Ekonom Indef: Saat Ini, Jokowi Wariskan Utang Rp 8.000 Triliun

Kompas.com - 24/03/2021, 16:37 WIB
Pendiri INDEF Didik J Rachbini KOMPAS.com / DANI PRABOWOPendiri INDEF Didik J Rachbini

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom senior Institute for Develompent of Economic and Finance (Indef) Didik J Rachbini memaparkan perjalanan utang Indonesia dari masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke masa Presiden Joko Widodo.

Menurut Didik, di akhir masa jabatan pada 2014 lalu, SBY mewariskan utang sebesar Rp 2.700 triliun. Di periode Jokowi, utang itu melonjak drastis.

“Pada waktu SBY terkahir memimpin beralih ke Jokowi utangnya itu sekitar Rp 2.700 triliun. Bu Sri Mulyani kemarin melihat datanya sendiri Rp 6.336 triliun. Jadi (naik) 150 persen dalam waktu hanya 5-6 tahun, utang selama puluhan tahun di-by pass lebih dari dua kali lipat,” ujar Didik dalam sebuah diskusi virtual, Rabu (24/3/2021).

Baca juga: Terus Melonjak, Total Utang Pemerintah Capai Rp 6.361 Triliun

Didik menambahkan, utang tersebut belum ditambahkan utang-utang milik BUMN.

Berdasarkan data yang diperolehnya, posisi utang BUMN di luar utang tabungan dan deposito berada dikisaran Rp 2.100 triliun.

“Jadi kalau ditambah Rp 6.300 triliun, jadi Presiden Jokowi itu mewariskan sekarang Rp 8.000 triliun utang. Ini suatu prestasi yang besar dan ini perlu dicermati,” kata dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di masa Presiden SBY, lanjut Didik, utang perusahaan pelat merah hanya berkisar Rp 500 triliun. Saat ini, utang tersebut telah bertambah banyak.

“Jadi sekarang BUMN itu tumpukan utang, sangat banyak. Kalau BUMN diberikan mandat, main embat aja, perkara resikonya urusan belakangan. Kita siap-siap saja presiden berikutnya menerima tumpukan utang yang sangat besar,” ungkapnya.

Baca juga: Sri Mulyani Keluhkan Kerap Dapat SMS Penawaran Utang

Didik pun menilai saat ini peran DPR dalam mengontrok utang pemerintah telah dikerdilkan. Pasalnya, pemerintah menaikan defisit utang DPR tak bergeming.

Di masa lalu, pelebaran defisit APBN dari 1 persen ke 2 persen perlu melalui perdebatan yang panjang. Saat ini, kata Didik, defisit APBN mencapai 45 persen.

“Sekarang semau-maunya, sampai defisitnya 45 persen. Mau utang berapa saja silahkan. Itu sekarang kita membayar bunganya saja Rp 330 triliun, ditambah pokoknya, sehingga kita membayar utang dalam satu tahun itu sangat besar Rp 700-800 triliun,” ucap dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.