PLN Tidak Terima Penghematan Biaya Akibat Harga Batu Bara Anjlok, ini Alasannya

Kompas.com - 22/03/2021, 19:09 WIB
Ilustrasi listrik PLN dok PLNIlustrasi listrik PLN

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga batu bara acuan mengalami tekanan sepanjang tahun 2020 akibat pandemi Covid-19.

Ini kemudian membuat PT PLN (Persero) tidak mendapatkan penghematan biaya batu bara.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, selama ini, PLN sebagai penyedia tenaga listrik untuk kepentingan umum mendapatkan harga batu bara khusus yakni sebesar 70 dollar AS per metrik ton.

Baca juga: Gunakan Abu Batu Bara, PLN Renovasi Rumah Warga di Sekitar PLTU

Ini sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 255.K/30/MEM/2020.

Namun, sepanjang tahun lalu rata-rata harga batu bara acuan berada di bawah 70 dollar AS per metrik ton. Dengan demikian, PLN tidak mendapatkan penghematan biaya.

"Selama tahun 2020 harga batubara relatif lebih rendah dari capping harga 70 dollar AS per ton sehingga tidak ada penghematan biaya," kata Arifin dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Senin (22/3/2021).

Padahal, pada tahun 2018 dan 2019, PLN menerima penghematan biaya yang cukup besar akibat kebijakan tersebut.

Tercatat, sepanjang tahun 2018 rata-rata harga batu bara acuan sebesar 99 dollar AS per ton dan pada tahun 2019 sebesra 77,9 dollar AS per ton.

Baca juga: Ini Alasan Pemerintah Keluarkan Abu Batu Bara PLTU dari Daftar Limbah Berbahaya

"Pemerintah menetapkan kebijakan harga batu bara untuk pembangkit kepentingan umum dipatok 70 dollar AS per metrik ton, sehingga terjadi penghematan biaya pembagkitan masing-masing untuk tahun 2018 kurang lebih Rp 17,9 triliun dan tahun 2018 kurang lebih Rp 11 triliun," tutur Arifin.

Harga batu bara acuan khusus pembangkit kepentingan umum disebut tidak dapat ditetapkan pada level di bawah 70 dollar AS per metrik ton.

Pasalnya, ini diproyeksi dapat menimbulkan dampak negatif terhadap pasokan batu bara dalam negeri.

"Ini diperkirakan akan terjadi potensi kecenderungan ekspor yang menimbulkan kelangkaan batu bara dalam negeri," ujar dia.

Baca juga: Abu Batu Bara PLTU Bukan Lagi Limbah Berbahaya, Pemerintah: Ini Bukan Ikut-ikutan Negara Lain

Semenjak awal tahun 2021, rata-rata harga batu bara acuan telah menunjukan tren pemulihan, dan berhasil menembus level 70 dollar AS per metrik ton.

Dengan demikian, PLN diharapkan dapat kembali menerima penghematan biaya batu bara.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Realisasi Investasi 2021 Rp 901,2 Triliun, Bahlil: Lampaui Target dari Perintah Presiden

Realisasi Investasi 2021 Rp 901,2 Triliun, Bahlil: Lampaui Target dari Perintah Presiden

Whats New
Sasar Proyek Grup Waskita hingga IKN, WSBP Target Kontrak Baru 2022 Tumbuh 30 Persen

Sasar Proyek Grup Waskita hingga IKN, WSBP Target Kontrak Baru 2022 Tumbuh 30 Persen

Rilis
Kabar Gembira, Pemerintah Perpanjang Insentif PPh Final UMKM

Kabar Gembira, Pemerintah Perpanjang Insentif PPh Final UMKM

Whats New
'Emak-emak' Mengeluh Sulit Dapat Minyak Goreng Murah di Ritel Modern, Kemendag Ungkap Penyebabnya

"Emak-emak" Mengeluh Sulit Dapat Minyak Goreng Murah di Ritel Modern, Kemendag Ungkap Penyebabnya

Whats New
IHSG Ditutup Menguat 0,16 Persen, Rupiah Justru Melemah

IHSG Ditutup Menguat 0,16 Persen, Rupiah Justru Melemah

Whats New
Minyak Goreng Rp 14.000 Langka, Pengusaha Ritel Sentil Produsen dan Distributor

Minyak Goreng Rp 14.000 Langka, Pengusaha Ritel Sentil Produsen dan Distributor

Whats New
Biaya, Syarat, dan Cara Mengurus STNK Hilang atau Rusak di Samsat

Biaya, Syarat, dan Cara Mengurus STNK Hilang atau Rusak di Samsat

Whats New
Salurkan Kredit ke Sektor Prioritas, Bank Akan Dapat Insentif

Salurkan Kredit ke Sektor Prioritas, Bank Akan Dapat Insentif

Whats New
Transaksi Belanja di Malaysia dan Thailand Bisa Pakai QRIS

Transaksi Belanja di Malaysia dan Thailand Bisa Pakai QRIS

Whats New
Omicron Melonjak, Sri Mulyani: Ini Akan Jadi Perhatian agar Tak Pengaruhi Pemulihan Ekonomi

Omicron Melonjak, Sri Mulyani: Ini Akan Jadi Perhatian agar Tak Pengaruhi Pemulihan Ekonomi

Whats New
OJK Ingatkan, Hati-hati jika Ada Pinjol Ilegal 'Catut' Nama OJK

OJK Ingatkan, Hati-hati jika Ada Pinjol Ilegal "Catut" Nama OJK

Spend Smart
Perluas Layanan QRIS ke Negara Tetangga, BI Gandeng Bank Negara Malaysia

Perluas Layanan QRIS ke Negara Tetangga, BI Gandeng Bank Negara Malaysia

Whats New
Tingkat Utang RI Naik 10,8 Persen, Sri Mulyani: Lebih Baik Dibanding Negara Berkembang Lain

Tingkat Utang RI Naik 10,8 Persen, Sri Mulyani: Lebih Baik Dibanding Negara Berkembang Lain

Whats New
Targetkan 10 Juta Pohon, Mentan: Alhamdulillah, Kopi Indonesia Sangat Diminati...

Targetkan 10 Juta Pohon, Mentan: Alhamdulillah, Kopi Indonesia Sangat Diminati...

Whats New
Bank Indonesia Prediksi The Fed Naikkan Fed Fund Rate 4 Kali di Tahun Ini

Bank Indonesia Prediksi The Fed Naikkan Fed Fund Rate 4 Kali di Tahun Ini

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.