Bagaimana Peluang IHSG Hari Ini, Simak Rekomendasi Sahamnya

Kompas.com - 22/03/2021, 08:10 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melemah pada Senin (22/3/2021). Sebelumnya IHSG ditutup positif dengan kenaikan 0,13 persen pada level 6.356,16.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, secara teknikal IHSG membentuk candle dengan body naik dan shadow di atas indikasi kekuatan naik. Namun, munculnya kebijakan yang tidak bersahabat dari The Fed bisa menahan penguatan IHSG.

“IHSG berpeluang konsolidasi melemah, pidato yang di sampaikan para pejabat The Fed akan mempengaruhi arah pergerakan pasar saham global dan regional,” kata Hans dalam rekomendasinya Minggu (22/3/2021).

Baca juga: Apa Itu IHSG? Ini Pengertian, Manfaat, dan Cara Hitungnya

Menurut Hans, sentimen kebijakan Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menjadi faktor penggerak pasar. Hal ini terjadi setelah Gubernur Federal Reserve Jerome Powell menginsyaratkan untuk membiarkan pergerakan inflasi dan potensi ekonomi panas demi pulihnya pasar tenaga kerja dan perekonomian.

“Pasar obligasi bereaksi cukup kuat terhadap komentar pejabat bank sentral AS dalam beberapa sepekan terakhir. Aksi jual besar terjadi dalam obligasi yang seiring dengan lonjakan suku bunga (yield). Pelaku pasar bereaksi terhadap pidato Powell tersebut,” kata Hans.

The Fed menolak untuk memperpanjang aturan pelonggarkan rasio leverage tambahan untuk bank selama pandemi, yang mana aturan ini mengijinkan bank untuk menahan modal lebih sedikit terhadap Treasury AS dan kepemilikan lainnya diterapkan untuk menenangkan pasar obligasi selama krisis dan mendorong bank untuk memberikan pinjaman.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Berakhirnya aturan ini bisa berefek buruk jika bank terpaksa menjual sebagian dari kepemilikan Treasury untuk memenuhi aturan itu. Ini bisa mendorong naiknya Yield lebih cepat yang selama ini sudah membuat takut investor,” jelas dia.

Dampak kebijakan The Fed ini terlihat dengan harga saham bank di bursa Ameriak Serikat yang banyak dilepas. Ada ketakutan, beberapa bank mungkin menolak memberikan pinjaman karena kesulitan menyisihkan lebih banyak modal dan mulai menjual Treasury AS.

Baca juga: Apa Itu Indeks LQ45 dan KOMPAS100

Imbal hasil (Yield) obligasi AS yang sempat turun kembali naik ke level tinggi akibat pengumuman ini. Imbal hasil Treasury 10 Year sempat naik ke 1,74 persen, setelah sebelumnya di level 1,73 persen. Padahal Yield 10 Year bond US di awal tahun masih di level 0,93 persen atau di bawah 1 persen.

“Nampaknya kebijakan The Fed ini akan menganggu pasar keuangan global termasuk negara berkembang. IHSG dan indeks regional kami perkirakan berpotensi terkoreksi di awal pekan menyusul kebijakan tidak bersahabat dari The Fed,” tambah dia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.