KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

Menjadi Pemimpin 2021

Kompas.com - 20/03/2021, 08:01 WIB
Ilustrasi leadership. SHUTTERSTOCK/JirsakIlustrasi leadership.

SEKARANG, kita hidup pada era yang sangat fantastis. Bukan lagi evolusi, melainkan disrupsi. Saat ini, hanya ambiguitas, ketidakjelasan, dan perubahanlah yang pasti.

Kita juga yang bertanggung jawab mengambil kesempatan menggambar masa depan yang berbeda dengan masa lalu. Kita sudah memiliki pandangan luas mengenai keadaan lingkungan, baik alam maupun perkembangan teknologi.

Apa yang kita harapkan pada masa mendatang? Lalu, bagaimana cara kita berusaha mewujudkannya?

Seorang atasan perlu menyambut tantangan ini dengan meningkatkan kapasitasnya dalam menghadapi VUCA yang semakin kental. VUCA merupakan akronim dari volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan kondisi atau era kehidupan yang dihadapkan dengan ketidakpastian.

Menghadapi kondisi seperti itu, kita tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan-pendekatan tradisional yang terbukti tidak mempan lagi.

Baca juga: 4 Kemampuan Wajib untuk Bertahan di Era Disrupsi

Penelitian soal pemimpin di era seperti ini pernah dilakukan oleh Development Dimensions International and The Conference Board pada 2015. Dari 13.124 pemimpin yang disurvei, hanya 18 persen dari mereka yang sudah memimpin dalam kerangka berpikir VUCA.
Jadi, apa yang harus kita garap pada 2021?

Tren 2021

Tak ada yang tak mungkin. Ketika ada disrupsi, di situ ada kesempatan. Bahkan, ketika terjadi kejatuhan sekalipun, kesempatan untuk berbelok arah juga tetap ada.

Saat ini, kita semua berada dalam sistem global yang saling berhubungan dengan sumber daya yang tidak terbatas. Disrupsi terjadi dalam keseharian kita. Perubahan cuaca dan perkembangan virus corona juga terus menerus terjadi.

Saat kita baru saja sedikit ditenangkan dengan vaksin yang mulai disebarluaskan, muncul berita mengenai mutasi virus corona jenis baru. Sebagai pemimpin, kita patut menyadari betapa ketidakseimbangan dan perubahan ini berdampak pada finansial perusahaan kita.

Gonjang-ganjing ekonomi dan operasi perusahaan ini berdampak pada trust, yang dirasakan hampir semua pihak. Apakah itu atasan terhadap bawahan, bawahan terhadap atasan, atau bahkan pelanggan terhadap perusahaan yang sering tidak hadir ketika dibutuhkan. Dalam kondisi tersebut, terjadi semacam erosi kepercayaan.

Baca juga: Dampak WFH, Banyak Orang yang Berminat Tinggal di Luar Jakarta

Hal yang juga sangat jelas terlihat adalah kecepatan. Saat ini, semua orang memiliki paham lain mengenai waktu. Semua kiriman harus datang same day, semua data harus terlihat real time. Servis pun diharapkan untuk bisa diselesaikan dengan lebih cepat. Penundaan tidak dapat ditoleransi lagi. Dunia memang seolah berputar lebih cepat.

Tuntutan karyawan untuk bebas bekerja dari mana saja semakin lama semakin meningkat. Para pemimpinlah yang sekarang tertantang untuk meningkatkan kemampuan, bahkan menambah dan mengganti kapasitasnya agar dapat menanggapi perkembangan yang pesat dan tak terduga ini. Personal agility-nya dituntut dalam setiap aspek kehidupan personal maupun profesional.

Perkembangan drastis

Merujuk pada penelitian yang menyimpulkan bahwa hanya 18 persen pemimpin yang memiliki kualitas pemikiran memadai untuk menyikapi keadaan VUCA, berarti sebagian besar dari mereka masih bertahan pada pendekatan-pendekatan tradisional pradisrupsi.

Bila tidak berhati-hati, hal yang sama bisa saja langgeng. Pemimpin menjadi kurang peka terhadap tuntutan lain yang berkembang di luar. Julie Chesley, Hannah Jones, dan Terri Egan, dalam studinya mengenai pemimpin zaman sekarang menyatakan, gaya neuroleadership yang mendalami pemahaman mengenai kerja otak, pikiran, dan tubuh merupakan pendekatan yang lebih tepat dalam menghadapi tantangan-tantangan saat ini.

Berbeda dengan perkembangan evolusioner yang mengedepankan pengembangan kompetensi-kompetensi yang sudah kita miliki, pendekatan neuroleadership ini mengubah cara pikir dan bertingkah laku kita.

Para ahli mengatakan, pemimpin sekarang perlu berfokus pada SPINE: perkembangan spiritual, physical, intellectual, intuition, dan emotion sekaligus.

Di sini, pemimpin VUCA perlu menjaga semangatnya sendiri agar tidak pernah kendur. Ia perlu tampil di depan para bawahan dengan semangat yang bisa ditularkan. Mereka perlu bersikap fleksibel. Tuntutan bekerja dari rumah ini benar-benar menantang para pemimpin untuk mampu mengatur waktu, energi, dan fokus sesuai dengan keadaan lapangan.

Mengubah paradigma

Selama ini, kita semua sepakat, komunikasi sangatlah penting. Namun, sekarang kita melihat, komunikasi saja tidak cukup bila tidak diiringi dengan empati.

Eileen Rachman.Dok. EXPERD Eileen Rachman.
Kita tidak cukup hanya peduli terhadap hal-hal yang terjadi seputar pekerjaan, tetapi juga perlu memperhatikan seluruh personel bawahan secara pribadi.

