Kompas.com - 20/03/2021, 14:36 WIB
Aliansi Nelayan Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) menolak kehadiran kapal-kapal Cantrang yang saat ini mulai marak di Perairan Naruna, Kepri. Mirisnya lagi kapal-kapal yang berasal dari pantura ini melakukan tangkapan menggunkan cantrang dibawah 12 mil laut. DOK NELAYAN NATUNAAliansi Nelayan Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) menolak kehadiran kapal-kapal Cantrang yang saat ini mulai marak di Perairan Naruna, Kepri. Mirisnya lagi kapal-kapal yang berasal dari pantura ini melakukan tangkapan menggunkan cantrang dibawah 12 mil laut.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menangkap empat unit kapal ikan cantrang yang melanggar ketentuan operasional di Selat Makassar.

Sekretaris Jenderal KKP yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal PSDKP Antam Novambar menjelaskan bahwa penangkapan keempat kapal tersebut dilakukan oleh KP Hiu 07 pada Kamis (18/3/2021).

Dalam gelar operasi yang dilakukan di WPPNRI 713 tersebut, KP Hiu 07 mengamankan KM Bagus Mina Barokah (118 GT), KM Hasil Mina Yanfauna (59 GT), KM Indi-1 (67 GT) dan KM Puji Manunggal Sejati (88 GT) yang diketahui beroperasi di Jalur II. Jalur II merupakan lokasi penangkapan ikan nelayan di bawah muatan 30 gross tonnage (GT).

Baca juga: KKP: Pemburu Harta Karun Asing Incar Kapal Flor de la Mar yang Tenggelam di Selat Malaka

"Kami mengonfirmasi penangkapan empat kapal cantrang di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 713 Selat Makassar," ujar Antam melalui keterangan tertulis, Sabtu (20/3/2021).

Antam menambahkan, keempat kapal tersebut diketahui pernah melakukan praktik penurunan bobot kapal.

Berdasarkan pemeriksaan dokumen di atas kapal diketahui bahwa kapal-kapal tersebut telah dilakukan pengukuran ulang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Upaya penertiban terhadap nelayan cantrang yang melakukan pelanggaran tersebut merupakan langkah preventif agar tidak semakin meningkatkan gesekan dan eskalasi konflik dengan nelayan setempat.

Saat ini keempat kapal tersebut telah di-ad hoc ke Satwas SDKP Kota Baru, Kalimantan Selatan.

Baca juga: KKP Blak-blakan Harta Karun Bawah Laut Sering Dicuri Asing

"Kapal-kapal ini pernah melakukan manipulasi GT kapalnya," ujar Antam.

Sementara itu, Direktur Pemantauan dan Operasi Armada, Pung Nugroho Saksono mengatakan, praktik manipulasi penurunan bobot kapal atau mark down tersebut masih banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Oleh sebab itu, pentingnya dilakukan penertiban terhadap praktik manipulasi ukuran kapal karena menyebabkan hilangnya potensi pendapatan negara di sektor perikanan.

"Praktik mark down ini perlu untuk segera ditertibkan," kata Ipunk.

Selain itu, ia menyoroti praktik penerbitan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) oleh pemerintah daerah di luar wilayah yurisdiksi sebagai salah satu potensi gesekan horizontal antarnelayan.

Baca juga: Tak Sudi Diburu Asing, KKP Ingin Harta Karun Bawah Laut Dikelola Negara

Hal ini sesuai dengan hasil operasi Kapal Pengawas Perikanan yang banyak menemukan kapal yang Daerah Penangkapan Ikannya (DPI) di luar wilayah pemerintah daerah yang menerbitkan SIPI-nya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Inilah para Pemenang Kompasiana Awards 2021

Inilah para Pemenang Kompasiana Awards 2021

Rilis
Perdagangan Internasional: Definisi Ekspor Impor dan Faktor Pendorong

Perdagangan Internasional: Definisi Ekspor Impor dan Faktor Pendorong

Whats New
50 Tahun Menikah, Luhut Beberkan Tips Pernikahan Awet

50 Tahun Menikah, Luhut Beberkan Tips Pernikahan Awet

Whats New
Ketika Mata Uang China Laris Manis dan Resmi Berlaku di Era Majapahit

Ketika Mata Uang China Laris Manis dan Resmi Berlaku di Era Majapahit

Whats New
BNI Smart City Hadir di Surakarta, Apa Saja yang Ditawarkan?

BNI Smart City Hadir di Surakarta, Apa Saja yang Ditawarkan?

Rilis
Menhub Minta Layanan di Pelabuhan Tanjung Priok Dipercepat, Ini Caranya

Menhub Minta Layanan di Pelabuhan Tanjung Priok Dipercepat, Ini Caranya

Whats New
Di Kompasianival 2021 Gita Wirjawan Berikan Catatan agar Ekonomi dan UMKM Membaik

Di Kompasianival 2021 Gita Wirjawan Berikan Catatan agar Ekonomi dan UMKM Membaik

Rilis
Kapal KM Bandar Lestari Terbakar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Ini Penjelasan Kemenhub

Kapal KM Bandar Lestari Terbakar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Ini Penjelasan Kemenhub

Whats New
Anak Usaha Krakatau Steel Ingin Perluas Usaha ke Kawasan Industri Medan

Anak Usaha Krakatau Steel Ingin Perluas Usaha ke Kawasan Industri Medan

Rilis
Bertemu dengan Dubes Hungaria, Sandiaga Uno Bahas Peluang Kerja Sama Sektor Perfilman

Bertemu dengan Dubes Hungaria, Sandiaga Uno Bahas Peluang Kerja Sama Sektor Perfilman

Rilis
Maman Suherman dan 'Mice' Ceritakan Kebahagiaan saat Kolaborasi 'Bahagia Bersama' di Kompasianival 2021

Maman Suherman dan "Mice" Ceritakan Kebahagiaan saat Kolaborasi "Bahagia Bersama" di Kompasianival 2021

Rilis
Perkuat Aksi Iklim, RI dan Korea Selatan Perluas Kerja Sama

Perkuat Aksi Iklim, RI dan Korea Selatan Perluas Kerja Sama

Rilis
Mengapa Negara Singapura Lebih Berfokus pada Perdagangan dan Industri?

Mengapa Negara Singapura Lebih Berfokus pada Perdagangan dan Industri?

Whats New
Dampak Negatif Perdagangan Internasional dan Langkah Mengatasinya

Dampak Negatif Perdagangan Internasional dan Langkah Mengatasinya

Whats New
Bagaimana Aturan dan Cara Menghitung Gaji Part Time?

Bagaimana Aturan dan Cara Menghitung Gaji Part Time?

Work Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.