat Pilpres

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Makin Berkilau, Harga Emas Antam Melonjak Rp 12.000 Jadi Rp 985.000 Per Gram Hari Ini

Makin Berkilau, Harga Emas Antam Melonjak Rp 12.000 Jadi Rp 985.000 Per Gram Hari Ini

Spend Smart
Krakatau Steel Tambah Modal di Krakatau Posco, Erick Thohir: Perkuat Industri Baja Nasional

Krakatau Steel Tambah Modal di Krakatau Posco, Erick Thohir: Perkuat Industri Baja Nasional

Whats New
Bangun Kafe di Atas Laut, Ekonomi Desa Semare di Pesisir Pasuruan Pun Terangkat

Bangun Kafe di Atas Laut, Ekonomi Desa Semare di Pesisir Pasuruan Pun Terangkat

Rilis
Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Spend Smart
Sri Mulyani Putuskan Harga Pertalite dan Tarif Listrik Subsidi Tak Naik Tahun Ini

Sri Mulyani Putuskan Harga Pertalite dan Tarif Listrik Subsidi Tak Naik Tahun Ini

Whats New
Tahan Harga Pertalite, Kas Pertamina Bisa Tekor Rp 190 Triliun

Tahan Harga Pertalite, Kas Pertamina Bisa Tekor Rp 190 Triliun

Whats New
Serap Ide Masyarakat, IWIP Berikan Alat Tangkap Perikanan kepada 20 Nelayan di Halmahera Timur

Serap Ide Masyarakat, IWIP Berikan Alat Tangkap Perikanan kepada 20 Nelayan di Halmahera Timur

Rilis
IHSG Diprediksi Menguat Jelang Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Sahamnya

IHSG Diprediksi Menguat Jelang Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Sahamnya

Whats New
Bitcoin dkk Menguat, Cek Harga Kripto Hari Ini

Bitcoin dkk Menguat, Cek Harga Kripto Hari Ini

Whats New
Usai Jokowi Resmi Cabut Larangan Ekspor CPO, Organisasi Petani Kelapa Sawit Minta Pembenahan Regulasi di BPDPKS

Usai Jokowi Resmi Cabut Larangan Ekspor CPO, Organisasi Petani Kelapa Sawit Minta Pembenahan Regulasi di BPDPKS

Whats New
Wall Street Berakhir Merah, Investor Masih Lakukan Aksi Jual, Saham–saham Retail Masih Tertekan

Wall Street Berakhir Merah, Investor Masih Lakukan Aksi Jual, Saham–saham Retail Masih Tertekan

Whats New
SPKS Sambut Baik Keputusan Jokowi Cabut Larangan Ekspor Minyak Goreng

SPKS Sambut Baik Keputusan Jokowi Cabut Larangan Ekspor Minyak Goreng

Whats New
Syarat dan Biaya Cabut Berkas Motor Tanpa Calo

Syarat dan Biaya Cabut Berkas Motor Tanpa Calo

Spend Smart
Keran Ekspor CPO dan Minyak Goreng Dibuka Lagi, GAPKI: Terima Kasih, Bapak Presiden

Keran Ekspor CPO dan Minyak Goreng Dibuka Lagi, GAPKI: Terima Kasih, Bapak Presiden

Whats New
E-toll Bakal Diganti MLFF buat Bayar Tol, Bagaimana Nasib Uang Elektronik Perbankan?

E-toll Bakal Diganti MLFF buat Bayar Tol, Bagaimana Nasib Uang Elektronik Perbankan?

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.