Sri Mulyani Waspadai Gelombang Ketiga Penularan Covid-19 di Eropa dan Risiko Pembatasan Suplai Vaksin

Kompas.com - 25/03/2021, 14:28 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada Sabtu (21/11/2020). BPMI SetpresMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada Sabtu (21/11/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai gelombang tiga pandemi Covid-19 yang sedang terjadi di beberapa wilayah di Eropa.

Imbas gelombang ketiga penularan tersebut, beberapa negara di Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Italia kembali melakukan penguncian wilayah atau lockdown untuk menghambat angka penularan.

Di sisi lain, lonjakan jumlah kasus tersebut membuat kebutuhan akan vaksin di beberapa wilayah Eropa juga melonjak sehingga terjadi keterbatasan suplai.

Baca juga: 16 Juta Dosis Vaksin Sinovac Datang Lagi, Sri Mulyani: Menambah Confidence Jumlah Vaksinasi di Berbagai Daerah

Hingga akhirnya, muncul wacana otoritas kawasan tersebut untuk melakukan pembatasan suplai atau pengiriman vaksin ke wilayah lain di dunia.

"Eropa ini yang paling struggle dari sisi akses terhadap vaksin yang jauh tertinggal dibandingkan Inggris dan Amerika Serikat. Sehingga mereka sedang mempertimbangkan untuk membuat aturan perundang-undangan untuk mengurangi atau melarang suplai vaksin keluar dari Eropa," jelas Sri Mulyani dalam acara Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional, Kamis (25/3/2021).

Ia pun mencontohkan ketika Komisi Eropa sempat melarang pengiriman vaksin AstraZeneca kepada Australia beberapa waktu lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, ia menjelaskan, karena Indonesia dianggap sebagai negara berkembang, maka Indonesia cukup beruntung dan tetap mendapatkan akses terhadap vaksin tersebut.

"Jadi sesama negara maju mereka saling melakukan proteksi untuk vaksin mereka sendiri. Jadi ini sesuatu yang harus kita waspadai yaitu mengenai jumlah vaksin dan dari sisi munculnya gelombang ketiga di Eropa," jelas Sri Mulyani.

Baca juga: Erick Thohir: 50.000 Orang Telah Disuntik Vaksin di Sentra Vaksinasi BUMN

Ia menambahkan, masyarakat Indonesia tetap harus waspada dengan menerapkan protokol kesehatan agar jumlah penularan kasus Covid-19 bisa terus ditekan.

Meski di sisi lain, muncul optimisme akibat vaksinasi yang terus dipercepat dan diperluas jangkauannya.

"Sehingga tidak muncul lagi dilema rem dan gas seperti yang selama ini terjadi, karena rem dan gas ini kalau terjadi kenaikan jumlah Covid-19 memaksa negara-negara melakukan rem persis seperti yang terjadi sekarang di Eropa, supaya hal itu terjadi di kita terutama di kuartal II ini," ujar Sri Mulyani.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.