Kita perlu menyadari bahwa kita bekerja dengan manusia, bukan robot.

Baca juga: Usai Pandemi, 55,6 Persen Karyawan Pilih Kombinasi WFO dan WFH

Kita juga perlu mengubah cara pandang melihat bawahan dan anggota tim. Kalau dulu kita bisa beranggapan bahwa mereka bekerja untuk kita, sekarang, kita perlu membalik persepsi.

Kini, kitalah yang bekerja untuk mereka dan melayani mereka.

Bila dulu emotional intelligence sudah kita anggap cukup, sekarang seorang pemimpin tangguh harus juga dapat memanfaatkan emotional agility-nya.

Bila awareness dan kontrol diri para pemimpin dulu dianggap sasaran penguasaan emosional, sekarang, para pemimpin harus gesit dalam memahami intensi tindakan orang lain, serta dampak seperti apa yang diharapkan mereka.

Intensi dan dampak haruslah jelas sehingga pemimpin bisa mengarahkan dirinya sesuai dengan keadaan sosial emosional yang dihadapinya. Bersamaan dengan situasi ini, pemimpin juga perlu menunjukkan respek pada setiap orang yang ditemuinya, termasuk bawahan. Pemimpin otoriter yang zaman dulu dapat diterima dan masih bisa dimaafkan, sekarang terlihat sangat kuno.

Bila dulu pemimpin berfokus pada efisiensi dan manajemen waktu, sekarang, segala sesuatu juga perlu dikaitkan dengan konteks keberadaannya serta big picture visi misi yang ingin dicapai.

Pada saat bekerja jarak jauh, kita tidak bisa menerapkan apa yang biasa kita lakukan di kantor langsung pada kegiatan work from home. Konteks kita sudah berubah. Karenanya, desain manajemen kerja perlu diatur sesuai dengan keadaan spiritual, fisik, intelektual, intuisi, dan emosi seluruh manusia yang berada dalam organisasi.

Kini, tidaklah cukup bila pemimpin hanya memberikan sasaran saja tanpa gambaran yang jelas mengapa dan bagaimana kita dapat mencapainya bersama-sama. Get your team on board with your vision — don’t force it.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Alamat BNI, BRI, BTN dan Mandiri untuk Tukar Uang Baru di Surabaya dan Sekitarnya

Alamat BNI, BRI, BTN dan Mandiri untuk Tukar Uang Baru di Surabaya dan Sekitarnya

Whats New
Erick Thohir Ajak Milenial Buka Lapangan Kerja Agar Tak Bergantung Pemerintah

Erick Thohir Ajak Milenial Buka Lapangan Kerja Agar Tak Bergantung Pemerintah

Whats New
Industri Tambak Udang di Bangka Menggeliat, Permintaan Listrik Ikut Melonjak

Industri Tambak Udang di Bangka Menggeliat, Permintaan Listrik Ikut Melonjak

Whats New
Di Wilayah Ini, Harga Cabai, Bawang, Daging Sapi, Ayam, dan Telur Mulai Naik

Di Wilayah Ini, Harga Cabai, Bawang, Daging Sapi, Ayam, dan Telur Mulai Naik

Whats New
Alamat BCA dan Bank Swasta Lain di Jabodebek untuk Tukar Uang Baru

Alamat BCA dan Bank Swasta Lain di Jabodebek untuk Tukar Uang Baru

Whats New
Erick Thohir Sebut Perekonomian Indonesia Mampu Tumbuh 7 Persen, ini Alasannya

Erick Thohir Sebut Perekonomian Indonesia Mampu Tumbuh 7 Persen, ini Alasannya

Whats New
Erick Thohir: Apartement untuk Generasi Milenial akan Segera Hadir

Erick Thohir: Apartement untuk Generasi Milenial akan Segera Hadir

Whats New
Banyak Negara Batasi Ekspor Vaksin Covid-19, Erick Thohir Fokus Pengadaan dari Dalam Negeri

Banyak Negara Batasi Ekspor Vaksin Covid-19, Erick Thohir Fokus Pengadaan dari Dalam Negeri

Whats New
Dua Kandidat Utama Pengelola TMII, Taman Wisata Candi yang Terkuat

Dua Kandidat Utama Pengelola TMII, Taman Wisata Candi yang Terkuat

Whats New
Baru Diblokir, Website Baru Binomo Sudah Muncul Lagi

Baru Diblokir, Website Baru Binomo Sudah Muncul Lagi

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Berburu Takjil Berbuka | Tantangan Berpuasa di Eropa | Referensi Menu Berbuka

[POPULER DI KOMPASIANA] Berburu Takjil Berbuka | Tantangan Berpuasa di Eropa | Referensi Menu Berbuka

Rilis
Visi Bisnis Gojek dan Tokopedia, Visi Anda Apa?

Visi Bisnis Gojek dan Tokopedia, Visi Anda Apa?

Whats New
Kalahkan Jeff Bezos, Elon Musk Menangkan Kontrak Bangun Roket dari NASA

Kalahkan Jeff Bezos, Elon Musk Menangkan Kontrak Bangun Roket dari NASA

Whats New
Proses Perizinan dan Pengadaan Lahan Habiskan 50 Persen Total Waktu Pengembangan Hulu Migas

Proses Perizinan dan Pengadaan Lahan Habiskan 50 Persen Total Waktu Pengembangan Hulu Migas

Whats New
Lokasi Tukar Uang untuk Lebaran Wilayah Jabodebek di BTN dan Mandiri

Lokasi Tukar Uang untuk Lebaran Wilayah Jabodebek di BTN dan Mandiri

Whats New
komentar di artikel lainnya